Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label burung puyuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label burung puyuh. Tampilkan semua postingan

Usaha Beternak Burung Puyuh Makin Diminati



KODAR SOLIHAT/"PRLM"
KODAR SOLIHAT/"PRLM"
PETERNAK burung puyuh kini kembali bergairah menekuni usahanya. Sementara harga jual telur burung puyuh pun cenderung stabil.*
CIANJUR, (PRLM).-Minat sejumlah masyarakat pedesaan di Kabupaten Cianjur bagian Selatan untuk beternak burung puyuh mengalami kegairahan sejak setahun terakhir. Perkembangan ini menyusul meningkatnya pangsa pasar komoditas tersebut ke pasar Jakarta dan sekitarnya, sehingga harga telur burung puyuh relatif stabil baik kepada para peternak.
Peternak burung puyuh dari Kecamatan Campaka, Cianjur, Eman, Jumat (14/5) mengatakan, perkembangan ini tak terlepas dari serapan konsumen yang menggemari keragaman menu makanan berbahan telur puyuh. Selain itu, makan telur puyuh kembali menjadi keunikan, karena ukurannya kecil dan rasanya gurih.
Beberapa peternak lain, mengatakan melihat adanya tren di kalangan anak muda yang senang bepergian, yang belakangan banyak membawa bekal telur puyuh. Makan burung puyuh rebus dirasakan praktis dimakan, misalnya sambil camping, atau dibakar membuat sate telur.
Oleh sejumlah pedagang asong, telur puyuh sering dijual Rp 1.000,00/lima butir, sedangkan dalam bentuk kemasan, sering dijual Rp 6.000,00-8.500,00/kemasan plastik. Beberapa karyawan toko ritel mengatakan, permintaan telur puyuh relatif stabil, namun pada waktu-waktu tertentu sering meninggi. (A-81/kur) ***

cara Budidaya burung puyuh

Berikut ini adalah serba-serbi budidaya burung puyuh dimulai dengan sejarah singkat burung puyuh, sentra  budidaya burung puyuh, jenis-jenis burung puyuh, manfaat burung puyuh, persyaratan lokasi budidaya burung puyuh,  pedoman teknis budidaya burung puyuh, hama dan penyakit burung puyuh dan lain-lain.


1. SEJARAH SINGKAT


Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang, ukuran tubuh relatif kecil, berkaki pendek dan dapat diadu. Burung puyuh disebut juga Gemak (Bhs. Jawa-Indonesia). Bahasa asingnya disebut “Quail”, merupakan bangsa burung (liar) yang pertama kali diternakan di Amerika Serikat, tahun 1870. Dan terus dikembangkan ke penjuru dunia. Sedangkan di Indonesia puyuh mulai dikenal, dan diternak semenjak akhir tahun 1979. Kini mulai bermunculan di kandang-kandang ternak yang ada di Indonesia.


2. SENTRA PERIKANAN


Sentra Peternakan burung puyuh banyak terdapat di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah


3. JENIS


Kelas : Aves (Bangsa Burung)


Ordo : Galiformes


Sub Ordo : Phasianoidae


Famili : Phasianidae


Sub Famili : Phasianinae


Genus : Coturnix


Species : Coturnix-coturnix Japonica


4. MANFAAT


   1. Telur dan dagingnya mempunyai nilai gizi dan rasa yang lezat

   2. Bulunya sebagai bahan aneka kerajinan atau perabot rumah tangga lainnya

   3. Kotorannya sebagai pupuk kandang ataupun kompos yang baik dapat digunakan sebagai pupuk tanaman


5. PERSYARATAN LOKASI


   1. Lokasi jauh dari keramaian dan pemukiman penduduk

   2. Lokasi mempunyai strategi transportasi, terutama jalur sapronak dan jalur-jalur pemasaran

   3. Lokasi terpilih bebas dari wabah penyakit

   4. Bukan merupakan daerah sering banjir

   5. Merupakan daerah yang selalu mendapatkan sirkulasi udara yang baik.


6. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA


   1. Penyiapan Sarana dan Peralatan

         1. Perkandangan

            Dalam sistem perkandangan yang perlu diperhatikan adalah temperatur kandang yang ideal atau normal berkisar 20-25 derajat C; kelembaban kandang berkisar 30-80%; penerangan kandang pada siang hari cukup 25-40 watt, sedangkan malam hari 40-60 watt (hal ini berlaku untuk cuaca mendung/musim hujan). Tata letak kandang sebaiknya diatur agar sinar matahari pagi dapat masuk kedalam kandang. Model kandang puyuh ada 2 (dua) macam yang biasa diterapkan yaitu sistem litter (lantai sekam) dan sistem sangkar (batere). Ukuran kandang untuk 1 m 2 dapat diisi 90-100 ekor anak puyuh, selanjuntnya menjadi 60 ekor untuk umur 10 hari sampai lepas masa anakan. Terakhir menjadi 40 ekor/m 2 sampai masa bertelur. Adapun kandang yang biasa digunakan dalam budidaya burung puyuh adalah:

               1. Kandang untuk induk pembibitan

                  Kandang ini berpegaruh langsung terhadap produktifitas dan kemampuan mneghasilkan telur yang berkualitas. Besar atau ukuran kandang yang akan digunakan harus sesuai dengan jumlah puyuh yang akan dipelihara. Idealnya satu ekor puyuh dewasamembutuhkan luas kandang 200 m2.

               2. Kandang untuk induk petelur

                  Kandang ini berfungsi sebagai kandang untuk induk pembibit. Kandang ini mempunyai bentuk, ukuran, dan keperluan peralatan yang sama. Kepadatan kandang lebih besar tetapi bisa juga sama.

               3. Kandang untuk anak puyuh/umur stater(kandang indukan)

                  Kandang ini merupakan kandang bagi anak puyuh pada umur starter, yaitu mulai umur satu hari sampai dengan dua sampai tiga minggu. Kandang ini berfungsi untuk menjaga agar anak puyuh yang masih memerlukan pemanasan itu tetap terlindung dan mendapat panas yang sesuai dengan kebutuhan. Kandang ini perlu dilengkapi alat pemanas. Biasanya ukuran yang sering digunakan adalah lebar 100 cm, panjang 100 cm, tinggi 40 cm, dan tinggi kaki 50 cm. (cukup memuat 90-100 ekor anak puyuh).

               4. Kandang untuk puyuh umur grower (3-6 minggu) dan layer (lebih dari 6 minggu)

                  Bentuk, ukuran maupun peralatannya sama dengan kandang untuk induk petelur. Alas kandang biasanya berupa kawat ram.

         2. Peralatan

            Perlengkapan kandang berupa tempat makan, tempat minum, tempat bertelur dan tempat obat-obatan.

   2. Penyiapan Bibit

      Yang perlu diperhatikan oleh peternak sebelum memulai usahanya, adalah memahami 3 (tiga) unsur produksi usaha perternakan yaitu bibit/pembibitan, pakan (ransum) dan pengelolaan usaha peternakan. Pemilihan bibit burung puyuh disesuaikan dengan tujuan pemeliharaan, ada 3 (tiga) macam tujuan pemeliharaan burung puyuh, yaitu:

         1. a. Untuk produksi telur konsumsi, dipilih bibit puyuh jenis ketam betina yang sehat atau bebas dari kerier penyakit.

         2. b. Untuk produksi daging puyuh, dipilih bibit puyuh jantan dan puyuh petelur afkiran.

         3. c. Untuk pembibitan atau produksi telur tetas, dipilih bibit puyuh betina yang baik produksi telurnya dan puyuh jantan yang sehat yang siap membuahi puyuh betina agar dapat menjamin telur tetas yang baik.

   3. 6.3. Pemeliharaan

         1. 1) Sanitasi dan Tindakan Preventif

            Untuk menjaga timbulnya penyakit pada pemeliharaan puyuh kebersihan lingkungan kandang dan vaksinasi terhadap puyuh perlu dilakukan sedini

            mungkin.

         2. 2) Pengontrolan Penyakit

            Pengontrolan penyakit dilakukan setiap saat dan apabila ada tanda-tanda yang kurang sehat terhadap puyuh harus segera dilakukan pengobatan sesuai dengan petunjuk dokter hewan atau dinas peternakan setempat atau petunjuk dari Poultry Shoup.

         3. 3) Pemberian Pakan

            Ransum (pakan) yang dapat diberikan untuk puyuh terdiri dari beberapa bentuk, yaitu: bentuk pallet, remah-remah dan tepung. Karena puyuh yang suka usil memtuk temannya akan mempunyai kesibukan dengan mematuk-matuk pakannya. Pemberian ransum puyuh anakan diberikan 2 (dua) kali sehari pagi dan siang. Sedangkan puyuh remaja/dewasa diberikan ransum hanya satu kali sehari yaitu di pagi hari. Untuk pemberian minum pada anak puyuh pada bibitan terus-menerus.

         4. 4) Pemberian Vaksinasi dan Obat

            Pada umur 4-7 hari puyuh di vaksinasi dengan dosis separo dari dosis untuk ayam. Vaksin dapat diberikan melalui tetes mata (intra okuler) atau air minum (peroral). Pemberian obat segera dilakukan apabila puyuh terlihat gejala-gejala sakit dengan meminta bantuan petunjuk dari PPL setempat ataupun dari toko peternakan (Poultry Shoup), yang ada di dekat Anda beternak puyuh.


7. HAMA DAN PENYAKIT


   1. Radang usus (Quail enteritis)

      Penyebab: bakteri anerobik yang membentuk spora dan menyerang usus, sehingga timbul pearadangan pada usus.

      Gejala: puyuh tampak lesu, mata tertutup, bulu kelihatan kusam, kotoran berair dan mengandung asam urat.

      Pengendalian: memperbaiki tata laksana pemeliharaan, serta memisashkan burung puyuh yang sehat dari yang telah terinfeksi.

   2. Tetelo (NCD/New Casstle Diseae)

      Gejala: puyuh sulit bernafas, batuk-batuk, bersin, timbul bunyi ngorok, lesu, mata ngantuk, sayap terkulasi, kadang berdarah, tinja encer kehijauan yang

      spesifik adanya gejala “tortikolis”yaitu kepala memutar-mutar tidak menentu dan lumpuh.

