Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Tampilkan postingan dengan label udang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label udang. Tampilkan semua postingan

Identifikasi Permasalahan Kualitas Air Tambak - 01

Perairan tambak merupakan jenis perairan tertutup yang menggenang dan dibatasi oleh petakan tambak, sehingga ditinjau dari dinamika perairan relatif bersifat statis dan kualitas perairannya sangat tergantung dari pengaruh/perlakuan dari luar. Ekosistem yang terbentuk di dalamnya dapat dikatakan bukan suatu ekosistem yang dapat mengontrol keseimbangan dan kestabilan perairan tersebut dengan sendirinya seperti pada ekosistem perairan yang bersifat alami dan terbuka. Suatu ekosistem perairan yang selalu terjaga dalam keseimbangan dan kestabilannya merupakan suatu area yang dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi komunitas organisme yang hidup di dalamnya.

Keseimbangan ekosistem perairan dipengaruhi oleh dua faktor utama yaitu unsur-unsur penyusunnya terdiri atas komposisi yang ideal ditinjau dari segi jenis dan fungsinya yang membentuk suatu rantai makanan di dalam perairan tersebut. Faktor lainnya yang menentukan keseimbangan ekosistem perairan adalah proses-proses yang terjadi di dalamnya baik yang bersifat biologi, kimia dan fisika berlangsung dalam kondisi yang ideal pula dan membawa pengaruh yang tidak membahayakan bagi kehidupan di dalam perairan tersebut.

Kestabilan ekosistem perairan berarti kemampuan ekosistem tersebut mempertahankan keseimbangannya dalam menghadapi perubahan atau guncangan yang disebabkan oleh pengaruh dari luar. Suatu ekosistem perairan dengan tingkat keseimbangan yang bersifat fluktuatif akan memberikan dampak yang cukup nyata bagi kehidupan yang berada di dalamnya, sehingga dengan sendirinya akan menjadi suatu tempat yang tidak kondusif bagi organisme yang hidup di dalam ekosistem perairan tersebut.

Berdasarkan pada uraian di atas maka ekosistem perairan tambak yang merupakan ekosistem tertutup sangat rentan terhadap timbulnya permasalahan baik yang menyangkut kualitas perairan tambak maupun kondisi dan kualitas udangnya. Permasalahan kualitas perairan tambak secara garis besar dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu antara lain:
  1. Faktor internal, yaitu permasalahan yang disebabkan oleh kondisi dari dalam perairan tambak itu sendiri. Pada kondisi ini terjadi karena proses-proses yang berlangsung di dalamnya cenderung tidak terkendali dan tidak dapat dikontrol oleh mekanisme keseimbangan yang bersifat alami.
  2. Faktor eksternal, yaitu permasalahan yang disebabkan oleh pengaruh dari luar tambak dan biasanya karena adanya perubahan cuaca.
  3. Faktor treatment error, yaitu permasalahan kualitas perairan yang disebabkan oleh kesalahan teknis budidaya yang diterapkan. Kondisi ini terjadi karena pengambilan keputusan yang tidak berdasarkan pengamatan dan analisis yang cermat sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan
Permasalahan kualitas perairan tambak sebaiknya dapat diketahui dan diidentifikasi secara dini agar guncangan yang terjadi didalam perairan tersebut tidak menimbulkan masalah yang lebih serius bagi udang. Mengacu pada pengamatan kondisi dan kualitas udang di dalam perairan tambak, maka tingkat permasalahan kualitas air tambak dapat digolongkan ke dalam tiga kategori yaitu :
  1. Ringan. Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak belum mempengaruhi kondisi, kualitas, sifat/behaviour dan aktifitas udang di dalam perairan. Permasalahan yang timbul baru sebatas pada perubahan kondisi lingkungan perairan tambak.
  2. Sedang. Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak belum mempengaruhi kondisi dan kualitas udang, tetapi sudah berpengaruh nyata pada sifat/behaviour dan aktifitas udang di dalam perairan tersebut seperti udang melakukan konvoi, nafsu makan menurun dan cenderung pasif.
  3. Berat. Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak sudah berpengaruh nyata pada kondisi, kualitas, sifat/behaviour dan aktifitas udang di dalam perairan, seperti udang mulai terinfeksi penyakit, melayang-layang di permukaan air, banyak menempel di dinding petakan tambak, pemunculan di ancho sangat banyak dan gerakannya sangat pasif.
  4. Sangat Berat. Pada tingkatan ini permasalahan kualitas air tambak sudah mengakibatkan kematian massal bagi udang, sehingga pengambilan keputusan yang lebih mengarah pada pemanenan.
Tingkat permasalahan kualitas air bisa dikatakan memiliki korelasi dengan pengelolaan kualitas perairan yang dilakukan sebelum perairan terkena masalah terutama yang menyangkut tingkat ketelitian pengamatan kondisi perairan dan udang, metode pengelolaan air, treatmen yang telah digunakan, serta jangka waktu penanganan masalah tersebut. Suatu permasalahan kualitas yang tidak teridentifikasi dan terindikasi sejak dini akan memperberat tingkat permasalahan tersebut, karena terjadi akumulasi permasalahan yang semakin berkembang serta dapat menjalar ke permasalahan aspek lainnya. Jika kondisi ini terjadi maka tingkat permasalahan tersebut tidak hanya bertambah berat tapi juga akan semakin rumit dalam proses pengambilan keputusannya.

Inokulasi Air Tambak -1 - Latar Belakang

Seperti telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya bahwa keseimbangan ekosistem perairan tambak sangat tergantung pada tingkat kestabilan plankton yang berada di dalam perairan tersebut. Proses pengelolaan kualitas perairan tambak pada kondisi tertentu mengalami kendala dalam proses penumbuhan plankton yang disebabkan terlalu kurangnya bibit plankton yang tersedia di perairan tambak maupun pada sumber pemasukan air yang digunakan. Pada kondisi ini jika tidak segera diantisipasi dapat menimbulkan masalah yang cukup serius bagi kegiatan budidaya yang dilakukan. Salah satu metode alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melakukan proses inokulasi air ke dalam tambak.

Inokulasi air dapat diartikan sebagai kegiatan pemindahan bibit plankton dari petakan tambak yang diidentifikasi memiliki kualitas plankton yang sesuai dengan tingkat kebutuhan teknis budidaya dan kondisi udang ke dalam petakan tambak yang tingkat ketersediaan planktonnya sangat kurang atau tidak ada sama sekali. Proses pemindahan dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu selang spiral dan pompa air, metode ini digunakan jika petakan tambak yang digunakan saling berdekatan. Cara lain untuk melakukan inokulasi air adalah mengambil bibit plankton dengan menggunakan wadah khusus dari petakan tambak lain yang letaknya relatif jauh yang kemudian dimasukkan kedalam petakan tambak yang memerlukan bibit plankton.

Kegiatan inokulasi air dapat dilakukan dengan memperhatikan beberapa kondisi/syarat sebagai berikut:
  1. Petakan tambak yang hendak diambil bibit planktonnya bukanlah petakan tambak dengan udang yang bermasalah/penyakit. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terinfeksinya udang dari petakan tambak yang hendak diinokulasi oleh masalah/penyakit tersebut.
  2. Petakan tambak yang hendak diambil bibit planktonnya bukanlah petakan tambak dengan kondisi perairan yang bermasalah. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari timbulnya masalah bagi udang karena kondisi perairan tersebut.
  3. Proses pengambilan / pemindahan bibit plankton tidak menimbulkan guncangan pada kestabilan perairan dari petakan tambak yang diambil bibit planktonnya.
  4. Jenis plankton dari petakan tambak yang diambil plakthonnya bukan dari jenis yang merugikan.
  5. Petakan tambak yang hendak diinokulasi harus bersih dari lumut dan biota sebagai plankton feeder. Keberadaan biota ini akan mempersulit proses penumbuhan plankton di dalam tambak karena keduanya merupakan competitor dan predator bagi plankton.
  6. Kondisi cuaca dan musim sangat pada saat itu mendukung penumbuhan plankton di dalam tambak. Pada cuaca/musim dengan curah hujan cukup tinggi merupakan kondisi yang tidak kondusif bagi kegiatan inokulasi air