      Pengendalian:

         1. menjaga kebersihan lingkungan dan peralatan yang tercemar virus, binatang vektor penyakit tetelo, ayam yang mati segera dibakar/dibuang;

         2. pisahkan ayam yang sakit, mencegah tamu masuk areal peternakan tanpa baju yang mensucihamakan/ steril serta melakukan vaksinasi NCD. Sampai sekarang belum ada obatnya.

   3. Berak putih (Pullorum)

      Penyebab: Kuman Salmonella pullorum dan merupakan penyakit menular.

      Gejala: kotoran berwarna putih, nafsu makan hilang, sesak nafas, bulu-bulu mengerut dan sayap lemah menggantung.

      Pengendalian: sama dengan pengendalian penyakit tetelo.

   4. Berak darah (Coccidiosis)

      Gejala: tinja berdarah dan mencret, nafsu makan kurang, sayap terkulasi, bulu kusam menggigil kedinginan.

      Pengendalian:

         1. menjaga kebersihan lingkungaan, menjaga litter tetap kering;

         2. dengan Tetra Chloine Capsule diberikan melalui mulut; Noxal, Trisula Zuco tablet dilarutkan dalam air minum atau sulfaqui moxaline, amprolium, cxaldayocox

   5. Cacar Unggas (Fowl Pox)

      Penyebab: Poxvirus, menyerang bangsa unggas dari semua umur dan jenis kelamin.

      Gejala: imbulnya keropeng-keropeng pada kulit yang tidak berbulu, seperti pial, kaki, mulut dan farink yang apabila dilepaskan akan mengeluarkan darah.

      Pengendalian: vaksin dipteria dan mengisolasi kandang atau puyuh yang terinfksi.

   6. Quail Bronchitis

      Penyebab: Quail bronchitis virus (adenovirus) yang bersifat sangat menular.

      Gejala: puyuh kelihatan lesu, bulu kusam, gemetar, sulit bernafas, batuk dan bersi, mata dan hidung kadang-kadang mengeluarkan lendir serta kadangkala kepala dan leher agak terpuntir.

      Pengendalian: pemberian pakan yang bergizi dengan sanitasi yang memadai.

   7. Aspergillosis

      Penyebab: cendawan Aspergillus fumigatus.

      Gejala: Puyuh mengalami gangguan pernafasan, mata terbentuk lapisan putih menyerupai keju, mengantuk, nafsu makan berkurang.

      Pengendalian: memperbaiki sanitasi kandang dan lingkungan sekitarnya.

   8. Cacingan

      Penyebab: sanitasi yang buruk.

      Gejala: puyuh tampak kurus, lesu dan lemah.

      Pengendalian: menjaga kebersihan kandang dan pemberian pakan yang terjaga kebersihannya.


8. PANEN


   1. Hasil Utama

      Pada usaha pemeliharaan puyuh petelur, yang menjadi hasil utamanya adalah produksi telurnya yang dipanen setiap hari selama masa produksi berlangsung.

   2. Hasil Tambahan

      Sedangkan yang merupakan hasil tambahan antara lain berupa daging afkiran, tinja dan bulu puyuh.


9. PASCAPANEN …


10. ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA


   1. Analisis Usaha Budidaya

         1. Investasi

               1. kandang ukuran 9 x 0,6 x 1,9 m (1 jalur + tempat makan dan minum) Rp. 2.320.000,-

               2. kandang besar Rp. 1.450.000,-

         2. Biaya pemeliharaan (untuk umur 0-2 bulan)

               1. ay Old Quail (DOQ) x Rp 798 (Harga DOQ) Rp. 1.596.000,-

               2. Obat (Vitamin + Vaksin) Rp. 145.000,-

               3. Pakan (selama 60 hari) Rp. 2.981.200,-

                  Jumlah biaya produksi Rp. 4.722.200,-

                  Keadaan puyuh:

                      * Jumlah anak 2000 ekor (jantan dan betina)

                      * Resiko mati 5%, sisa 1900

                      * Resiko kelamin 15% jantan, 85% betina (285 jantan, 1615 betina)

                      * Setelah 2 bulan harga puyuh bibit Rp 3.625,- betina dan Rp 725 jantan

                      * Penjualan puyuh bibit umur 2 bulan Rp. 4.408.000,-Minus Rp. -314.200,-

         3. Biaya pemeliharaan (0-4 bulan)

                * 200 DOQ x Rp 798,- Rp. 159.600,-

                * Obat (vitamin dan Vaksinasi) Rp. 290.000,-

                * Pakan (sampai dengan umur 3 minggu) Rp. 2.459.925,-

                  Pakan (s/d minggu ke 4) betina 1615 ekor dan 71 ekor jantan (25% jantan layak bibit) Rp. 5.264.051,-

                  Jumlah biaya produksi Rp. 8.173.576,-

                  Keadaan puyuh:

                      o Mulai umur 1,5 bulan puyuh bertelur setiap hari rata-rata 85%, jumlah telur 1373 butir

                      o Hasil telur 75 hari x 1373 x Rp 75,- Rp. 7.723.125,-

                      o Puyuh betina bibit 1615 ekor @ Rp 3.625,- Rp. 5.854.375,-

                      o Puyuh jantan bibit 75 ekor @ Rp 798,- Rp. 59.850,-

                      o Puyuh jantan afkiran 214 ekor @ Rp 725,- Rp. 155.150,-

         4. Keuntungan dari hasil penjualan Rp. 5.618.924,-

         5. Biaya pemeliharaan (sampai umur 8 bulan)

               1. Biaya untuk umur 4-8 bulan Rp. 1.625.137,-

         6. Pendapatan

               1. Hasil telur (0,5 bulan) 195 x 1373 x Rp 75,- Rp. 20.080.125,-

               2. Hasil puyuh afkir 1615 ekor @ Rp 798,- Rp. 1.288.770,-

               3. Hasil jantan afkir 71 ekor @ Rp 725,- Rp. 51.475,-

               4. Hasil jantan afkir (2 bln) 214 ekor @ Rp 725,- Rp. 155.150,-

         7. Keuntungan beternak puyuh petelur dan afkiran jual Rp. 10.950.113,-

            Jadi peternak lebih banyak menjumlah keuntungan bila beternak puyuh petelur, baru kemudian puyuh afkirannya di jual daripada menjual puyuh bibit. Analisa usaha dihitung berdasarkan harga-harga yang berlaku pada tahun 1999.

   2. Gambaran Peluang Agribisnis …


11. DAFTAR PUSTAKA


   1. Beternak burung puyuh, 1981. Nugroho, Drh. Mayen 1 bk. Dosen umum Ternak Unggas Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan, Universitas Udayana.

   2. Puyuh, Tatalaksana Budidaya secara komersil, 1992. Elly Listyowati, Ir. Kinanti Rospitasari, Penebar Swadaya, Jakarta.

   3. Memelihara burung puyuh, 1985. Muhammad Rasyaf, Ir. Penerbit Kanisius (Anggota KAPPI), Yogyakarta.

   4. Beternak burung puyuh dan Pemeliharaan secara komersil, tahun 1985. Wahyuning Dyah Evitadewi dkk. Penerbit Aneka Ilmu Semarang

Syarat-syarat yang Diperlukan dalam Budidaya Burung Puyuh Petelur

Pakan Lele Organik, Dikembangkan
Naiknya pakan ikan lele akibat dampak dari kenaikan Tarif Dasar Listrik / TDL,
cara beternak babi
Pokok-Pokok Beternak 1. Yang perlu diperhatikan terhadap anak babi
ASPEK PRODUKSI, BUDIDAYA IKAN GURAMI
KLASIFIKASI, JENIS DAN CIRI-CIRI Secara umum, pola budidaya perikanan air tawar yang
Desain Kandang Kambing Etawa (Bagian 3)
Terdapat dua model untuk kolong kandang: Kolong disemen miring (turunan) kearah selokan.

Syarat-syarat dalam memelihara burung puyuh ini bukan merupakan syarat teknis. Namun tidak apa-apa lah sekedar untuk mengetahui. Sebab syarat-syarat non teknis ini hanya rekaan penulis yang jelas tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah apakah ada hubungan antara syarat-syarat ini dengan maju mundurnya usaha budidaya puyuh petelur.
Bagi yang berkeinginan terjun dalam usaha budidaya burung puyuh petelur, sebaiknya memperhatikan syarat-syarat berikut:
Syarat pertama adalah kasih sayang.

Bagaimanapun mereka tetap hewan. Secara logika burung-burung puyuh itu tidak akan mengerti biarpun kita bilang beribu-ribu kata sayang. Apakah sayang itu berbentuk selalu mengelus-elus mereka atau ikut tidur di dalam kandang ?

Bukan sayang seperti itu yang mereka inginkan. Tapi rasa sayang yang diwujudkan dengan memberi perhatian.

Tak kenal maka tak sayang, benar juga untuk diterapkan dalam budidaya beternak burung puyuh. Mengenal apa saja yang burung puyuh butuhkan, kemudian memberi perhatian. Di sini lah ada semacam ikatan batin antara kita dan burung puyuh; bahwa mereka bukan sekedar mesin pencetak uang.
Syarat kedua adalah adalah disiplin.


Seperti halnya beternak ayam pedaging, apabila terlambat memberi pakan biasanya bobot akan menyusut. Demikian juga dengan burung puyuh petelur, terlalu lama terlambat memberi pakan dan minum berarti siap-siap saja akan berkurang jumlah telur yang dikeluarkan.
Syarat ketiga adalah teliti dan cermat.

Ini penting. Dalam satu tingkat kandang ada 100 ekor. Bisa dibayangkan bagaimana mereka berdesak-desakan. Maka ketelitian memeriksa dan mengawasi sangat diperlukan. Adakah yang bertingkah aneh-aneh atau yang kelihatan pucat, lesu, tembolok kosong, atau kepalanya menunduk-nunduk dan muter-muter. Maka sempatkan untuk meneliti kondisi mereka. Dan keluarkan dari dalam kandang apabila ada yang tidak beres atau yang sudah mati.
Syarat keempat adalah jangan terlalu pelupa.

Terutama dalam memberi makan dan minum. Jangan ada yang terlewatkan. Sepele tapi bisa fatal akibatnya.
Syarat ke lima adalah ketekunan.

Saat burung puyuh dalam kondisi baik produksinya tentu kita akan senang dan semangat. Itu juga harus diterapkan apabila datang suatu masa produksi burung puyuh sedang tidak baik. Harus tetap senang.
Syarat keenam adalah menjaga kebersihan dan kenyamanan.


Jangan biarkan begitu banyak orang begitu saja masuk dan berlalu lalang di dalam kandang. Apalagi kalau tidak ada keperluan. Jaga juga untuk menutup mulut saat bersin (apalagi kalau kita lagi flu). Meludah sembarangan sebaiknya tidak di dalam kandang. Barangkali tidak ada pengaruhnya untuk kondisi burung-burung puyuh, tapi tidak ada salahnya toh untuk berhati-hati.
Ada tambahan syarat-syarat yang lain ????

Persiapan dan Perkembangan Pembesaran DOQ Ternak Burung Puyuh Petelur

Untuk gambar kandang pembesaran (dalam rangka persiapan), sebenarnya itu gambar kandang yang habis dipakai, alias burung puyuhnya sudah dipindah ke kandang teluran.
Kemudian gambar-gambar selanjutnya juga ada yang kurang bagus untuk percontohan, dimana dindingnya tidak rapi.

Lebih baik memakai triplex.



Yang menjadi hambatan pembesaran doq dengan cara seperti ini (pemanasan dengan listrik), antara lain :
1. Jumlah pembesaran doq terbatas, karena pada awal pembesaran membutuhkan daya listrik yang besar.
2. Beresiko banyak kematian / mortalitas saat listrik mati.

Alternatif cara pembesaran selain pemanasan dengan listrik, yaitu dengan gasolet (nulisnya bener tidak ya..).

Lebih aman, bisa lebih banyak DOQ-nya, dan tidak tergantung listrik.

Tapi saya belum pernah mencoba.
================================>

Bisnis Puyuh Memang Sedang Ampuh

Oleh karena wabah Avia Influenza beberapa waktu silam, populasi puyuh nasional menurun drastis. Bahkan beberapa sentra gemak, begitu orang Jawa menamai burung mungil ini, berhenti produksi. Contohnya adalah daerah Jawa Timur, khususnya Blitar yang sedari dulu dikenal sebagai sentra puyuh. Namun begitu, ada pula beberapa yang masih eksis. Bahkan kini menuai laba. Salah satunya adalah PT Peksi Gunaraharja, sebuah perusahaan integrasi puyuh terbesar di DI. Yogyakarta.
“Sekarang populasi Peksi besar dan tidak punya saingan, karena Jawa Timur sudah ambles. Ini bisa dilihat pada data Peksi bahwa omzet telur sekarang sampai 5,5 juta per minggu, sedangkan sebelumnya hanya 3,3 juta. Dan harga telur puyuh pun sedang bagus. Rata-rata harga di tahun 2009 ini bisa Rp 159 ,- per butir. Padahal di tahun sebelumnya hanya pada kisaran Rp 150-155,-, “ujar Ir. Tri Hertyasno, Head of Research and Development PT Peksi Gunaraharja saat akan menghadiri syawalan di Kelompok Sehati, Desa Siraman I, Wonosari, Gunung Kidul (3/10) bersama rekan-rekan Peksi. Selain itu, imbuh lulusan Fapet UGM, animo masyarakat untuk beternak puyuh juga sedang bagus. Maka jangan heran, apabila plasma pesan DOQ sekarang, maka baru dapat bulan Desember.
Kelompok Sehati adalah salah satu dari ratusan kelompok plasma puyuh binaan Peksi. Dan uniknya, kelompok dengan jumlah anggota 48 orang ini mayoritas pelakunya adalah ibu-ibu, tua maupun muda. Maka tak salah lagi kelompok yang berdiri sejak 2006 ini menjadi satu-satunya kelompok yang mayoritas beranggotakan kaum hawa di seantero Indonesia. “Setiap anggota rata-rata memelihara 2000 ekor, tapi ada juga yang 1000. Yang ngingu 4000 saja ada, “aku Wiyanti, Bendahara Kelompok Sehati di sela-sela acara syawalan yang digelar malam hari dan diiringi hiburan musik campur sari. Sebelum musik mengalun, pengajian sudah datang duluan.
Menurut hitungan manajemen Peksi, kelompok ini memiliki populasi 70 ribu ekor. Padahal plasma Peksi tersebar seantero Jawa Tengah dan DI. Yogyakarta dengan jumlah plasma sekitar 700 orang. Sehingga total jenderal, populasi puyuh perusahaan yang berkantor di Selomartani, Kalasan, Sleman, DI. Yogyakarta ini mendekati 1,3 juta ekor. Jumlah itu belum termasuk plasma puyuh pejantan yang juga menjadi salah satu andalan Peksi.
Tak hanya sektor perbibitan dan kemitraan, Peksi juga menggarap sektor pemotongan. Dengan populasi sebanyak itu, “Setiap bulan sedikitnya 30 ribu ekor puyuh pejantan dan puyuh afkir dipotong Rumah Potong Burung milik PT Peksi Guna Raharja, “ucap Tri. Lantas daging puyuh ini dijajakan mengikuti jalur pemasaran telur puyuh, yaitu Jawa Barat, utamanya Cirebon, Bandung dan DKI Jakarta sebagai pasar dominannya.
Selain Peksi, DI. Yogyakarta juga punya Dian Kurnia yang digawangi Turmudzi, tepatnya di Bilangan Minggir, Sleman dan Maryanto yang punya farm di Argorejo, Sedayu, Bantul. Meski kalah jauh ketimbang sang raksasa Peksi, namun keduanya pun pantang menyerah. Buktinya, belum lama ini AGRINA menyambangi Dian Kurnia, mereka bilang bahwa pesanan DOQ terus ada, tidak ada tanda-tanda menurun. Sebagaimana Peksi, Dian Kurnia juga sudah mendekati integrasi, hanya saja DK tidak memiliki usaha pemotongan puyuh. Sedangkan Maryanto saat ini pun masih memelihara puyuh dan memiliki plasma. Hal ini membuktikan bahwa puyuh sedang nggendero. Memang, puyuh sedang ampuh.
(dikutip dari: g242)
==================================>

Aneka Makanan dengan Bahan Telur Puyuh



Bahan:

15 butir telur puyuh, rebus matang dan kupas

2 butir bawang merah, iris halus

2 siung bawang putih, iris halus

1 btg daun bawang, iris serong


1 btg seledri, iris halus

50 gr bawang bombay, iris memanjang tipis

2 bh wortel, kupas dan iris bulat tipis

1 liter kaldu ayam

garam dan merica
Cara membuatnya:

Goreng telur puyuh rebus dan sisihkan. Tumis bawang merah dan putih di minyak sisa menggoreng telur hingga harum. Masukkan kembali telur dan tambahkan sayurannya. Aduk hingga rata. Masukkan kaldu ayam, dan beri garam dan merica. Masak hingga kuah mendidih dan angkat. (sumber: resepmasakanindonesia)
2. SAMBAL GORENG TEMPE DENGAN TELUR PUYUH.

Sambal Goreng Tempe dengan Telur Puyuh, enak, lezat dan istemewa. Jadikkan Sambal goreng tempe dengan telur puyuh menjadi menu istemewa menyambut tetamu juga ok.
Bahan:
Tempe 200 gram potong kotak

Telur puyuh rebus, 20 bh, kupas kulitnya.

Santan 500 cc dari 1/2 butir kelapa.

Daun salam 2 lbr

Daun jeruk purut 2 lbr

Lengkuas 1 ruas memarkan

Cabe rawit utuh 10 bh


Cabe merah besar 2 bh iris serong

Garam secukupnya.

Gula merah 1 sdm
Bumbu dihaluskan:

Bawang merah 5 buah

Bawang putih 3 buah

Cabe merah 3 buah
Cara memasak:
Tumis bumbu halus sampai wangi tambahkan daun salam, daun jeruk, lengkuas aduk tambahkan tempe, cabe rawit, merah aduk-aduk. Masukkan santan , telur puyuh dan semua sisa bumbu, masak sampai santan kental.

Catatan: Tempe dapat diganti Tahu atau dapat menggunakan kedua-duanya. (sumber: myonlinerecipe)
3. TELUR PUYUH BOLA DAGING.
Telur Puyuh Bola Daging, lezat dan istemewa . Telur Puyuh Bola Daging dapat dijadikan menu menyambut tamu spesial.
Bahan:
Telur puyuh rebus 10 bh

Daging giling 1/4 kg

Putih telur 2 bh, kocok lepas


Tepung roti
Bumbui daging giling :

bawang putih goreng 2 siung haluskan

garam, merica, kecap asin.

Telur ayam 1 bh

Tepung sagu 2 sdm
Cara memasak:
Daging yang sudah dibumbui diamkan dalam kulkas 1/2 jam. Bagi daging menjadi 10 bh lalu bungkus telur puyuh dengan daging tersebut.
Lumurin bola2 daging-telur ke kocokan putih telur lalu ke tepung roti, ulangi sekali lagi.


Goreng dalam minyak panas sampai warna kecoklatan.
Saus: Tumis bawang putih (1siung) sampai wangi dan masukkan bawang bombai (1/2 bh) tambahkan saus tomat 3 sdm, kecap manis 1 sdm air 150 cc garam, gula, merica. masak sampai bumbu kental.
Sajikan : bola daging telur dengan siram saus diatasnya. (sumber: myonlinerecipe)
4. SAMBAL GORENG TELUR PUYUH.
Bahan :

25 btr Telur puyuh (rebus dan kupas kulitnya)

100 gr Udang


1 sdm Minyak goreng

5 siung Bawang merah (iris halus)

1 iris Lengkuas

1 lbr Daun salam

1 buah Tomat (diiris)

300 cc Santan

50 gr Kapri (bersihkan)
Bumbu yang dihaluskan :

2 siung Bawang putih


2 buah Cabe merah

Garam secukupnya dan sedikit terasi
Cara Memasak :

Udang dibersihkan dari kepala, kulit dan ekornya, sisihkan.