Pemupukan Air Tambak - 01 - Latar Belakang

Keberadaan plankton terutama dari jenis phytoplankton di dalam ekosistem perairan tambak mempunyai peran yang sangat besar terhadap kestabilan dan produktifitas perairan yang sangat dibutuhkan oleh organisme yang berada di dalamnya dalam melakukan aktifitas kehidupannya. Peran dan fungsi utama plankton (phytoplankton) di dalam perairan yang dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan pengelolaan kualitas air antara lain :
  1. Phytoplankton merupakan produsen utama dalam rantai makanan yang terdapat di dalam ekosistem perairan tersebut, sehingga tingkat produktivitasnya akan berpengaruh pada produktifitas perairan;
  2. Phytoplankton merupakan salah satu penyuplai oksigen melalui proses fotosintesa dengan bantuan sinar matahari yang dibutuhkan organisme lainnya untuk melakukan respirasi di dalam perairan;
  3. Oksigen (O2) yang dihasilkan phytoplankton dapat menekan terjadinya proses kimiawi perairan yang bersifat racun dan membahayakan bagi udang dan organisme lainnya;
  4. Phytoplankton merupakan shelter bagi udang yang bersifat nocturnal dan phototaksis negatif;
Seperti telah disebutkan pada uraian di atas sebagai jenis tanaman phytoplankton mempunyai chlorophyl (zat hijau daun) yang berperan dalam proses fotosintesa di dalam perairan dengan bantuan sinar matahari. Tingkat produktifitas phytoplankton ditentukan oleh ketersediaan unsur hara yang tersedia di dalam tambak baik yang berasal dari tanah maupun perairan setempat. Pada kondisi tertentu phytoplankton membutuhkan suplai unsur hara dan zat lainnya baik yang bersifat organik maupun an organik untuk memacu peningkatan produktifitasnya di dalam perairan.

Pemupukan air tambak pada dasarnya merupakan salah satu perlakuan teknis budidaya yang berupa pemberian pupuk organik maupun an organik untuk menyuplai zat-zat yang dibutuhkan phytoplankton di dalam tambak dengan dosis sesuai dengan tingkat keperluan. Kegiatan pemupukan air tambak bertujuan antara lain:
  1. Mengatur dan mengontrol tingkat kecerahan air tambak agar sesuai dengan tingkat kebutuhan udang.
  2. Mengatur dan mengontrol kestabilan plankton di dalam tambak agar sesuai dengan tingkat kebutuhan udang.
  3. Memacu pertumbuhan bibit plankton pada perairan yang sedang diperbaiki kualitasnya.
Syarat utama melakukan kegiatan pemupukan air tambak adalah ketersediaan bibit plankton dan adanya sinar matahari. Pemupukan yang dilakukan pada perairan tambak yang tingkat ketersediaan bibit planktonnya sangat minim/tidak ada sama sekali dapat menimbulkan tumbuhnya lumut di dalam tambak atau munculnya kamuflase color yang sangat berpengaruh terhadap kondisi udang atau teknis budidaya.

Sinar matahari sangat dibutuhkan dalam kegiatan pemupukan air tambak yaitu untuk membantu proses fotosintesa plankton sehingga suplai unsur-unsur dalam pupuk yang diperairan dapat diserap oleh plankton dan memacu pertumbuhan dan perkembangannya. Berlandaskan pada dasar pemikiran tersebut maka sebaiknya pemupukan air tambak dilakukan pagi hari pada saat cuaca cerah. Pada kondisi cuaca tidak cerah/musim hujan kegiatan pemupukan sebaiknya dilakukan secara rutin dengan dosis yang sesuai agar tidak terjadi mortalitas plankton secara massal yang disebabkan karena curah hujan yang tinggi, sehingga kestabilan perairan tambak akan tetap terjaga dari kondisi collaps.

Sirkulasi Air Tambak - 01 - Dasar Pemikiran

Perairan yang terbentuk di dalam petakan tambak dapat dikatakan merupakan perairan yang menggenang dalam suatu wadah yang terbatas, sehingga memerlukan suplai air dari luar untuk meregenerasi perairan dan proses-proses yang terjadi didalamnya agar bersifat lebih dinamis dan memberikan suasana nyaman bagi udang dan organisme lainnya yang hidup di perairan tersebut.

Sirkulasi air tambak dapat diartikan sebagai proses penggantian air di dalam tambak dengan jalan membuang sebagian air tambak melalui saluran pembuangan untuk digantikan dengan air baru yang dimasukkan melalui saluran pemasukkan. Pada tambak-tambak tradisional proses sirkulasi air ini sepenuhnya mengandalkan pasang surut air laut, sedangkan pada tambak intesive sudah menggunakan pompa air sebagai alat bantu untuk memasukan air laut ke dalam tambak. Meski demikian secara garis besar sirkulasi air tambak tetap mengacu pada kondisi pasang surut yang terjadi di wilayah tersebut, sehingga kualitas air yang ke dalam tambak tidak terkontaminasi dengan dasar perairan. Beberapa faktor sumber air tambak lainnya yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan sirkulasi air adalah :
  1. Kualitas sumber perairan yang meliputi : (i) Biologi : ketersediaan bibit plankton, keberadaan predator dan competitor bagi udang, ketersediaan pakan alami udang, dsb, (ii) Kimia : kandungan H2S, NH3, tingkat keasaman (pH), dsb; (iii) Fisika : pasang surut, salinitas, kekeruhan air, dsb.
  2. Kondisi fisik air yang meliputi, dasar perairan, dan kandungan partikel yang melayang-layang di air, dsb.
  3. Aktifitas kegiatan manusia seperti alur pelayaran, penangkapan ikan, dsb.
  4. Pencemaran perairan dari lingkungans ekitarnya dan merugikan bagi kegiatan budidaya .
Berdasarkan pemikiran bahwa proses sirkulasi air adalah untuk memperbaiki atau mempertahankan kualitas air, maka ke empat faktor di atas harus benar-benar diperhatikan agar jangan sampai dengan melakukan sirkulasi air, kualitas perairan di dalam tambak mengalami degradasi atau bertambah rusak.

Konsep Metode Pengelolaan Kualitas Air Tambak - 1

Kegiatan pengelolaan kualitas air tambak pada dasarnya berupa program kegiatan yang mengarahkan perairan tambak pada keseimbangan ekosistem perairan dalam suatu petakan terbatas agar tercipta suatu kondisi perairan yang menyerupai habitat alami udang baik dari segi sifat, behaviour maupun secara ekologinya. Penerapan program pengelolaan kualitas air tambak membutuhkan kemampuan teknis budidaya yang memadai dari para pelakunya melalui metode yang digunakan dengan beberapa aspek yang perlu dijadikan sebagai dasar pertimbangan dalam penerapannya, yaitu antara lain :

  1. Metode yang digunakan harus mengacu pada tujuan pengelolaan air tambak. Secara garis besar tujuan dari kegiatan ini terbagi dalam 3 kelompok yaitu : (a) Menjaga atau mempertahankan kualitas air yang sudah sesuai dengan tolok ukur berlaku berdasarkan pengamatan lapangan maupun teori; (b) Memperbaiki kualitas perairan yang kurang sesuai ke arah yang lebih baik; (c) Mengganti perairan tambak yang dapat membahayakan bagi udang dengan perairan yang baru untuk menciptakan lingkungan perairan yang lebih sesuai dengan kondisi dan kualitas udang.
  2. Metode yang digunakan harus tepat sasaran sesuai dengan parameter yang akan dikelola yaitu kecerahan air, warna air tambak, kondisi fisik air tambak dan kondisi dasar tambak. Parameter tersebut membutuhkan pendekatan metode tersendiri yang tetap mengacu pada keterkaitan satu sama lain.
  3. Metode yang digunakan harus dapat menyentuh akar permasalahan kualitas air yang sebenarnya. Permasalahan kualitas air tambak dapat terjadi antara lain karena :(a) Faktor internal tambak, yaitu permasalahan yang terjadi karena terganggunya salah satu unsur penyusun ekosistem perairan tambak;( b) Faktor eksternal tambak, yaitu permasalahan yang diakibatkan oleh adanya pengaruh dari luar tambak seperti perubahan cuaca yang menyebabkan kestabilan perairan terguncang;(c) Faktor treatment error yaitu permasalahan yang terjadi akibat kesalahan perlakuan teknis budidaya
Dasar pertimbangan seperti yang telah diuraikan di atas bertujuan agar penerapan metode yang digunakan dalam pengelolaan kualitas air tambak dapat berjalan efektif dan efisien baik secara teknis budidaya maupun perhitungan finansial. Beberapa metode yang biasa digunakan dalam pengelolaan kualitas air tambak antara lain :
  1. Sirkulasi air
  2. Pemupukan air
  3. Inokulasi air, and
  4. Penggunaan bahan kimia dan obat-obatan (tidak direkomendasikan).
Metode tersebut di atas dalam penerapannya tidak dapat berdiri sendiri dan mempunyai keterkaitan satu sama lain tergantung pada tingkat urgency dan skala prioritas dari perlakuan teknis budidaya yang akan diberikan berdasarkan pengamatan dan identifikasi keperluan yang ditemukan di lapangan. Metode pengelolaan kualitas air tambak yang dilakukan secara terpisah akan mengakibatkan keseimbangan ekosistem perairan tersebut terganggu sehingga dapat menyebabkan suatu permasalahan yang baru yang lebih kompleks.