Tumis bawang merah dan bumbu yang dihaluskan dengan minyak panas hingga harum.

Tambahkan lengkuas, daun salam, tomat, tumis hingga layu.

Masukkan udang dan telur puyuh.

Tambahkan santan, masak sambil diaduk – aduk hingga santan mengental.

Masukkan kapri, masak sebentar.


Angkat dan sajikan untuk 5 porsi (1 porsi = 185 kalori). (sumber: resepmasakanku)
5. ACAR TELUR PUYUH
Bahan:

20 butir telur puyuh, rebus

1 buah wortel, potong-potong korek api

50 gram buncis, iris ½ cm

15 buah cabai rawit utuh


10 butir bawang merah utuh

50 gram taoge

1 batang serai, memarkan

150 cc air

1 sendok makan cuka

Minyak secukupnya untuk menumis
Bumbu yang dihaluskan:

3 siung bawang putih

5 butir kemiri


½ ruas jari jahe

1 ruas jari kunyit

Garam, gula pasir secukupnya
Cara Membuat Resep Masakan Acar Telur Puyuh:
Tumis bumbu yang dihaluskan sampai harum, tambahkan buncis, wortel, cabai rawit, bawang merah, serai, telur puyuh, air

Masak mendidih. Beri taoge. Masak sebentar. Beri cuka

Angkat dari api. Siap dihidangkan. (sumber: resepmasakanmu)
6. ASEM-ASEM TELUR PUYUH.

Bahan-bahan :

a. 500 gr daging tetelan

b. 200 gr buncis, dipotong kecil

c. 20 butir telur puyuh

d. 1 sendok makan kecap manis

e. 6 buah bawang merah, diiris tipis

f. 3 siung bawang putih, diiris tipis

g. 5 buah cabai hijau, diiris kecil

h. 6 buah belimbing wuluh, dipotong menjadi tiga


i. ½ jari lengkuas, dimemarkan

j. Garam

k. Daun Salam

l. Gula

m. Asam Jawa

n. Minyak goreng secukupnya

o. Air kaldu secukupnya
Cara Membuat / Memasak :

- Daging dicuci, direbus sampai empuk, potong kecil-kecil


- Tumis bawang merah, bawang putih sampai baunya harum, kemudian masukkan potongan cabai hijau, buncis, lengkuas dan daun salam. Aduk-aduk dan tambahakan kecap manis. Setelah itu masukkan dalam air kaldu

- Masukkan pula potongan belimbing wuluh, garam, gula, asam jawa, dan telur puyuh yang sudah direbus terlebih dahulu dan dikupas, dan juga potongan daging

- Biarkan sampai matang dan baru diangkat (sumber: resepkulinerku)
7. SATE TELUR PUYUH.
Bahan :

25 butir telur puyuh rebus , kupas

2 sdm minyak goring untuk menumis


150 ml air

Tusuk sate
Bumbu halus:

5 butir bawang merah

3 siung bawang putih

2 cm lengkuas, memarkan

3 lembar daun salam

5 sdm kecap manis
Garam dan merica secukupnya

Cara :

Tumis bumbu halus hingga harum , masukkan telur puyuh dan air. Aduk hingga kuah mengental, angkat. Setelah dingin , tusuk dengan tusuk sate. (sumber: ucind)
8. KALIO CUMI TELUR PUYUH (PADANG)
Bahan:

500 gr cumi ukuran sedang

15 btr telur puyuh

1 lbr daun kunyit


3 lbr daun jeruk

1 btg serai, memarkan

500 ml santan cair
Haluskan:

150 gr cabe merah keriting

1 sdm ketumbar

3 btr kemiri

1 btg serai, iris tipis

1 sdt garam

Cara membuat:

Bersihkan cumi, potong cumi bentuk cincin.

Rebus telur puyuh, kupas kulitnya.

Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum.

Lalu masukkan santan, daun jeruk, daun kunyit, serai.

Masak hingga kuah mengental.

Masukkan cumi dan telur puyuh.

Masak hingga semua bahan matang.
Untuk 6 orang


Sumber : Nova (sumber: cuek)
———————————————-

TELUR PUYUH: Sangat Bagus untuk NUTRISI OTAK !!!!!

BAGI sebagian orang, telur puyuh mungkin tidak begitu terkenal daripada telur ayam atau telur bebek. Apalagi banyak orang menganggapnya sebagai sumber kolesterol.
Padahal, nilai gizinya baik untuk janin hingga kaum lanjut usia.
Puyuh merupakan jenis burung yang tidak dapat terbang tinggi, ukuran tubuhnya relatif kecil, berkaki pendek, dan dapat diadu. Burung puyuh terkenal dengan telurnya yang berukuran kecil. Telur ini umumnya digemari anak-anak karena bentuknya unik dan menggemaskan.
Biasanya telur ini disajikan dengan cara direbus atau sebagai bahan campuran sayuran (hotplate kangkung, kimlo, dan sup),sambal kentang, atau sebagai isi bakso, tahu, dan siomay.
Dilihat dari nilai gizinya, telur puyuh tidak kalah dari telur ayam atau telur bebek.
Telur puyuh merupakan sumber protein terbaik.100 gram telur puyuh mengandung 13,05 gram protein, sedikit lebih tinggi dari telur ayam maupun telur bebek.
Salah satu keunggulan protein telur dibandingkan dengan protein hewani lainnya adalah daya cernanya yang sangat tinggi. Artinya setiap gram protein yang masuk akan dicerna didalam tubuh secara sempurna.
Selain protein, lemak, vitamin, dan mineral, telur puyuh juga kaya akan kolin. Kolin berperan penting didalam tubuh, terutama bagi perkembangan fungsi otak. Hal tersebut berkaitan dengan peran kolin sebagai komponen asetikolin yang berfungsi sebagai pengantar sinyal saraf.
Asupan kolin yang cukup akan membantu kerja sinyal saraf pada otak, sehingga dapat memperkuat daya ingat anak-anak dan menghindari kepikunan pada orang lanjut usia.
Ibu-ibu yang sedang dalam taraf pra kehamilan hingga menyusui, sebaiknya mulai mengonsumsi makanan sumber kolin, seperti telur puyuh, dalam jumlah cukup banyak. Hal tersebut penting untuk mendukung perkembangan otak janin.
Selain itu asupan kolin yang cukup pada saat kehamilan juga dapat mengurangi resiko kematian sel pada janin, yang berarti mengurangi kemungkinan bayi cacat dan keguguran. (sumber:GHS-gizi/jum)
Baik Pelindung Mata
SALAH satu ciri khas yang sangat menarik dari telur, termasuk telur puyuh adalah warna kuning telurnya. Warna kuning telur tersebut, bukan sekedar warna yang menyegarkan mata, tetapi juga menunjukkan bahwa telur mengandung senyawa lutein dan Zeaksantin.
Kedua senyawa itu merupakan pigmen yang memberikan warna kuning. Selain memberikan warna kuning, pigmen tersebut ternyata juga mempunyai khasiat kesehatan yang luar biasa.
Didalam retina mata, lutein dan zeaksantin dapat membantu melindungi mata dari kerusakan dengan cara memfilter sinar biru, terutama pada bayi dan anak-anak.
Singkat kata, telur puyuh sangat dianjurkan untuk anak-anak yang sedang dalam tahap pertumbuhan ataupun ibu-ibu pada masa kehamilan dan menyusui. Orangtua juga dianjurkan untuk mengonsumsi telur puyuh, asalkan tidak mempunyai kadar kolesterol tinggi atau menderita obesitas. (Sumber:GHS-gizi/jum)
Manfaat lain telur puyuh
- Mengandung zat anti kanker
- Memperlambat proses penuaan terutama yang berhubungan dengan kesehatan mata
- Mereduksi risikopenyakit tumor
(sumber: Tribun Timur)

Bulan-bulan Buruk Harga Telur Puyuh

Mulai minggu ini pembelian dengan sistem range oleh PT Peksi Gunaraharja untuk sementara dihentikan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Minggu ini juga PT Peksi memberlakukan kebijaksanaan baru. Cara menentukan harga pembelian telur mulai menggunakan sistem umur. Telur yang dihasilkan burung puyuh muda dihargai lebih mahal daripada telur yang dihasilkan burung puyuh tua. Sistem pembelian dengan ukuran umur baru pertama kali ini diterapkan, setelah bertahun-tahun mengalami langganan harga buruk terutama bulan oktober, november, dan desember.
Langganan harga buruk pada bulan-bulan tersebut sudah menjadi tradisi bertahun-tahun. Bagi peternak-peternak lama menghadapi keadaan yang demikian sudah biasa. Mereka sudah hapal adanya bulan-bulan suram bagi peternak burung puyuh petelur. Sehingga saat bulan-bulan buruk biasanya dipakai sebagai start atau awal mereka meremajakan unggas ternak kesayangannya. Diperkirakan apabila bulan dengan harga telur sedang buruk dipakai untuk awal mulai ternak atau meremajakan, maka pada saat bulan-bulan dengan harga paling bagus, burung puyuh kesayangan sedang dalam kondisi puncak-puncaknya produksi.
Bulan-bulan buruk ini terjadi disebabkan karena faktor kemampuan pemasaran. Kemampuan PT Peksi memasarkan telurnya untuk saat ini berkisar 5-6 juta butir telur per-minggunya. Pada bulan antara oktober dan desember kemampuan pemasaran itu menurun menjadi sekitar 4-5 juta butir telur per-minggu. Padahal produksi telur tidak menurun. Sehingga hukum pasar yang dialami PT Peksi berada dalam keadaan over produksi yang tidak imbang dengan kemampuan penjualan. Tidak ada jalan lain selain menurunkan harga pembelian sampai batas harga telur dapat diserap pasar. Keadaan itu menyebabkan adanya bulan-bulan buruk. Demikian kira-kira gambaran menurut keterangan dari pihak PT.
Untuk peternak, tentu saja penghasilan juga menurun karena harga pakan tetap, bahkan pernah terjadi harga pakan naik saat harga telur turun.
Penurunan kemampuan pasar yang digambarkan pihak PT salah satunya disebabkan karena wilayah-wilayah pemasaran mendapat pasokan telur dari wilayah timur, yang memang dikenal sebagai sentra telur nasional. Kemampuan pasokan dari timur yang didukung hasil produksi dan kemampuan pasar diakui melebihi kemampuan PT Peksi, sehingga PT Peksi tidak mampu mengendalikan harga. Keadaan yang memaksa untuk men-stabil-kan kondisi perusahaan menjadikan penurunan harga telur sebagai satu-satunya alternatif solusi.
Hanya saja penurunan kemampuan pemasaran tidak semata-mata adanya serbuan telur dari timur, tetapi faktor cuaca juga termasuk menjadi penyebabnya. Mengingat lahan pasar sementara ini terbesar berada di jakarta, otomatis susahnya pengangkutan dan apalagi jika sedang terjadi banjir akan mengurangi konsumsi telur puyuh.
Keadaan tersebut terjadi bertahun-tahun. Menjadi tradisi masalah yang belum teratasi dalam men-stabil-kan harga telur dengan tetap menjaga profit perusahaan tanpa mengurangi keuntungan peternak/plasma.
Untuk mengantisipasi dan sebagai solusi menghadapi tradisi keadaan yang demikian, mulai minggu ini PT memberlakukan pembelian dengan patokan umur. Sistem ini baru pertama kali diterapkan. Bertujuan men-stabil-kan harga dengan cara memaksa halus pemangkasan produksi agar seimbang dengan kemampuan pemasaran. Pemangkasan produksi dengan cara agar mau tidak mau peternak harus meng-apkir ternaknya untuk yang sudah berumur lebih dari 1 tahun, walaupun kondisi produksinya masih bagus. Pemaksaan halus untuk mengapkir burung puyuh yang berumur lebih dari satu tahun ini dengan cara mematok harga beli yang lebih murah. Untuk itu PT bertanggung jawab memberi kompensasi dengan penukaran 1 ekor apkiran mendapatkan 2 ekor bibit/ DOQ.
Setiap kebijaksanaan sebagus apapun tujuannya akan selalu mengandung kelemahan. Demikian juga penulis sebagai peternak/plasma juga menyorot beberapa kelemahan kebijakan itu:
Kelemahan pertama, sama-sama telur tapi berbeda harganya. Ini bisa diakali peternak dengan menitipkan telur dari puyuhnya yang sudah tua ke peternak lain yang mempunyai puyuh masih muda. Sehingga peternak sedikit banyak masih bisa merasakan bagian harga yang tinggi.
Kelemahan kedua, keterangan-keterangan terdahulu mengenai perbaikan pakan agar umur burung puyuh bisa panjang produksinya hingga 2 tahun menjadi tidak berguna. Berhadapan dengan kebijakan baru ini pakan yang bagus hingga dapat memperpanjang peoduksi telur menjadi sia-sia.
Kelemahan ketiga, mengacau rangkaian pencapaian BEP bagi peternak. Burung puyuh yang bertahan lebih dari satu tahun otomatis menyumbang pengembalian modal yang cukup besar. Berawal dari modal dasar yang sudah berjalan lancar, kebijakan tersebut mengharuskan back to start. Awal pemeliharaan lagi yang jelas minimal 2 bulan tidak ada penghasilan. Ini terutama berlaku untuk peternak yang mempunyai puyuh dengan umur setara dan bagus kondisinya. Padahal andaikata tidak ada sistem pemangkasan paksa, burung puyuhnya masih akan terus memberi profit sampai batas benar-benar tidak lagi berproduksi. tidak harus kembali ke awal peremajaan yang berarti menghentikan pemasukan pendapatannya.
Kelemahan keempat, pemasaran memang sulit dan penulis pun belum tentu mampu. Kebijakan itu menunjukkan bahwa PT Peksi belum bisa menembus kesulitan pasar pada bulan-bulan tertentu. Sehingga harus mengorbankan ke dalam terutama plasma untuk tetap menjaga keseimbangan kemampuan pemasaran.
Tapi bagaimanapun juga, kelemahan-kelemahan itu masih kalah dibanding dengan manfaatnya yaitu men-stabil-kan harga telur.
Nilai positifnya;
1. Kebijakan penentuan harga ini hanya untuk sementara
2. Mengkondisikan tidak total semua peternak merasakan bulan buruk dampak serbuan telur dari timur.
Ditunggu saja bagaimana perkembangannya.

Permasalahan Kemitraan Beternak Burung Puyuh Petelur

telur puyuh dalam kemasan/tray
Secara umum, para petani dan peternak di Indonesia cukup mumpuni dalam berproduksi. Yang menjadi kendala kemudian ialah kurang atau tidak adanya pemasaran. Menengok negara tetangga, Thailand. Menurut yang pernah penulis baca di majalah Trubus, entah terbitan kapan aku lupa, kalau tidak salah ingat, di sana ada kementrian pemasaran hasil-hasil pertanian, sehingga petani sebagai prosuden tidak lagi khawatir kalau sampai tidak bisa memasarkan hasil pertaniannya dengan keuntungan yang sesuai.

Indonesia sebagai negara agraris yang lebih luas daripada Thailand barangkali dalam Departemen Pertaniannya ada juga bagian yang mengurusi masalah pemasaran hasil-hasil pertanian. Hanya saja penulis belum mencari referensi sampai semaksimal bagaimana departemen pertanian berusaha agar para petani dan peternak di Indonesia tidak sampai merugi.



Dalam usaha burung puyuh petelur, tidak usah khawatir dengan pemasarannya, PT Peksi Gunaraharja menjalin kemitraan dengan petani peternak, termasuk dalam pemasaran produksinya. Tentu bukan hanya PT Peksi Gunaraharja saja yang mengelola usaha burung puyuh dari hulu sampai hilir, dari produksi sampai pemasarannya, ada banyak kemitraan-kemitraan yang lain. Namun penulis sebagai plasma yang bermitra dengan PT Peksi Gunaraharja cukup merasakan tidak repotnya memasarkan hasil telur burung puyuh. Sebagai produsen, bisa terkonsentrasi bagaimana memaksimalkan produksinya, tanpa terganggu dengan kekhawatiran apakah nanti laku atau tidak.
Setelah beberapa lama menjadi plasma dalam semi kemitraan dengan PT Peksi Gunaraharja, penulis menemukan beberapa permasalahan di dalamnya. Permasalahan ini tentunya lebih fokus dilihat dari sudut pandang peternak / plasma.

Ada 5 hal permasalahan dalam semi kemitraan tersebut. Kelima hal ini yang kemudian menjadi ukuran loyalitas peternak kepada PT, antara lain :
1. Pembelian bibit / DOQ.


2. Pembelian pakan.

3. Penjualan telur.

4. Penjualan apkiran.

5. Hutang.
1. Pembelian Bibit / DOQ.

Harga sekarang, Rp 1.250,- per-ekor bibit puyuh petelur merupakan harga yang relatif murah. Pihak PT sendiri terutama divisi hatchery tentu sudah memilihkan bibit yang sebaik-baiknya. Seperti yang pernah diceritakan, per-bibit-an ini juga impor dari luar negeri untuk mendapatkan bibit burung puyuh petelur yang unggul. Tentu tidak dianggap plasma / mitra PT Peksi apabila bibit mengambil dari luar PT.
2. Pembelian Pakan.

Menurut keterangan dari pihak PT, bahwa “pakan=telur”, maksudnya jumlah telur yang dihasilkan seukur dengan jumlah pakan yang dihabiskan burung puyuh. Untuk ini pihak PT sudah memberi patokan berupa range, dimana untuk 1 sak pakan dipatok menghasilkan telur sejumlah sekitar 1.350 butir. Jadi, apabila mengambil 2 sak pakan sedangkan telur yang disetor sejumlah 4.050 atau lebih, disimpulkan telah menambah 1 sak lagi yang bukan pakan dari PT. untuk kelebihan telur yang diluar range diberi harga yang berbeda (lebih murah dengan selisih sekitar Rp 6,- perbutir).

Tentang penambahan / pencampuran pakan ini nantinya akan dibahas dalam artikel tersendiri.

3. Penjualan Telur.

Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang kemitraan puyuh petelur, PT Peksi mengelola kemitraan tersebut dari hulu sampai hilir, dari produksi sampai pemasarannya. Kontinuitas produksi dan kelancaran pemasaran menjadi pokok usaha tersebut. Demikian juga sebagai perusahaan yang tentunya berorientasi profit, PT Peksi berusaha mendapatkan keuntungannya sejak pembibitan, pakan, sampai pemasaran produksi telurnya. Untuk ini, akan dianggap plasma yang kurang loyal kepada PT apabila plasma menjual telurnya ke luar PT. Hal ini juga bisa diukur dari patokan “pakan=telur”. Hanya saja patokan itu tidak mutlak berlaku dalam mengukur produksi/setoran telur ke PT, sebab bisa saja kurangnya produksi disebabkan kondisi burung puyuh yang kurang sehat atau penanganan yang kurang baik selama masa produksi.
4. Penjualan Apkiran.

Menjadi hal yang cukup merepotkan bagi peternak apabila puyuh peliharaannya sudah tua dan tidak lagi baik berproduksi. Untuk puyuh yang demikian tentu dijual menjadi puyuh pedaging, yang kemudian disebut dengan burung puyuh apkiran. Kalau jumlah apkirannya di bawah 1000 ekor mungkin belum begitu sulit menjualnya, namun kalau apkirannya di atas 5000 atau mencapai puluhan ribu tentu relatif sulit menjualnya. Untuk itu PT Peksi Gunaraharja sudah memberi solusi dengan kemampuannya membeli burung puyuh apkiran dari peternak / plasma. Pembelian burung puyuh apkiran oleh PT Peksi juga dihargai relatif tinggi, yaitu RP 2.500,- per ekor (saat ini), berapapun jumlahnya.