Kondisi Dasar Tambak - 01 - Latar Belakang

Kondisi dasar tambak merupakan suatu keadaan fisik dasar tambak beserta proses yang terjadi didalamnya baik yang menyangkut biologi, kimia, fisika maupun ekologi yang secara langsung maupun tidak langsung ikut berpengaruh pada kehidupan udang maupun organisme lainnya dalam suatu keterkaitan ekosistem perairan tambak. Parameter ini dapat dijadikan sebagai salah satu tolok ukur kualitas perairan tambak dengan dasar pemikiran sebagai berikut:
  1. Dasar tambak merupakan ruang gerak dan tempat hidup bagi udang dan organisme lainnya dalam kondisi normal seperti habitat alaminya, sehingga kondisi dasar tambak akan mempengaruhi tingkat keamanan dan kenyamanan bagi udang maupun organisme lainnya di dalam perairan tersebut.
  2. Dasar tambak merupakan tempat akumulasi kotoran tambak baik yang berasal dari treatment budidaya maupun proses metabolisme yang dilakukan oleh organisme yang hidup di perairan tambak tersebut.
  3. Dasar tambak merupakan suatu area di dalam tambak yang membentuk suatu sub komunitas tersendiri yang bersifat benthic di dalam tambak dan keberadaannya mempunyai korelasi yang erat dengan ekosistem perairan tambak.
  4. Pada dasar tambak terjadi proses-proses biologi, kimia, fisika dan ekologi yang sangat tergantung pada kestabilan ekosistem perairan.
  5. Pada kondisi tertentu, dasar tambak dapat bersifat an aerob karena tidak terjadinya proses oksidasi sehingga dapat membahayakan bagi kondisi dan kualitas udang di dalam tambak.
Kondisi dasar tambak mempunyai keterkaitan secara langsung dengan kondisi dan kualitas udang serta kualitas perairan tambak, yaitu jika perairan tambak berada pada keseimbangan ekosistem dan bersifat stabil serta kondisi dan kualitas udang bagus maka kondisi dasar tambak akan terjaga dengan sendirinya. Salah satu faktor yang juga ikut menentukan kondisi dasar tambak adalah penempatan posisi kincir air yang dioperasikan pada saat kegiatan budidaya berlangsung. Posisi kincir yang sesuai dan dapat mengarahkan kotoran dasar tambak ke arah sentral pembuangan dapat meminimalkan terjadinya penyebaran akumulasi kotoran tersebut di dasar tambak, sehingga pada saat dilakukan pembuangan air tambak kotoran tersebut dapat ikut terbawa.

Pada dasarnya setiap petakan tambak yang sedang dioperasikan selalu dijumpai adanya kotoran dan hal yang perlu diperhatikan adalah tingkat keberadaan dan tingkat penyebarannya di dasar tambak dibandingkan dengan tolok ukur dari hasil pengamatan terhadap kondisi dan kualitas udang serta kualitas perairan tambak. Beberapa faktor penyebab yang dapat mengakibatkan terjadinya akumulasi kotoran di dasar tambak adalah antara lain:
  1. Desain dan kontruksi dasar tambak yang tidak dirancang dengan tingkat kesesuaian terkonsentrasinya kotoran ke arah sentral pembuangan, sehingga menyebabkan kotoran di dasar tambak tersebut menyebar di beberapa titik konsentrasi.
  2. Penempatan posisi kincir air yang kurang tepat, sehingga tidak dapat mengarahkan kotoran tersebut ke arah sentral pembuangan.
  3. Program pakan yang over feeding jika dibandingkan dengan tingkat kebutuhan udang. Sisa pakan yang berlebihan tersebut tidak terkonsumsi oleh udang dan membusuk serta terakumulasi di dasar tambak menjadi kotoran.
  4. Teknik pemberian pakan yang tidak merata ke seluruh area pakan di dalam petakan tambak, sehingga pakan terakumulasi di satu titik dan tidak terkonsumsi merata sehingga membusuk di dasar tambak.
  5. Tingkat populasi udang di dalam tambak. Pada tambak dengan populasi udang yang relatif padat, kondisi dasar tambak akan relatif bersih karena kotoran di dasar tambak akan terdorong dengan sendirinya ke sentral pembuangan yang diakibatkan oleh aktifitas udang di dasar tambak.
  6. Kurangnya pengecekkan dasar tambak dengan melakukan penyelaman secara berkala.
  7. Kurangnya intensitas dan frekuensi sirkulasi air yang dapat mendorong kotoran dasar tambak ke arah sentral pembuangan.

Kondisi Dasar Tambak – 02 - Metode Pengamatan

Kotoran di dasar tambak biasanya berupa lumpur hitam yang mengendap di dasar serta mengandung H2S dan NH3 yang bersifat asam dalam dosis tertentu dapat membahayakan bagi udang. Kotoran ini berasal dari proses metabolisme yang dilakukan oleh organisme perairan tersebut, mortalitas plankton dan sisa pakan udang yang tidak terkonsumsi serta pengaruh dari treatment budidaya lainnya. Keberadaan lumpur hitam di dasar tambak dapat teramati melalui cara antara lain:
  1. Pengamatan warna kulit/khitin udang melalui sampling berkala maupun pengamatan ancho. Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya berdampak pada penampakan kulit udang yang cenderung berwarna lebih gelap dari keadaan normal. Pada saat dilakukan sampling sampling kotoran dasar tambak/lumpur biasanya ikut terbawa pada jala yang ditebarkan ke dalam tambak.
  2. Pengecekkan langsung ke dasar tambak dengan melakukan penyelaman untuk melihat kondisi dasar tambak dan kondisi udang.
  3. Melihat saluran pembuangan air tambak pada saat dilakukan sirkulasi air dengan memperhitungkan jangka waktu yang dibutuhkan untuk mengeluarkan kotoran/lumpur tersebut. Pada kegiatan ini juga perlu diperhatikan tingkat kelancaran saluran pembuangan dalam mengeluarkan air tambak, jika terjadi penyumbatan maka dibutuhkan identifikasi lanjutan terhadap penyebab penyumbatan tersebut. Faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan adalah keberadaan bangkai udang yang ikut terbawa keluar bersama air tambak berdasarkan jumlah dan kondisi bangkai udang tersebut agar dapat diambil alternatif keputusan yang mengarah pada harvesting decision ataupun treatment decision.
  4. Pengamatan terhadap permukaan air tambak pada saat kincir air tidak dioperasikan. Kondisi dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur biasanya mengeluarkan gelembung-gelembung udara yang muncul dari dasar tambak ke arah permukaan air, jika di permukaan tambak banyak dijumpai fenomena ini maka kondisi dasar tambak relatif sangat kotor dan penuh lumpur.
Pemantauan kondisi dasar tambak perlu dilakukan secara cermat baik melalui pengamatan berkala maupun yang bersifat insidental agar permasalahan yang terjadi dapat segera ditangani. Permasalahan cukup serius yang biasanya terjadi adalah kematian udang di dasar tambak karena berbagai permasalahan yang tidak terdeteksi. Kematian udang di dasar tambak yang disebabkan oleh proses moulting biasa dijumpai dan bersifat alamiah karena adanya kanibalisme dari udang lainnya dalam kuantitas masih berada pada batas toleransi yang ditetapkan. Sedangkan kematian udang di dasar tambak yang bersifat massal dan disebabkan oleh permasalahan yang tidak terdeteksi biasanya bangkai udang terkonsentrasi di sentral pembuangan dan pada tingkat yang lebih parah bangkai udang menyebar di dasar tambak.