Secara kenyataan tetap ada juga kemungkinan menjual apkiran ke luar PT dengan pertimbangan harga pembelian yang lebih tinggi. Bagi plasma yang menjual ke luar PT ini dikategorikan termasuk tidak loyal.
5. Hutang.

Ke-4 permasalahan sebelumnya menjadi ukuran loyal tidaknya peternak/plasma terhadap PT. Secara kenyataannya ketidakloyalan itu tidak menjadi alasan PT menghentikan hubungan kemitraan, kecuali kalau ada yang keterlaluan. Namun sepertinya belum ada pemutusan hubungan kemitraan karena ke-4 permasalahan di atas, artinya belum ada peternak yang keterlaluan baik dalam bibit, pakan, penjualan telur, maupun apkiran.

Namun untuk permasalahan yang ke-5 ini pihak PT mau tidak mau harus menghentikan hubungan kemitraan. Cara penghentiannya bisa dengan tidak memberikan pakan, atau tidak memberi pesanan bibit.

Sekedar informasi saja, selama ini jumlah bedeb (hutang yang jelas tidak bisa ditagih lagi) dari peternak mencapai lebih dari Rp 1.000.000.000,-. Jumlah yang relatif besar.


Kenapa bisa ada hutang ?

Pada saat pembesaran burung puyuh sampai nilai produksi telurnya melebihi nilai pakan, pada saat itu juga peternak harus membayar pakannya terlebih dahulu secara tunai. Untuk pakan yang berupa BR, pihak PT memang tegas dalam pembayaran pakan. Tetapi pada masa pemberian pakan teluran, PT memberi kelonggaran dengan membolehkan peternak tidak membayar dulu pakan teluran selama nilai produksi telurnya belum melebihi nilai pakan yang dihabiskan puyuh. Masa ini memakan waktu sekitar 4x mengantar pakan (4 minggu). Kalau dalam seminggunya membutuhkan pakan 3 sak, berarti PT sudah memberi piutang sejumlah minimal (Rp200.000×3)x4 : Rp Rp 2.400.000,- yang memang menjadi rata2 hutang peternak terhadap PT. Selanjutnya hutang tersebut akan dipotong sedikit demi sedikit dari jumlah telur yang disetor. Piutang itu diberikan tanpa jaminan dan otomatis tanpa bunga. Piutang inilah yang kadang menjadi bedeb alias tidak bisa ditagih lagi karena hal-hal tertentu, terutama kalau peternak sudah tidak menjadi mitra PT Peksi.
Demikian sedikit tulisan mengenai permasalahan-permasalahan dalam kemitraan beternak burung puyuh petelur. Mudah-mudahan bermanfaat. Dan, selamat bermitra……….
—————————————————————

Berbagi Cerita Pengalaman Beternak Burung Puyuh

DSCN0158



Usaha beternak burung puyuh yang akan saya ceritakan merupakan usaha skala kecil. Boleh dikatakan sebagai usaha sampingan, namun bisa juga sebagai usaha sekedar bertahan hidup atau mungkin hidup yang lebih dari sekedar, di atas bumi manusia Indonesia tercinta ini.
Saya mempunyai keinginan beternak burung puyuh sebenarnya sudah lama, sudah sejak sebelum gempa, sekitar lebih dari tiga tahun yang lalu. Namun, waktu itu kalau saya tanya ke peternak lama, selalu dijawab bahwa PT sudah tidak menerima peternak baru.

Kemudian baru saat-saat ini saya mendapat kesempatan ikut bergabung menjadi peternak burung puyuh.
Sebelum positip menjadi peternak, terlebih dulu saya muter-muter ke beberapa peternak lama. Dengan tujuan melihat-lihat dan tanya-tanya seputar hal beternak burung puyuh, tentang bagaimana proses pertama kali beternak, apa saja yang perlu disiapkan, bagaimana pemeliharaannya, dan tentu saja bagaimana hasil secara ekonomis apakah menguntungkan atau tidak.


Selain itu, saya juga tanya-tanya ke beberapa mantan peternak (yang berhenti beternak), mengapa sampai berhenti beternak burung puyuh.
Sedikit sebagai gambaran, bahwa rata-rata peternak burung puyuh adalah petani-petani yang boleh dikatakan sebagai petani kecil, tapi tentu saja tidak semua peternak berawal dari petani, ada yang pedagang, sopir, dll namun tetap dalam kategori kecil… Lain dengan ayam potong, selama yang saya tahu, kalau peternak ayam potong biasanya mereka memang sudah “juragan” dari awalnya.

Hal itu karena untuk beternak burung puyuh ini kita bisa memelihara dengan jumlah populasi minimal yaitu 1000 ekor, tentu dengan modal yang relatif terjangkau.

Kemudian bagaimana dengan saya? Saya bukan petani kecil, juga bukan juragan besar.. hehe… saya beternak burung puyuh berawal dari status saya sebagai pengangguran.
Beternak burung puyuh yang saya jalani ini berbentuk semi kemitraan / plasma dengan mengambil hasil produksi telurnya. Ada peternak dan ada perusahaan yang yang kedua pihak saling bekerjasama timbal balik. Kemitraan dalam beternak burung puyuh ini pihak peternak masih ada unsur “membeli”, baik itu bibit / DOQ, pakan pembesarannya (stater), maupun pakan teluran (layer) selama produksi telur burung puyuh belum bisa menutup pakan layer yang dibutuhkan.
Semi kemitraan beternak burung puyuh ini dikelola dari hulu sampai hilir oleh PT Peksi Gunaraharja. (Hehe, cukup sebut nama saja, sebab bisa jadi hanya menyebut nama saja ternyata tidak diijinkan oleh PT karena memang saya tidak ijin untuk sekedar ditulis di blog ini).
Setelah informasi saya anggap cukup, dengan mantap saya segera mewujudkan keinginan untuk beternak.
Waktu itu pertama kali saya pesan 2000 bibit. Kemudian saya pesan lagi 2000 bibit, jadi totalnya 4000 bibit yang saya pesan ke PT.

Namun karena beberapa hal yang tidak perlu saya ceritakan di sini, bahwa bibit yang saya pesan tidak datang sekaligus, pesanan saya ada yang datangnya per-1000 bibit, juga per-2000 bibit.


Waktu antara pemesanan dan hari H tiba datangnya bibit termasuk relatif lama, yaitu 3 bulan baru bibit yang kita pesan itu datang.
Sambil menunggu bibit, saya pergunakan waktu yang tiga bulan itu untuk mempersiapkan apa saja yang diperlukan.

Ada beberapa fasilitas yang perlu dipersiapkan untuk memelihara burung puyuh dalam skala kecil ini, yaitu fasilitas dari mulai datang sampai pemeliharaannya.

Saya bagi menjadi tiga jenis fasilitas, yaitu fasilitas pokok, fasilitas pendukung, dan fasilitas tambahan.
Fasilitas-fasilitas pokok yang dibutuhkan antara lain :

1. rumah induk

2. kandang pembesaran

3. kandang teluran
Fasilitas-fasilitas pendukungnya antara lain :


1. tempat minum pembesaran

2. nampan untuk pakan pembesaran

3. sambungan listrik untuk rumah induk dan kandang pembesaran

4. lampu-lampu

5. pralon-pralon untuk makan dan minum di kandang teluran

6. ember minum, ember pakan, ciduk, dll

7. tampungan air kalo perlu

(untuk fasilitas pendukung ini perlulebih diperinci lagi)
Fasilitas tambahannya, yaitu septik tank untuk pembuangan kotoran. Saya sebut tambahan, karena hanya dibuat kalo dirasa perlu saja. Kalo ada cara lain untuk pembuangan, tentu tidak perlu membuat septik tank. Apalagi kalo belakang kandang burung puyuh berupa hutan, wah enak sekali, kotorannya tinggal buang saja di belakang kandang tidak khawatir baunya mengganggu lingkungan.


Namun lebih enak lagi kalo PT Peksi Gunaraharja juga menampung kotoran burung puyuh ini, bisa saja membuat salah satu divisi lagi, yaitu divisi penampungan dan pengolahan limbah, mungkin untuk membuat pupuk organik…. siapa tau !
Selanjutnya perlu juga menjelaskan masing-masing fasilitas, terutama fasilitas pokok, yaitu rumah induk, kandang pembesaran, dan kandang teluran.

Namun intinya, fasilitas dan cara-cara yang saya pilih ini dalam rangka mempraktekkan prinsip se-irit2nya bahan / modal. Sebab kalo baru pertama kali ternak kok fasilitasnya sudah mewah dan makan modal besar, wah bisa memperpanjang BEP kan ?! demikian penjelasan dari peternak lama….
Saya tidak akan menganalisa fasilitas yang dibutuhkan dalam beternak burung puyuh termasuk alternatif2-nya. Saya hanya akan menceritakan bagaimana dan apa fasilitas yang saya pilih dan saya pakai dalam beternak ini.
RUMAH INDUK.

Rumah induk merupakan rumah pokok yang dipakai untuk apasaja keperluan memelihara burung puyuh.

Nah, untuk rumah induk, saya membeli kampung bekas seharga 2,5 juta. Kampung bekas ini berukuran 7×6 meter. Rata-rata bahannya dari kayu akasia. Komplet, sudah termasuk reng, usuk, dan gentingnya, bahkan gebyok samping juga ada, walaupun tidak komplet empat sisi.

Tapi namanya juga bekas, ada beberapa usuk dan reng yang sudah lapuk dan tidak layak pakai. Jadi ya tetap mengganti beberapa reng dan usuk, termasuk beberapa genting juga cari lagi, karena pecah waktu bongkar pasang.

Kampung berukuran 6×7 meter ini diperkirakan muat 4000 populasi dengan 8 kandang teluran.


Terasnya saya bangun lagi selebar 2,5 meter dengan panjang 7 meter untuk nantinya bisa dipergunakan sebagai tampungan pakan, keperluan air, menyimpan telur sebelum disetor ke PT, mungkin juga untuk menyimpan kandang pembesaran jika sudah tidak dipakai lagi.
KANDANG PEMBESARAN.

Kandang pembesaran ialah kandang yang dipakai untuk membesarkan DOQ, sejak datang sampai umur 20-25 hari atau diperkirakan sudah layak untuk naik ke kandang teluran.