Kondisi Dasar Tambak – 03 - Dasar Pertimbangan

Sebagai upaya mengantisipasi permasalahan tersebut maka perlu dilakukan pemantauan dasar tambak baik secara yang bersifat insidental seperti yang telah diuraikan di atas maupun yang bersifat berkala yaitu dengan melakukan pengangkatan kotoran dan lumpur hitam terutama yang berada di sentral pembuangan dengan alat bantu pompa air dan selang spiral dengan menyedot kotoran dan lumpur hitam tersebut dan membuangnya melalui saluran pembuangan. Kegiatan ini sebaiknya juga diikuti dengan pemantauan tingkat kematian udang di dasar tambak melalui cara mengambil sampel bangkai udang dan kuantitasnya yang dijumpai untuk dilakukan identifikasi tingkat permasalahan sebagai dasar pengambilan keputusan. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum melakukan kegiatan ini antara lain:
  1. Kondisi dan kualitas udang, karena kegiatan pengangkatan kotoran dan lumpur hitam secara berkala ini akan memberikan guncangan pada kestabilan kualitas perairan yang dapat menimbulkan stress pada udang. Kegiatan ini sebaiknya dilakukan pada saat kondisi udang benar-benar bagus dengan tingkat daya tahan terhadap stress tinggi, sedangkan pada udang dalam situasi moulting massal diharapkan tidak melakukan kegiatan ini karena kondisi udang lemah dan tingkat daya tahan terhadap stress relatif rendah.
  2. Keadaan cuaca pada saat itu sebaiknya berada pada kondisi yang dapat menunjang proses pembentukan kembali kualitas perairan setelah dilakukan kegiatan pengangkatan kotoran dan lumpur dasar tambak.
  3. Kondisi pasang surut yang mendukung kelancaran pergantian air tambak dan pembuangan kotoran dan lumpur hitam ke saluran pembuangan.
  4. Pembentukan kembali kualitas perairan tambak yang relatif mengalami guncangan akibat kegiatan tersebut ke arah kesimbangan ekosistem perairan di dalam tambak.
  5. Pemantauan kondisi udang setelah dilakukan kegiatan pengangkatan dan pembersihan dasar tambak.
Setelah dilakukan pembersihan dasar tambak dengan cara pengangkatan kotoran dan lumpur hitam keluar tambak sebaiknya diikuti dengan pemberian kapur lunak ke dalam perairan dengan dosis sesuai dengan keperluan dengan tujuan mengembalikan/memperbaiki tingkat keasaman dasar tambak. Pemberian kapur ini sebenarnya dapat bersifat rutin/berkala selain untuk menjaga keasaman dasar tambak juga diperlukan untuk membantu proses moulting udang yang bersifat periodik.

Kondisi dasar tambak yang dikontrol dan dipantau secara baik dan cermat selain memperbaiki kualitas perairan juga akan membantu pada saat kelak dilakukan panen udang. Dasar tambak yang relatif bersih akan memudahkan proses pemanenan dan berpengaruh pada kualitas udang yang dihasilkan, sebaliknya dasar tambak yang kotor dan penuh lumpur akan menyulitkan proses pemanenan dan dapat menimbulkan degradasi kualitas udang yang dihasilkan. Selain itu kondisi dasar tambak juga ikut berpengaruh pada penerapan program teknis budidaya lainnya terutama dalam proses pengambilan keputusan yang bersifat perlakuan maupun pemanenan.

Warna Air Tambak – 03 – Kriteria Warna Air

Kriteria warna air tambak yang dapat dijadikan acuan standar dalam pengelolaan kualitas air adalah seperti di bawah ini:
  1. Warna air tambak hijau tua yang berarti menunjukkan adanya dominansi chlorophyceae dengan sifat lebih stabil terhadap perubahan lingkungan dan cuaca karena mempunyai waktu mortalitas yang relatif panjang. Tingkat pertumbuhan dan perkembangannya yang relatif cepat sangat berpotensi terjadinya booming plankton di perairan tersebut.
  2. Warna air tambak kecoklatan yang berarti menunjukkan adanya dominansi diatomae. Jenis plankton ini merupakan salah satu penyuplai pakan alami bagi udang, sehingga tingkat pertumbuhan dan perkembangan udang relatif lebih cepat. Tingkat kestabilan plankton ini relatif kurang terutama pada kondisi musim dengan tingkat curah hujan yang tinggi, sehingga berpotensi terjadinya plankton collaps dan jika pengelolaannya tidak cermat kestabilan kualitas perairan akan bersifat fluktuatif dan akan mengganggu tingkat kenyamanan udang di dalam tambak.
  3. Warna air tambak hijau kecoklatan yang berarti menunjukkan dominansi yang terjadi merupakan perpaduan antara chlorophyceae dan diatomae yang bersifat stabil yang didukung dengan ketersediaan pakan alami bagi udang.
Standar warna air tambak seperti tersebut di atas merupakan acuan praktis dalam mengidentifikasi jenis plankton sebagai upaya pendeteksian masalah kualitas perairan secara dini. Selain warna standar tersebut ada beberapa warna air tambak yang biasa dijumpai dalam kegiatan usaha budidaya udang, yaitu antara lain:
  1. Warna air tambak kekuningan yang berarti menunjukkan adanya dominansi phytoplankton jenis cyanophyceae. Pada kondisi perairan tambak seperti ini biasanya udang berwarna lebih pucat dari biasanya disertai dengan penurunan nafsu makan udang dan jika tidak segera diantisipasi dapat menimbulkan kerusakan pada hepatopanchreas udang.
  2. Warna air tambak hijau pupus yang berarti menunjukkan adanya dominansi phytoplankton jenis dynophyceae dampak yang ditimbulkan relatif sama dengan point (1).
  3. Warna air tambak biru kehijauan yang berarti menunjukkan adanya dominansi blue green algae dampak yang ditimbulkan relatif sama dengan point (1).
  4. Kamuflase green color, pada kondisi ini tambak seolah-olah berwarna kehijauan tapi pada dasarnya tidak/kurang mengandung plankton. Hal ini terjadi biasanya pada tambak yang kandungan bibit planktonya sangat kurang tetapi kegiatan pemupukan berjalan terus, sehingga warna yang ditimbulkan adalah warna karena pengaruh cuaca. Kejadian ini dapat diketahui dengan mengukur kecerahan perairan tambak yang biasanya sangat tinggi, atau dengan melihat warna air yang ada pada kincir air yang sedang dioperasikan.
Identifikasi jenis plankton di perairan tambak secara praktis dengan melihat warna perairan seperti telah diuraikan di atas perlu ditunjang dengan pengamatan dan analisis laboratorium secara berkala untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Kegiatan ini dilakukan dengan cara pengambilan sampel perairan dan sampel udang dari petakan-petakan tambak baik yang bermasalah maupun yang tidak terkena masalah, sehingga dapat diambil perbandingannya.

Warna Air Tambak – 02 – Aspek Analisis

Aspek yang perlu diperhatikan dalam menilai dan menganalisis warna air tambak secara garis besar meliputi:
  1. Jenis plankton yang dominan.
  2. Kelimpahan plankton yang dominan.
  3. Kondisi dan kualitas udang.
Analisis terhadap jenis plankton yang dominan didasarkan pada karakteristik dan sifatnya serta tingkat permasalahan yang mungkin ditimbulkan di dalam perairan dan pengaruhnya terhadap organisme lainnya. Perairan tambak yang didominansi oleh jenis plankton yang bersifat menguntungkan dan membawa pengaruh yang nyaman dan aman pada organisme lainnya keputusan yang perlu diambil adalah cara untuk mempertahankan, sedangkan jika dominansi yang terjadi adalah dari jenis plankton yang merugikan maka perlu dilakukan penggantian dominansi plankton dengan melakukan penurunan air tambak dalam volume yang besar dan proses inokulasi bibit plankton yang menguntungkan dari petakan tambak lainnya disertai dengan pemupukan.

Kelimpahan plankton yang dominan di perairan tambak erat hubungannya dengan tingkat kecerahan air tambak seperti telah diuraikan dalam pembahasan sebelumnya. Kelimpahan yang terlalu tinggi dari jenis plankton yang merugikan akan sangat membahayakan bagi udang dan dapat menimbulkan masalah serius jika tidak segera diantisipasi.

Analisis warna air tambak yang berkaitan dengan dominansi jenis plankton tertentu harus bermuara pada kondisi dan kualitas udang yang hidup di perairan tersebut. Keadaan ini dapat diartikan bahwa meskipun dominansi plankton di perairan tambak tersebut merupakan jenis yang menguntungkan tapi jika kondisi dan kualitas udang mengalami degradasi, maka ada sesuatu masalah di dalam perairan tersebut sehingga perlu diadakan identifikasi dan analisis penyebab masalah secara cermat dan akurat. Sebaliknya jika pengamatan warna air tambak menunjukkan adanya dominansi plankton yang merugikan sedangkan kondisi dan kualitas udang dalam keadaan normal, maka proses penggantian air tambak perlu dilakukan secara bertahap dan kontinyu agar tidak menimbulkan stress pada udang sampai dominansi plankton di dalam tambak tergantikan dengan jenis yang baru dan bersifat menguntungkan.

Warna Air Tambak - 01 - Dasar Pemikiran

Warna air tambak pada dasarnya terjadi karena adanya dominansi jenis plankton tertentu yang tumbuh dan berkembang di dalam perairan tambak. Parameter ini dapat digunakan sebagai salah satu tolok ukur kualitas perairan tambak secara praktis melalui pengamatan visual dengan memperhatikan kondisi dan kualitas udang di dalam perairan tersebut dengan dasar pemikiran seperti berikut ini:
  1. Phythoplankton mempunyai karakteristik warna tertentu yang disebabkan oleh kandungan chlorophyl yang relatif berbeda antara jenis yang satu dengan yang lainnya.
  2. Plankton memiliki karakteristik sifat tertentu dalam melakukan proses kegiatannya baik itu biologi, kimia, fisika dan ekologi yang relatif berbeda antara jenis yang satu dengan yang lainnya.
  3. Phythoplankton merupakan produsen utama dalam rantai makanan yang ada di perairan tambak, sehingga dominansinya relatif berpengaruh pada kehidupan organisme lainnya.
  4. Tidak semua jenis plankton yang tumbuh dalam perairan tambak bersifat menguntungkan bagi udang atau organisme lainnya di dalam tambak, sehingga dominansi dari jenis tertentu akan berpengaruh pada tingkat kenyamanan organisme lain di dalam tambak.
Dasar pemikiran diatas memperlihatkan bahwa warna perairan tambak yang disebabkan oleh adanya dominansi jenis plankton tertentu dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan tentang kualitas air tambak. Faktor dominansi plankton di dalam tambak dapat terjadi karena pengaruh bibit plankton yang dimasukkan ke dalam tambak dan treatment yang diterapkan dalam proses penumbuhan dan pengelolaan plankton. Pada saat awal pembentukan air tambak bibit plankton yang dimasukkan ada kemungkinan sudah terjadi dominansi yang selanjutnya tumbuh dan berkembang di dalam tambak. Pada kasus lain bibit plankton yang dimasukkan ke dalam tambak belum terjadi dominansi, tapi treatment yang diterapkan memungkinkan terjadinya pertumbuhan dan perkembangan jenis plankton tertentu sehingga mendominansi perairan tambak.

Kecerahan Perairan Tambak – 03 – Indikator Pada Udang

Pengambilan keputusan dalam menentukan tingkat kecerahan yang akan diterapkan harus berdasarkan perubahan behaviour udang melalui pemantauan dan pengamatan visual secara cermat agar tidak menimbulkan masalah. Secara praktis tingkat kecerahan yang dibutuhkan udang dapat diamati melalui perubahan warna kulit/chitin dari udang sebagai salah satu indikatornya karena chitin mempunyai karakteristik tersendiri yaitu peka terhadap perubahan lingkungan perairan, karena pada saat udang moulting zat chitin akan menyerap bahan-bahan yang diperlukan dalam pembentukan kulit yang baru dari lingkungan perairan sekitarnya. Indikator yang dapat dipakai untuk mengukur kebutuhan udang terhadap kecerahan air tersebut adalah :
  1. Kecerahan air telalu tinggi, biasanya kulit udang berwarna kusam kecoklatan. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa udang membutuhkan kecerahan air yang lebih rendah dan jika tidak segera diantisipasi akan dapat menimbulkan beberapa masalah antara lain tubuh udang lembek, tingkat keseragaman udang dalam populasi akan bervariasi dan secara tidak langsung dapat menurunkan populasi udang di dalam tambak.
  2. Kecerahan air terlalu rendah/pekat, biasanya kulit udang berwarna lebih pucat dari biasanya. Kondisi ini mengisyaratkan bahwa udang membutuhkan kecerahan air perlu ditinggikan/diencerkan dan jika tidak segera diantisipasi akan dapat menimbulkan beberapa masalah antara lain : nafsu makan udang menurun, hepatopanchreas menyusut sehingga rentan terhadap penyakit.
Pengelolaan tingkat kecerahan air tambak yang mempunyai korelasi secara langsung dengan kelimpahan plankton pada dasarnya merupakan pengelolaan pertumbuhan plankton di dalam tambak dengan standar kelimpahan yang dibutuhkan udang dan keseimbangan ekosistem perairan tambak.

Kecerahan Perairan Tambak – 02 –Tingkat Kecerahan

Faktor-faktor yang menjadi dasar pemikiran dalam menentukan tingkat kecerahan air tambak adalah kondisi perairan baik dari segi biologi, kimiawi dan fisika bagi kehidupan udang, adalah seperti di bawah ini:

A. Tingkat Kecerahan Air Tambak Terlalu Tinggi

Pada kondisi seperti ini permasalahan kualitas perairan yang mungkin timbul adalah:
  1. Tingkat produktivitas perairan rendah karena kandungan plankton sangat rendah.
  2. Terganggunya proses biologi, kimia, fisika sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam ekosistem, karena plankton merupakan produsen utama yang selain sebagai sumber makanan juga ikut membantu berlangsungnya proses-proses tersebut dengan suplai oksigen ke dalam perairan melalui kegiatan fotosintesanya.
  3. Penetrasi sinar matahari sampai kelapisan air bagian bawah akan membantu proses oksidasi kotoran dasar tambak yang bercampur dengan bangkai plankton sehingga terangkat sampai ke permukaan air tambak. Kondisi ini merupakan proses terbentuknya klekap tambak dan jika tidak segera diangkat akan mengendap kembali ke dasar tambak dan akan membusuk dan sangat berbahaya bagi udang.
  4. Berpotensi menumbuhkan lumut di dalam tambak dan akan menghambat pembentukan plankton serta menghambat gerak dan aktifitas udang.
B. Tingkat Kecerahan Air Tambak Terlalu Rendah / Pekat

Pada kondisi seperti ini permasalahan kualitas perairan yang mungkin timbul adalah:
  1. Pada siang hari terutama pada cuaca cerah kandungan oksigen didalam perairan akan over quantity yang dihasilkan planthon melalui proses fotosintesa dengan bantuan sinar matahari dan dapat membahayakan udang jika telah melebihi ambang batas.
  2. Pada malam hari akan terjadi persaingan penyerapan oksigen antara plankton yang melimpah dengan udang dan organisme lainnya, selain itu juga akan terjadi peningkatan kadar CO2 di dalam perairan tambak.
  3. Memungkinkan tumbuhnya bakteri an aerob di dasar tambak yang bersifat merugikan (pathogen) bagi udang.

Kecerahan Perairan Tambak - 01- Latar Belakang

Kecerahan air tambak merupakan tingkat penetrasi cahaya matahari di dalam air tambak yang dinyatakan dengan satuan panjang. Alat yang biasa digunakan untuk mengukur tingkat kecerahan air tambak adalah seichi disk, yaitu berupa piringan yang diberi warna hitam putih dan dihubungkan dengan tongkat/tali pegangan yang mempunyai garis-garis skala. Cara penggunaan alat ini adalah dengan mencelupkannya ke dalam perairan secara perlahan sampai pada kedalam dimana seichi disk mulai tidak kelihatan, kemudian tingkat kecerahan air dapat terbaca pada skala yang telah ada. Pengukuran kecerahan air sebaiknya dilakukan pada saat siang hari dan cuaca relatif cerah.

Pada perairan tambak kecerahan air erat hubungannya dan berbanding terbalik dengan kelimpahan plankton terutama jenis phytoplankton yang berada di dalam perairan tersebut, atau dengan kata lain semakin tinggi tingkat kecerahan air maka kelimpahan phytoplankton akan semakin rendah dan sebaliknya semakin rendah tingkat kecerahan air maka kelimpahan phytoplankton di perairan tersebut semakin tinggi. Pengelolaan kecerahan air ditinjau dari kelimpahan plankton adalah bertujuan menyesuaikan kebutuhan udang yang bersifat nocturnal dan phototaksis negatif sehingga membutuhkan suatu tempat berteduh (shelter) dari pengaruh cahaya matahari secara langsung.

Phytoplankton merupakan jenis tanaman berukuran renik yang mempunyai zat hijau daun (chlorophyl) dan selalu melakukan fotosintesa dengan bantuan sinar matahari. Produktivitas plankton akan meningkat dengan semakin meningkatnya intensitas matahari ke dalam perairan tambak, sehingga kelimpahan plankton akan semakin meningkat pula dan akan mengurangi tingkat penetrasi cahaya matahari ke dalam perairan. Berdasarkan uraian tersebut maka kecerahan air merupakan suatu variable dari kelimpahan plankton dan tingkat intensitas matahari. Kondisi ini dapat dijadikan acuan dalam pengelolaan kecerahan air tambak yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan serta sifat udang.

Tingkat kecerahan air yang dibutuhkan udang relatif berubah sesuai dengan pertambahan umurnya, yaitu:
  1. Udang usia tebar dan udang muda, tingkat kecerahan air yang dibutuhkan relatif tinggi sampai dengan tembus dasar tambak.
  2. Udang dewasa, tingkat kecerahan yang diperlukan sekitar 35 cm – 40 cm atau menyesuaikan kondisi udang.