Kandang pembesaran ini berukuran 75×200 cm. Untuk 1000 bibit membutuhkan total 4 kandang pembesaran.

Kandang pembesaran ini berbahan pokok reng dan strimin. Sisi yang tertutup nantinya memakai triplek, namun kalau mau lebih ngirit ya ditutup pakai kardus saja (sekali pakai).
KANDANG TELURAN.

Kandang teluran ini merupakan kandang pokok dimana nantinya si burung puyuh akan tinggal dan berproduksi sampai saatnya di-apkir.

Berbahan usuk, reng, dan strimin.

Kandang teluran ini saya memerlukan 8 kandang untuk 4000 populasi. Yang 3 kandang saya pakai bambu sebagai pengganti strimin (untuk ujicoba saja, dengan pertimbangan kalo bambu lebih awet dan lebih mudah diperbaiki kalo nantinya rusak…).


Kandang teluran ini tingginya 180cm terbagi menjadi 5 tingkat, dimana masing-masing tingkat memuat 100 populasi (teorinya).

Masing-masing tingkat di kandang teluran ini depannya dipasang pralon yang dilubang, pralon satu untuk wadah pakan, satunya lagi untuk tempat minum. Lebih jelasnya lihat gambar saja ya…….
Nah, setelah 3 bulan menunggu, akhirnya bibit datang juga. Untuk bibit pertama yang datang ternyata tidak 1000 ekor, tetapi 950 ekor, dari pihak PT tidak memberi alasan, namun jelas saya terima karena yang harus saya bayar juga sejumlah 950 ekor saja.

Harga bibit per-ekor-nya Rp 1.250,-

Sehingga saya bayar Rp 1.250,- x 950 : Rp Rp 1.187.500,-

Bibit ini kemudian langsung masuk ke kandang pembesaran yang fasilitasnya sudah dipersiapkan. Landasan kandangnya memakai kertas sak semen dengan lapisan 3 lembar. Sebelum ditaburi benih, terlebih dahulu ditaburi pakan pembesaran (BR) yang sudah diantar PT beberapa hari sebelum bibit datang.

Untuk pertama kali pakan belum ditaruh di nampan, tetapi disebar di atas landasan. Setelah sekitar 3-5 hari atau diperkirakan DOQ sudah mampu makan dari nampan, baru pakan ditaruh di nampan. Namun nampannya perlu diberi potongan strimin untuk menjaga puyuh biar tidak kepleset.

Wadah air minumnya juga diberi batu-batu, ini menjaga agar DOQ tidak mati tenggelam. Air minum untuk DOQ ini dicampur dengan vitamin DOQ yang kita beli dari PT.

Hari-hari pertama untuk 1000 DOQ membutuhkan 2 kandang pembesaran. Masing-masing kandang diisi 500 bibit.


Untuk penghangatan, saya menggunakan lampu listrik. Tiap kandang pembesaran membutuhkan 100 watt x 3 lampu, jadi total untuk 1000 DOQ membutuhkan 600 watt. Kebutuhan ini kira-kira sampai sekitar 5 hari atau seminggu atau bahkan 10 hari, tergantung bagaimana kondisi bibit dan cuaca.

Tahap ini istilahnya nge-box. Seperti biasanya kita nge-box, kalo DOQ sebagian besar berada mepet dinding, berarti suhunya terlalu panas, untuk ini perlu salah satu lampu dimatikan. Demikian juga sebaliknya kalau bibit2 ini berkumpul di sekitar lampu, berarti suhunya kurang panas sehingga perlu ditambah lampu. Namun untuk 300 watt x 3 ini sepertinya belum pernah menambah lampu.
Setelah 7 hari atau 10 hari diamati DOQ sudah mulai besar dan kandang sudah cukup sesak, DOQ yang menghuni 2 kandang ini dipecah menjadi 4 kandang.

Setelah menjadi 4 kandang, dimana tiap-tiap kandang berisi 250 populasi bibit, lampu juga sudah dikurangi dayanya. Jumlahnya tetap 3 lampu, namun yang dipasang ganti 45 watt, 60 watt, 45 watt.

Untuk pembersihan kotoran, penggantian kertas semen landasan, penggantian air minum, pemberian makan, pemberian vaksinasi, dll dll Kok susah mau memberi penjelasan terperinci ya …….!!! Pokoknya begitu lah……. Kalo ada kendala, hubungi saja dokternya PT Peksi Gunaraharja. Kalo kita bingung, Pak Dokter ini siap untuk memberi penjelasan apa saja sampai kita paham dan bisa. Mudah kan !!??

Yang penting perlu diperhatikan pada masa pembesaran ialah sekitar waktu antara 1-5 hari. Pada 5 hari pertama ini merupakan masa yang paling kritis, karena bisa jadi si bibit membawa penyakit bawaan. Nah….
Sekitar 1 atau 2 minggu saya nge-box 950 bibit pertama, datang lagi 1000 bibit yang kedua.

Angkatan kedua ini ternyata kurang begitu lancar. Bibit datang dalam kondisi lesu dan lemes (hehe, saya sudah mulai sok ahli mengamati bibit ya… padahal baru sekali udah sok tau…..).
Bibit yang kedua ini aneh, setelah ditabur di kandang pembesaran baru mulai kelihatan belangnya. Tingkah lakunya juga aneh-aneh. Ada yang seneng berjalan mundur sambil nunduk, ada yang sukanya megap-megap, ada juga yang hobinya geleng-geleng terus. Wah wah wah…. Agak runyam juga.


Waktu itu saya belum kepikiran untuk ngundang Pak Dokter PT Peksi Gunaraharja, maklum saja peternak baru belum hapal medan.

Atas jasa dokter lain, maksudnya peternak lama, bibit yang kedua ini diberi obat Trimisin.

Akhir kata, kedua angkatan itu lancar juga sampai naik ke kandang teluran.

Jumlah kematian selama pembesaran untuk 950 angkatan pertama sekitar 14 ekor. Jadi jumlahnya masih ada 936 ekor.

Untuk yang 1000 angkatan kedua, kematian cukup tinggi, lebih dari 80 ekor, jadi masih tersisa sekitar 900 ekor saja.

Setelah kedua angkatan itu masuk kandang teluran (20-25 hari), pakan masih menggunakan BR (pakan stater) sampai nanti umur 40 hari.

Penjelasan untuk pakan, bahwa selama masa pembesaran (6 minggu), tiap 1000 populasi membutuhkan 6 sak BR (pakan stater).

Per-sak beratnya 50kg.

Harga per-sak-nya waktu itu sekitar RP 214.000 (hehehe… agak lupa, males buka dokumen).


Jadi total kebutuhan pakan stater (BR) ialah 6 sak x Rp 250.000,- : Rp dijumlah sendiri ya…..!!!

Pakan BR ini untuk 1000 populasi diantar oleh PT tiap minggunya 1 sak selama 6 minggu, dibayarnya tiap kalo datang per-minggu-nya dan harus dibayar cash / kontan alias tidak boleh ngutang.

Setelah kedua angkatan bibit itu naik kandang, pas ke-30 hari, 2000 bibit angkatan ketiga datang juga. Untuk yang angkatan ini, nge-box-nya sekaligus 2000 DOQ.

Tapi perasaan kok rame banget ya mau nerusin cerita. Bisa-bisa halaman blog ini dipenuhi cerita beternak burung puyuh… jadi cerita yang pokok-pokok saja.Singkat cerita………….
Untuk kemitraan ini, PT Peksi Gunaraharja menyediakan 2 macam merk pakan, yang satu merk SINTA, satunya lagi pakan buatan PT yang merknya “UNTUK KALANGAN SENDIRI”.
Untuk 1000 populasi membutuhkan 3 sak pakan teluran (LAYER). Pakan boleh memilih semuanya merk “UNTUK KALANGAN SENDIRI”, namun boleh juga ditambah pakan yang merk SINTA, toh katanya setelah tes laborat, baik yang SP 22 SINTA maupun yang merk “UNTUK KALANGAN SENDIRI” kualitasnya sama, maksudnya kandungan bahan pakannya sama…
Setelah umur 40 hari, si burung puyuh ini sudah mulai bertelur, namun belum maksimal, artinya hasil telur belum mencukupi untuk membeli pakan. Karena kondisi seperti ini, berarti peternak masih harus membayar pakan yang datang selama hasil telurnya belum bisa menutup harga pakan.
Setelah umur 2 bulan, barulah si burung puyuh ini sudah bisa cari sendiri pakannya…… malah sudah ada sisa buat masuk dompet dan disisihkan untuk mengembalikan modal !!!
Tentang cerita sampai apkir, berhubung saya belum mengalami, jadi belum bisa cerita….. namun konon katanya yang sudah pengalaman, bahwa burung puyuh ini diapkir setelah berumur kurang lebih 1 tahun, atau kalo kira-kira produksi telurnya sudah tidak bisa untuk membeli pakan.


Untuk apkiran, PT Peksi Gunaraharja sebagai mitra juga siap membeli dengan harga saat ini Rp… ????
Oiya, sebelum saya akhiri cerita yang sama sekali tidak lengkap dari pengalaman saya beternak burung puyuh ini, untuk saat ini produksi kalo pas kondisinya baik bisa mencapai 23 ikat per-minggunya. Tapi kadang juga 21 ikat. (1 ikat berisi 900 butir).

Maklum, untuk yang angkatan pertama dan kedua kondisinya memprihatinkan, paling sekarang cuma tinggal 1500 ekor. Soalnya ada yang tadi belum saya ceritakan, bagaimana setelah naik kandang teluran, rumah induknya kurang rapat, jadi banyak burung puyuh yang menjadi santapan pesta malam kucing-kucing liar……

Meoooooooong………………!!!!!!!!!!!! (duh nasibnya jadi peternak baru… memberi sodakoh sama kucing…..)
Sekalian di sini saya lampirkan analisa usaha beternak burung puyuh, dimana analisa usaha ini saya bikin sebelum saya memulai beternak, jadi analisa usaha ini hanya merupakan gambaran setelah saya muter-muter dan nanya-nanya ke peternak-peternak lama….