Pantaulah Sumber Pemasukkan Air Tambak

Pada pembahasan sebelumnya (lihat di sini) telah diuraikan bahwa sumber pemasukan air tambak yang biasa digunakan secara garis besar berasal dari air laut dan air sungai. Kondisi dan kualitas sumber pemasukan air tersebut akan sangat menentukan kondisi dan kualitas air tambak pada saat tertentu. Berdasarkan hal tersebut, maka kegiatan pengelolaan kualitas air tambak sebaiknya juga mencakup kegiatan pemantauan sumber pemasukan air sebagai dasar pengambilan keputusan terkait dengan perlakuan teknis yang akan diterapkan.

Air laut dan air sungai sebagai perairan umum setiap saat dapat mengalami perubahan kondisi dan kualitasnya yang disebabkan oleh factor lingkungan sekitarnya, cuaca, iklim maupun aktifitas yang dilakukan oleh manusia pada perairan tersebut. Perubahan-perubahan yang terjadi pada air laut dan air sungai tersebut jika tidak dipantau secara cermat dapat menimbulkan permasalahan bagi kegiatan budidaya udang terutama pada kegiatan pengelolaan kualitas air tambak. Perubahan kualitas air akan menyebabkan guncangan kualitas air tambak sekaligus guncangan terhadap udang yang ada di dalamnya.

Kegiatan pemantauan sumber pemasukkan air tambak sebaiknya dilakukan minimal sehari sekali. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui pengamatan visual terhadap kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan yang terjadi pada air laut/sungai dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Kondisi yang perlu diwaspadai adalah jika terjadi perubahan yang sangat drastis disertai dengan perubahan tingkah laku biota-biota perairan tersebut (biota perairan terlihat melayang di permukaan air bahkan pada kondisi ekstrim terlihat banyak bangkai biota perairan). Kondisi ini mengindikasikan telah terjadi perubahan kualitas perairan secara ekstrim yang menyebabkan kematian pada biota perairan. Pada kondisi ini sebaiknya tidak dilakukan kegiatan pemasukan air ke dalam tambak sampai saat kondisi dan kualitas air laut/sungai kembali normal

Berdasarkan uraian tersebut di atas maka dapat dikatakan bahwa kegiatan pemantauan kualitas sumber pemasukan air tambak sama pentingnya dengan kegiatan pengelolaan kualitas air tambak itu sendiri. Sebagai upaya mengantisipasi dampak negatif yang disebabkan oleh adanya perubahan kualitas air laut/sungai, maka sebaiknya dihindari pemasukan air laut/sungai ke dalam tambak secara langsung. Sebagai upaya mendapatkan masukan air yang relatif dapat terkontrol kualitasnya, maka dalam suatu usaha budidaya udang, secara teknis sebaiknya disediakan suatu tandon air (pembahasan terkait pentingnya tandon air dapat dilihat di sini).

Sebuah filosofi yang perlu untuk dicamkan adalah: udang berasal dari laut, lihatlah perubahan yang terjadi di laut ……. Lalu amati perubahan apa yang akan terjadi pada udang

Frekuensi Pakan

Frekuensi pakan merupakan salah satu bagian dari program pakan yang memiliki peran strategis dalam menentukan keberhasilan suatu program pakan pada satu periode budidaya. Frekuensi pakan dapat diartikan sebagai berapa kali suatu kegiatan pemberian pakan diberikan dalam satu hari.

Frekuensi pakan perlu disusun berdasarkan pemikiran sebagai berikut :
  1. Tingkat kebutuhan udang akan pakan relatif selalu berubah (fluktuatif) berdasarkan waktu;
  2. Nafsu makan udang relatif berbeda antara pagi, siang, sore dan malam;
  3. Menghindari adanya over feeding, karena frekuensi pakan merupakan program harian, sehingga pemberian pakan dapat menyesuaikan dengan tingkat kebutuhan udang;Efektifitas dan efisiensi program pakan melalui tolok ukur FCR dapat terkontrol secara harian.
Penyusunan frekuensi pakan merupakan program yang berkesinambungan dalam satu siklus budidaya yaitu dari mulai tebar benur sampai udang dipanen. Dalam menyusun frekuensi pakan diperlukan kecermatan dan kejelian pengamatan terhadap tingkat kebutuhan udang yang sebenarnya pada suatu waktu. Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan sebagai variabel antara lain sebagai berikut :
  1. Ketersediaan pakan alami pada saat tebar benur.Seperti telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya, ketersediaan pakan alami di dalam tambak akan menentukan jumlah kebutuhan pakan buatan yang akan diberikan. Sebagai upaya menghindari kekurangan pakan yang disebabkan karena persediaan pakan alami yang telah menipis/habis, maka dalam perlu dilakukan blind feeding yang telah dijelaskan dalam pembahasan program pemberian pakan.
  2. Jumlah pakan per hari (P/H), yaitu jumlah total pakan yang diberikan dalam satu hari.
  3. Ukuran pakan, yaitu ukuran butiran pakan yang sesuai dengan umur udang di dalam tambak.
  4. Waktu pemberian pakan, yaitu alokasi waktu untuk melakukan pemberian pakan dalam satu hari. Alokasi waktu inilah yang disebut sebagai frekuensi pakan.
  5. Persen pakan, yaitu menunjukkan berapa persentase pakan yang akan diberikan dalam satu kali pemeberian pakan dibandingkan dengan jumlah total pakan per hari.
  6. Persen di ancho.Ancho merupakan salah satu alat yang terbuat dari kain kassa dari nylonstrimmin) berbentuk kotak dengan ukuran tertentu dan digunakan sebagai pengontrol program pakan, pertumbuhan serta kualitas udang secara harian/insidental. Persen di ancho, menunjukkan berapa persentase jumlah pakan yang diletakkan di ancho dibandingkan dengan jumlah total pakan yang diberikan pada satu waktu di dala satu petakan tambak. Variabel ini digunakan sebagai tolok ukur habis tidaknya pakan yang telah diberikan pada saat itu.
  7. Waktu pengontrolan pakan di ancho. Variabel ini merupakan batasan waktu yang dijadikan standar dalam pengambilan keputusan habis tidaknya pakan yang telah diberikan.
Beberapa aspek di atas merupakan variabel-variabel yang perlu dipertimbangkan dalam menyusun frekuensi pakan. Sebagai bahan illustrasi contoh program pakan disajikan pada tabulasi Contoh Frekuensi Pemberian Pakan.pdf

Pakan Buatan Untuk Udang

Seperti dalam pembahasan sebelumnya, pakan buatan bagi udang dapat diartikan sebagai pakan yang dibuat dalam skala industri dengan komposisi nutrisi dan gizi sesuai dengan kebutuhan udang dan diberikan untuk menyuplai makanan pada tambak dengan tingkat ketersediaan pakan alaminya telah menipis/habis sama sekali. Tingkat penggunaan pakan buatan relatif berbeda berdasarkan skala budidaya udang yang diterapkan, seperti akan diuraikan di bawah ini:
  1. Pada budidaya udang skala tradisional, penggunaan pakan buatan tidak/jarang sekali digunakan pada pola pemberian pakan yang diterapkannya. Penggunaan pakan buatan hanya terbatas pada pakan yang dibuat berdasarkan kemampuan pengelola tambak secara perorangan. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pakan buatan antara lain : dedak (bekatul), jagung, tepung dan ikan rucah sebagai campuran. Pakan jenis ini biasanya digunakan setelah udang mencapai usia panen dengan estimasi populasi udang yang relatif banyak.
  2. Pada budidaya udang skala semi intensif, penggunaan pakan buatan lebih diarahkan pada upaya antisipasi terjadinya kekurangan pakan alami berdasarkan estimasi populasi udang yang ada pada saat itu. Pemberian pakan buatan yang diterapkan tidak bersifat mutlak dan lebih cenderung insidental.
  3. Pada budidaya udang skala intensif, penggunaan pakan buatan terutama yang berskala industri bersifat mutlak sebagai salah satu syarat pengelolaan budidaya udang. Padat penebaran udang yang relatif tinggi merupakan salah satu dasar pemikiran yang perlu dipertimbangkan. Selain itu penerapan pakan buatan yang benar pada budidaya udang skala intensif dapat membantu dalam estimasi kondisi dan pertumbuhan udang di dalam tambak
Jika dibandingkan dengan jenis pakan udang lainnya, maka pakan buatan skala industri mempunyai karakteristik ditinjau dari segi ukuran dan komposisi nilai gizi yang dikandungnya. Karakteristik tersebut dibuat dan ditentukan oleh industri pembuatnya berdasarkan sifat dan kebutuhan udang yang ada di dalam tambak.