Jadi maklum kalo analisa usaha yang saya bikin agak semrawut, karena saya sendiri memang bukan ahli di bidang ternak burung puyuh dan memang saya bikin sewaktu saya belum mengalaminya….
Analisa Usaha Beternak Burung Puyuh
(perhitungan dan perencanaan)
Beternak burung puyuh merupakan kerjasama bermitra dengan PT Peksi Gunaraharja. Usaha beternak burung puyuh adalah mengambil hasil produksi telurnya.

Teknis kerjasama
1. Pemesanan terlebih dahulu ke PT untuk menjadi peternak.
2. Setelah pemesanan, kemudian bibit dan obat-obatan diantar oleh PT dan dibayar cash oleh peternak sesuai jumlah pemesanan.
3. Untuk prosedur itu, peternak harus sudah menyiapkan kandang terlebih dahulu, terutama kandang untuk pembesaran bibit.
4. Prosedur teknis selanjutnya dalam masa awal; PT mengantar pakan awal dan pakan teluran. Pakan awal adalah pakan yang digunakan untuk pembesaran bibit (berkisar 40 hari). Sedangkan pakan teluran adalah pakan yang diberikan setelah selesai masa pembesaran untuk merangsang agar burung puyuh siap berproduksi sebagai petelur (berkisar 40 hari setelah habis pakan awal).
5. Setelah nanti berproduksi, pakan dikirim tiap minggu oleh PT, sekaligus mengambil/membeli telur. Masa ini adalah masa produktif, dimana peternak membayar/membeli pakan dari PT dan sekaligus menjual telur ke PT tiap seminggu sekali. Dalam masa produktif, lebih baiknya peternak tetap mengutamakan penjualannya ke PT dan berarti mengikuti standar harga PT.
6. Setelah nanti burung puyuh masuk masa apkir (tidak berproduksi lagi / atau produksinya sudah tidak dapat menutup pembayaran pakan), maka PT juga siap membeli burung puyuh apkiran.
7. Sebaiknya para peternak juga membentuk kelompok. Sebab PT akan memberi fee untuk kelompok. Untuk fee ini ada ketentuannya sendiri yang diberikan tiap tahun.
Permodalan dan Perhitungan Hasil 4000 populasi.

A. Modal Tetap. 1. kandang besar : Rp 7.000.000,- 2. kandang kecil (8 unit) : Rp 4.000.000,- 3. kandang pembesaran : Rp 1.600.000,- 4. alat-alat : Rp 2.000.000,- 5. bibit paket 4000 ekor : Rp 5.000.000,- ( @ Rp 1.250,- ) 6. obat : Rp 200.000,- B. Modal Berjalan Awal. 1. pakan awal : Rp 6.000.000,- (24xRp 250.000) 2. pakan teluran : Rp 7.740.000,- (36xRp 215.000) D. Tak Terduga : Rp 1.000.000,-

Tips Merawat dan Memelihara Puyuh Petelur Agar Tetap Berproduksi dengan Maksimal

Sebelum melanjutkan posting yang ke sekian kali mengenai per-puyuh-an, perlu saya tekankan sekali lagi bahwa semua tulisan saya sejak pertama merupakan “murni hanya bercerita” pengalaman. Jadi harap maklum kalau banyak kekurangan di sana sini terutama mengenai tata cara beternak atau budidaya burung puyuh petelur, karena sama sekali tidak ada dasar disiplin keilmuan peternakan khususnya ternak unggas maupun dasar pengalaman mengikuti peternak besar yang sudah maestro. Maka, sekiranya ada diantara pembaca yang ahli di bidang ternak unggas atau yang sudah lebih berpengalaman, dimohon untuk memberikan masukan-masukan, kritikan, ataupun nasehat yang tentu akan sangat berharga buat saya.
Setelah 20 hari masa pembesaran, sudah saatnya burung puyuh dipindah ke kandang teluran. Sebenarnya 20 hari hari juga hanya patokan saja, sebab ada yang mindahnya setelah burung puyuh berumur 25 hari atau bahkan 30 hari baru dipindah.

Pada saat memindahkan berarti juga tiba saatnya untuk memberi vaksin flu burung. Penting nggak penting pemberian vaksin ini relatif diperlukan. Ingat dengan merebaknya flu burung beberapa saat yang lalu ternyata memang merepotkan peternak-peternak unggas.

Biaya vaksinasi cukup murah, sudah termasuk vaksin dan jasa berkisar Rp 80 ribu untuk 1000 populasi.
Masa burung puyuh berproduksi adalah masa-masa keemasan bagi peternak setelah melewati masa pembesaran yang rasanya melelahkan. Melihat telur-telur yang menggelinding di strimin kandang bagian depan, ada kepuasan tersendiri yang hanya dimiliki oleh sang peternak.

Seperti pepatah Cina mengatakan: lebih mudah membuka toko daripada mempertahankan agar toko tetap buka.

Demikian juga dengan masa burung puyuh bertelur adalah masa yang cukup panjang. Banyak nantinya aral melintang dan hambatan yang mengganggu si cantik-cantik ini berproduksi (mereka betina kan? Jadi cantik-cantik…). Bagaimana tips agar produksi tetap bertahan dalam hitungan “bagus” dan “memuaskan” hingga mengantar mereka untuk mengembalikan modal kita ? Nah, berikut akan saya sampaikan beberapa tips yang sebenarnya sederhana dan biasa saja. Para peternak tentu sudah biasa menjalankan, hanya mungkin tidak sempat menuliskannya.

Produksi telur burung puyuh sudah dalam keadaan stabil maksimal, tetapi kemudian ada penurunan produksi (beberapa ada yang bahkan cukup signifikan). Kaget itu tentu saja. Nah, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menghadapi hal yang demikian adalah:
1. Burung puyuh sering dalam keadaan kelaparan.

Wah, sebaiknya jangan terlalu menerapkan prinsip ekonomi dengan modal sekecil-kecilnya untuk mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya. Jatah pemberian pakan memang diperlukan untuk mengatur pengeluaran. Tapi pembatasan yang berlebihan demi untuk penghematan tentu akan dibalas juga dengan penghematan produksi telur. Sayang kan ?!
2. Rumah induk yang terlalu gelap.

Burung puyuh suka dengan cahaya terang. Maka pemberian lampu sebaiknya siang dan malam. Salah satunya saya buktikan di beberapa kandang adanya pemusatan telur mengumpul di satu sisi yang paling terang. Tapi bisa saja apabila penerangan kurang memadai, burung puyuh akan jarang makan, sehingga otomatis produksi telurnya juga jarang.
3. Periksa kondisi lingkungan.

Terutama dengan suara-suara yang mengagetkan. Biasanya akan berpengaruh dan membuat stres sehingga produksi menurun. Kejadian ini juga bisa disebabkan saat rutinitas “nimpal” atau membersihkan kotoran jaga jangan burung-burung puyuh ini “grobyakan”, apalagi yang berlebihan. Untuk ini ada vitamin yang perlu diberikan untuk mengantisipasi hal-hal yang demikian, yaitu vitamin ANTISTRES.
4. Perubahan cuaca dan iklim.

Biasanya dalam masa pancaroba hawa terasa kurang nyaman. Burung-burung puyuh seakan juga merasakan hal yang sama. Apabila produksinya menurun saat pergantian musim (pancaroba), berarti burung puyuh memang sedang tidak enak badan. Selain pemberian antistres dan vitamin C selama tiga hari berturut-turut, untuk memberi energi pada sore harinya perlu juga pemberian gula pasir untuk minum. Dosis pemberian gula pasir ialah satu sendok makan untuk 10 liter air (tentu diencerkan terlebih dahulu di air panas).

5. Pemberian obat perangsang telur.

Banyak manfaat dari obat perangsang telur ini. Selain merangsang produksi, juga memperbaiki kondisi telur supaya tidak terlalu kecil atau kerabang tipis. Tapi segera hentikan jika sudah terlalu banyak telur yang besarnya di luar ukuran biasa.
6. Periksa kebersihan tempat minum.

Kalau tempat minum sudah terlalu kotor, biasanya burung puyuh jadi agak enggan meminumnya. Otomatis produksi ikut menurun.
7. Rumah induk terlalu pengap.

Karena khawatir kedinginan, kadang ada yang menutup rapat-rapat rumah induk. Ini tidak baik. Seperti kita juga tidak akan sehat tinggal di rumah yang tidak berventilasi. Maka beri angin-angin yang menyegarkan hawa di dalam rumah induk. Beri suasana yang nyaman dengan sirkulasi udara yang cukup untuk burung puyuh tersayang.
8. Adanya penyakit yang menyerang.

Penurunan produksi yang signifikan bisa disebabkan ternyata burung puyuh sedang terserang penyakit. Tentu memanggil dokter PT Peksi Gunaraharja adalah solusinya. Atau sebelumnya diberi obat “trimecyne” dulu apabila terlihat burung-burung puyuh dalam kondisi layu, pucat, dan kotoran yang buruk (berak putih atau berak hijau). Untuk yang ini saya tidak bisa menceritakan lebih lanjut, karena hanya berdasar mendengarkan keterangan dan pengalaman peternak lain. Penulis jangan mengalaminya ya……… hehehe.
9. Terus menerus produksi menurun atau bahkan berhenti dibarengi dengan banyak kematian yang di atas normal. Padahal sudah ditangani dokter PT. Solusinya hanya satu; segera saja diapkirkan. Beres.

Jika segala usaha mempertahankan produksi telur sudah dilakukan dan ternyata tidak juga meningkat. Bisa jadi itu merupakan penurunan yang wajar; apabila seiring dengan berkurangnya populasi setelah jangka waktu yang berjalan.

Berkurangnya populasi yang wajar dapat ditandai dengan ukuran standar kematian. Ukuran kematian ini sejumlah 0,8 ekor per-hari per-1000 populasi. Itu normal (apabila kematian di bawah 0,8 ekor, berarti bagus).
Kalau keadaan populasinya memang sudah berkurang, untuk tetap menstabilkan penghasilan, maka jatah pakan juga sudah saatnya untuk dikurangi. Mudah kan ?