Ukuran pakan buatan bagi udang merupakan ukuran besar kecilnya butiran-butiran pakan yang sesuai dengan kebutuhan udang pada saat dan kondisi tertentu. Berdasarkan ukurannya, pakan buatan secara garis besar biasanya dapat digolongkan ke dalam jenis:
  1. Crumble, yaitu butiran pakan yang berupa serbuk/butiran halus dan biasa digunakan pada udang usia tebar (benur).
  2. Pellet, yaitu pakan buatan yang berupa butiran-butiran kecil sampai butiran kasar dan biasa digunakan pada udang dewasa sampai udang usia panen.
Selain ukuran, ditinjau berdasarkan komposisi kandungan nutrisinya pakan buatan mempunyai formulasi yang sudah disesuaikan dengan kebutuhan pertumbuhan udang. Nutrisi yang biasanya terdapat dalam pakan buatan antara lain : karbohidrat, protein, lemak, serat dan beberapa zat esensial lain yang dibutuhkan udang. Komposisi nutrisi tersebut dapat berbeda tergantung dari ukuran pakan dan industri pembuatannya. Dalam kondisi tertentu pakan buatan tersebut dikombinasikan dengan zat-zat suplemen (antara lain vitamin) untuk mengatasi kekurangan zat tersebut dan dibutuhkan oleh udang dalam keadaan sangat diperlukan.

Bagaimana mencapai Nilai FCR (Food Conversion Ratio) Secara Optimal

Nilai FCR optimal dapat diartikan sebagai FCR yang memiliki nilai keuntungan (profit value) yang optimal baik secara teknis budidaya maupun financial yang diperoleh melalui pengelolaan program pakan sesuai dengan tingkat kebutuhan udang dalam satu siklus periode budidaya udang.

Upaya untuk memperoleh nilai FCR yang optimal dapat dilakukan melalui beberapa alternative kegiatan sebagai berikut:
  1. Lakukan pengamatan secara cermat terhadap tingkah laku benur/udang kecil pada saat fase bulan pertama (awal tebar – sub fase minggu ke 4) untuk mengetahui kebutuhan udang terhadap suplai pakan dari luar (pakan buatan) yang disebabkan oleh kurangnya/habisnya stok pakan alami di dalam perairan tambak. Jika benur/udang kecil sudah menunjukkan tingkah laku (konvoi, merayap di dinding tambak, dsb), segera mulai dilakukan pemberian pakan dengan system “blind feeding”.
  2. Pada saat melakukan “blind feeding” sebaiknya sudah mulai dilakukan cek pakan di anco secara kasar untuk melakukan estimasi kebutuhan populasi udang terhadap pakan per harinya.
  3. Jika berdasarkan cek pakan di anco tersebut di atas telah dapat diestimasikan kebutuhan pakan hariannya, maka sebaiknya program pakan sudah mulai terukur. Pada kondisi ini, frekuensi pakan harian sebaiknya sudah 3 kali sehari.
  4. Lakukan sampling udang pada saat awal bulan kedua atau pada saat udang berukuran sekitar 2.5 gram – 5 gram (bisa dilakukan melalui sampling anco maupun sampling jala). Kegiatan sampling awal ini bertujuan untuk mengestimasi tingkat kehidupan populasi udang di dalam tambak (SR=survival rate), kondisi dan kualitas udang, berat rata-rata udang dalam populasi serta biomas udang dalam tambak.

    Hasil sampling awal ini dapat digunakan untuk menentukan program pakan yang lebih terukur dan terarah. Jika populasi dan kondisi udang relative bagus maka frekuensi pakan harian sebaiknya sudah 5 kali.

    Penjelasan terkait dengan frekuensi dan simulasi program pakan sudah diuraikan dalam pembahasan-pembahasan terdahulu.
  5. Pada saat program pakan yang telah disusun secara terukur dan terarah hal yang mendasar yang perlu diperhatikan adalah lakukan penyesuaian program pakan tersebut berdasarkan hasil pengamatan/cek pakan di anco agar sesuai dengan tingkat kebutuhan udang yang cenderung berfluktuasi tergantung dari kondisi dan kualitas udang. Keberadaan jumlah pakan dianco pada saat cek anco dapat dibagi dalam 3 kategori, yaitu (i) pakan habis, (ii) pakan masih tersisa dan (iii) pakan utuh.

    Jika pakan dianco habis pada saat cek pakan, hal ini menunjukkan bahwa nafsu makan udang relative bagus, maka penyesuaian program pakan yang dapat dilakukan adalah melalui penambahan jumlah pakan harian. Lakukan hal yang sama pada kondisi yang sama pula.

    Jika pakan dianco masih tersisa pada saat cek pakan, hal ini menunjukkan bahwa nafsu makan udang mengalami penurunan, maka penyesuaian program pakan yang dapat dilakukan adalah melalui pengurangan jumlah pakan harian. Jika kondisi ini terjadi selama beberapa hari maka dapat dilakukan pemberian pakan segar untuk mengembalikan nafsu makan udang. Lakukan penyesuaian program pakan lagi jika nafsu makan udang sudah normal kembali.

    Jika pakan di anco ternyata masih utuh, maka kondisi seperti ini menandakan bahwa pakan tidak terkonsumsi sama sekali oleh udang. Kondisi ini dapat mengindikasikan telah terjadi masalah yang serius bagi udang. Lakukan pengurangan pakan secara drastis, selain itu lakukan pula pengecekan dasar tambak untuk mengetahui apakah telah terjadi kematian massal udang di dalam tambak. Keputusan yang perlu diambil terhadap kondisi seperti ini tergantung pada hasil cek dasar tambak dan perkembangan kondisi udang.
  6. Lakukan sampling udang (menggunakan jala) secara rutin dan periodik (10 harian – 2 mingguan) untuk mengestimasi perkembangan tingkat kehidupan populasi udang di dalam tambak (SR=survival rate), kondisi dan kualitas udang, berat rata-rata udang dalam populasi serta biomas udang dalam tambak.

    Hasil sampling secara periodik ini dapat digunakan sebagai alat kontrol untuk mengestimasikan perkembangan nilai FCR (Food Conversion Ratio) secara optimal.
Beberapa upaya untuk memperoleh nilai FCR yang optimal seperti tersebut di atas merupakan upaya secara umum yang dapat dilakukan, dalam implementasinya upaya-upaya tersebut perlu disesuaikan dengan kondisi dan media tambak yang digunakan. Sekali lagi prinsip utama yang perlu digunakan adalah jangan sampai udang menuruti kita, tapi sebaliknya kitalah yang harus menuruti kebutuhan udang.

Parameter Praktis Kualitas Pakan Udang

Pakan udang merupakan salah satu parameter yang cukup penting dalam suatu usaha budidaya udang, karena merupakan penyumbang biaya produksi yang paling besar dibandingkan parameter lainnya (terutama pada usaha budidaya udang pola intensif). Mengacu pada dasar pemikiran tersebut maka sudah selayaknya para pelaku usaha budidaya memiliki pengetahuan tentang parameter kualitas pakan udang agar tidak salah dalam menentukan pakan udang yang akan digunakan.

Secara garis besar pakan udang yang akan digunakan hendaknya dapat mengakomodasi dua komponen yaitu: (i) tingkat kebutuhan udang, dan (ii) tingkah laku/sifat udang. Tingkat kebutuhan udang terhadap pakan tidak hanya mencakup berapa kuantitas pakan yang mampu dikonsumsinya tapi juga harus mencakup kandungan nilai gizi (nutrient) yang dibutuhkan udang untuk pertumbuhannya. Sedangkan komponen tingkah laku udang mencakup food habit (jenis pakan apa yang biasa dikonsumsi oleh udang) dan feeding habit (bagaimana udang mengkonsumsi pakannya) sehingga komponen ini juga ikut menentukan parameter kualitas pakan udang (pembahasan terkait dengan food habit dan feeding habit telah dijelaskan dalam pembahasan terdahulu).

Berdasarkan pada uraian tersebut di atas, maka parameter yang dapat digunakan secara dalam menentukan kualitas pakan udang antara lain sebagai berikut:
  1. Kandungan nutrisi pakan, yaitu kandungan nilai gizi yang ada pada pakan tersebut. Secara garis besar kandungan nutrisi yang ada pada pakan udang harus mencakup : (i) protein, (i) lemak (fat), (iii)serat (fiber), dan (iv)ash selain itu juga factor kelembaban pakan (feed mouisterize). Kandungan nutrisi/nilai gizi pakan biasanya dicantumkan oleh pihak produsen pada kemasannya, termasuk kode produksi dan tanggal kadaluarsanya. (Pembahasan ini tidak akan menjelaskan tentang pengertian dan fungsi dari masing-masing unsure nutrisi tersebut, karena lebih mengarah pada pengetahuan tentang ilmu nutrisi dan gizi).
  2. Tingkat kelarutan pakan udang di dalam air, yaitu waktu yang dibutuhkan suatu pakan untuk dapat larut di dalam air. Parameter ini dapat juga dikatakan sebagai tingkat kekenyalan (keras atau lunaknya) tekstur sebuah pakan, atau dengan kata lain semakin keras tekstur sebuah pakan udang, maka waktu larut pakan tersebut akan semakin lama juga.

    Parameter tingkat kelarutan pakan di dalam air erat kaitannya dengan kemampuan udang dalam mentoleransi tingkat kekenyalan tekstur sebuah pakan untuk dikonsumsinya. Jika tekstur sebuah pakan terlalu keras, biasanya udang tidak akan mengkonsumsi pakan tersebut dan akan berusaha mencari sumber pakan lainnya. Sebaliknya jika tekstur pakan terlalu lunak, maka pakan tersebut akan segera larut di dalam air tanpa sempat dikonsumsi oleh udang.
  3. Aroma pakan. Parameter ini terkait dengan sifat udang dalam mencari sumber makananan lebih mengandalkan pada indera penciumannya. Aroma pakan haruslah mampu memberikan rangsang bau yang dapat menarik udang untuk mengkonsumsinya. Jika pakan tersebut tidak memiliki aroma yang dapat menarik udang maka dikhawatirkan pakan tersebut akan terbuang dengan percuma di dalam perairan dan kondisi ini dapat menimbulkan akumulasi sisa pakan di dasar tambak.
Ketiga parameter tersebut di atas merupakan parameter dasar yang sebaiknya dipahami oleh para pelaku usaha budidaya udang, sehingga tidak bingung dalam menentukan produk/merk pakan yang akan digunakan dalam proses budidaya udang.

Kenali Kualitas Pakan Udang Anda Secara Praktis

Pada pembahasan sebelumnya telah disebutkan bahwa pengetahuan tentang parameter kualitas pakan udang merupakan hal yang perlu diketahui oleh para pelaku usaha budidaya udang, karena pakan merupakan penyumbang biaya produksi terbesar dalam sebuah usaha budidaya udang. Secara faktual banyak alternatif pilihan yang ditawarkan oleh produsen-produsen pakan buatan skala industri untuk usaha budidaya udang (khususnya tambak udang skala intensif). Banyaknya alternatif pilihan tersebut secara tidak langsung memerlukan suatu pengetahuan dasar tentang pemahaman dan pengetahuan untuk mengetahui kualitas pakan udang tersebut secara praktis.

Pengetahuan dasar tersebut adalah sebagai dasar pengambilan keputusan untuk menentukan jenis/merk pakan udang yang akan digunakan dalam proses budidaya udang. Pengambilan keputusan yang tidak didasari pada pengetahuan yang memadai dapat mengakibatkan tingkat keuntungan secara finansial suatu usaha budidaya udang tidak akan optimal. Pada pembahasan sebelumnya telah dijelaskan bahwa beberapa parameter praktis yang dapat digunakan dalam menguji kualitas pakan udang, yaitu (i) kandungan nilai gizi, (ii) tingkat kelarutan pakan di dalam air, dan (iii) aroma pakan. Parameter-parameter tersebut secara praktis pula dapat diuji secara langsung di lapangan dan hasilnya dapat digunakan sebagai dasar dalam menentukan kualitas dan tingkat kelayakan suatu jenis/merk pakan udang yang akan digunakan.

Secara garis besar kegiatan pengujian untuk mengetahui kualitas pakan udang dapat dibedakan menjadi 2 macam yaitu :
  1. Pengujian terhadap pakan udang sebagai produk yang akan digunakan dalam proses budidaya udang. Kegiatan ini lebih mengarah pada upaya menilai tingkat kelayakan pakan sebagai sebuah produk skala industri yang dihasilkan oleh pihak produsen.
  2. Pengujian terhadap pakan udang sebagai obyek yang akan dikonsumsi oleh udang di dalam perairan tambak. Kegiatan ini mengarah pada upaya menilai pemenuhan kebutuhan udang terhadap pakan berdasarkan food habit dan feeding habit.
Tahapan-tahapan yang dapat digunakan untuk mengetahui kualitas dan tingkat kelayakan pakan udang sebagai sebuah produk industri antara lain sebagai berikut:
  1. Cermati komposisi dan kandungan nilai gizi yang tercantum pada bagian luar kemasan pakan udang tersebut. Sebagai upaya mendapatkan perbandingan hasil, maka sebaiknya kegiatan ini dilakukan pada beberapa merk pakan pada nomor/ukuran pakan yang sama.

    Selain komposisi dan kandungan nilai gizi, maka hal yang perlu dicermati pada kemasan sebuah merk pakan adalah kode produksi dan tanggal kadaluarsa dari pakan tersebut. Untuk mengetahui kode tersebut sebaiknya didiskusikan dengan teknisi pakan/marketing dari produsen pakan, karena masing-masing produsen mempunyai kode produksi dan tanggal kadaluarsa yang berbeda satu sama lain.
  2. Amati kondisi fisik dari pakan udang di dalam kemasan tersebut. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui apakah secara fisik pakan tersebut relatif masih bagus atau sudah hancur. Jika secara fisik kondisi pakan sudah terlihat hancur (bentuk serbuk) maka pakan tersebut sebaiknya tidak digunakan karena sudah mengalami proses dekomposisi, meskipun berdasarkan kode produksi pakan tersebut belum melewati tanggal kadaluarsa.
  3. Cium aroma pakan tersebut. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui apakah secara aroma pakan tersebut masih layak digunakan. Jika pakan udang yang akan digunakan sudah berbau tengik, maka seperti item no. 2 di atas pakan tersebut sebaiknya tidak digunakan karena sudah mengalami proses dekomposisi, meskipun berdasarkan kode produksi pakan tersebut belum melewati tanggal kadaluarsa.
Tahapan-tahapan yang dapat digunakan untuk menguji tingkat kelayakan pakan udang sebagai obyek yang akan dikonsumsi oleh udang antara lain sebagai berikut:
  1. Menguji tingkat kekerasan tekstur pakan udang tersebut dengan menekan/memijit pakan dengan menggunakan ujung dua jari (bisa juga dengan menggigit pakan tersebut). Jika pakan tersebut dirasakan sangat keras, maka sebaiknya pakan tersebut tidak digunakan karena dikhawatirkan tidak akan dikonsumsi udang sehingga pakan tersebut akan menjadi mubazir di dalam perairan tambak.
  2. Menguji tingkat kelarutan pakan udang di dalam air. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan cara meletakkan contoh pakan di dalam gelas/wadah transparan yang berisi air. Amati dan hitung berapa lama waktu yang dibutuhkan pakan tersebut untuk larut di dalam air. Jika pakan udang telah larut dalam waktu relatif cepat (kurang dalam setengah jam), maka dikhawatirkan pakan tersebut tidak sempat dikonsumsi udang karena sudah terlarut dalam air. Sebaliknya jika pakan tersebut relatif lama larut di dalam air (lebih dari 3 – 4 jam), maka dikhawatirkan pakan tersebut tidak dikonsumsi oleh udang karena teksturnya terlalu keras. (Kegiatan ini terutama dilakukan untuk pakan dengan ukuran pellet).
  3. Menguji aroma pakan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat ketertarikan udang terhadap rangsang aroma pakan yang diberikan. Kegiatan ini dapat dilakukan di dalam petakan tambak yaitu dengan cara menaburkan sampel pakan di pinggiran/dinding tambak. Jika udang terlihat segera menghampiri pakan tersebut, maka secara aroma pakan tersebut layak untuk digunakan. Sebaliknya jika udang tidak terlihat menghampiri sampel pakan yang diberikan maka pakan tersebut perlu dipertimbangkan tingkat kelayakannya. (catatan: kegiatan ini dapat dilakukan pada saat kondisi dan kualitas populasi udang dalam petakan tambak tersebut relatif bagus).
Kegiatan-kegiatan pengujian untuk mengetahui kualitas pakan udang seperti tersebut di atas merupakan cara-cara praktis yang dapat digunakan di lapangan. Pengambilan keputusan sebaiknya berdasarkan hasil yang diperoleh dari pengujian tersebut secara terintegrasi, karena jika dilakukan terpisah dikhawatirkan kesimpulan yang diperoleh akan kurang memadai.