Pages

Subscribe:

Ads 468x60px



Jagoan dari Negeri Siam yang Ditakuti Lawan








Maloedyn Sitanggang.

Ayam bangkok impor, lihat tongkrongan ayam ini yang garang dan
gagah.



 

JAKARTA – Ayam Bangkok amat terkenal
di kalangan pehobi ayam petarung di Indonesia. Ayam yang berasal
dari Thailand itu diakui punya kualitas yang bagus sebagai jagoan
di arena. Jadi, jangan heran bila di pasaran ada banyak ayam
bangkok yang dijual. Soal kualitas pun beragam, dari yang bermutu
impor sampai hasil silangan lokal. Lantas bagaimana cara
memilihnya?



Menurut Iwan Tanjung, peternak kawakan, ciri-ciri umum ayam
bangkok dapat dilihat dari batok kepala dan tulang alis yang
tebal, kepala berbentuk buah pinang, bulu mengilap dan kaku, kaki
bersisik kasar, saat berdiri sikap badannya tegak, mata masuk ke
dalam, pukulan keras dan akurat serta pandai memukul bagian vital
lawan.

Iwan juga mengingatkan untuk berhati-hati waktu memilih ayam
bangkok yang akan dijadikan jagoan. Jangan sampai Anda merasa
kecewa lantaran ayam yang ditawarkan tak sesuai dengan harapan.
Sebab saat ini ayam bangkok yang beredar di pasaran cukup banyak
jenisnya. Ada yang beneran impor, anakan impor, dan ada pula yang
lokal.

“Kualitas ayam bangkok impor biasanya 80% lebih unggul dibanding
lokal. Itu bisa dilihat dari gaya bertarung, daya tahan tubuh,
maupun kekuatan pukulannya,” jelas Iwan yang sudah hobi menyabung
ayam sejak dari tanah kelahirannya, Tanjung Morawa, Sumatera
Utara. Faktor-faktor krusial yang amat berpengaruh pada mutu ayam
bangkok impor: kualitas bibit (genetik), perawatan yang tepat
sejak usia dini, dan pemberian vitamin secara teratur.


Dr. Nisit Tangtrakarnpong dalam tulisannya pada Bangkok Post edisi
Maret 2001 menyebutkan kriteria dan sosok ayam bangkok yang ideal
untuk dijadikan ayam petarung. Ayam ini harus punya fisik yang
kuat, mental bertanding yang baik dan berasal dari keturunan
juara. Salah satu keturunan ayam bangkok berkualitas di Thailand
berasal dari Kerajaan Ayutthaya. Raja Naresuan yang memerintah
kerajaan itu punya kegemaran mengadu ayam.

“Seekor ayam aduan bisa mulai diadu jika umurnya sudah delapan
bulan. Atau paling nggak sudah dapat latihan tarung sebanyak 2
sampai 3 kali dengan ayam yang sudah berpengalaman,” sebut Iwan,
peternak kelahiran 15 November 1961. Tiap kali latihan dibutuhkan
waktu bertahap dari 1 x 10-15 menit sampai 2 x 45 menit.
Sebetulnya umur terbaik sebagai ayam petarung adalah 1,5 tahun
atau setelah ayam mengalami rontok bulu pertama (mabung).



Sejarah Ayam Bangkok


Ayam bangkok pertama kali dikenal di Cina pada 1400 SM. Ayam jenis
ini selalu dikaitkan dengan kegiatan sabung ayam (adu ayam).
Lama-kelamaan kegiatan sabung ayam makin meluas pada pencarian
bibit-bibit petarung yang andal. Pada masa itu, bangsa Cina
berhasil mengawinsilangkan ayam kampung mereka dengan beragam
jenis ayam jago dari India, Vietnam, Myanmar, Thailand dan Laos.
Para pencari bibit itu berusaha mendapat ayam yang sanggup meng-KO
lawan cuma dengan satu kali tendangan.

Menurut catatan, sekitar seabad lalu, orang-orang Thailand
berhasil menemukan jagoan baru yang disebut king’s chicken. Ayam
ini punya gerakan cepat, pukulan yang mematikan dan saat bertarung
otaknya jalan. Para penyabung ayam dari Cina menyebut ayam ini:
leung hang qhao. Kalau di negeri sendiri, ia dikenal sebagai ayam
bangkok.


Asal tahu saja, jagoan baru itu sukses menumbangkan hampir semua
ayam domestik di Cina. Inilah yang mendorong orang-orang di Cina
menjelajahi hutan hanya untuk mencari ayam asli yang akan
disilangkan dengan ayam bangkok tadi. Harapannya, ayam silangan
ini sanggup menumbangkan keperkasaan jago dari Thailand itu.

Konon, pada era enam puluhan di Laos nongol sebuah strain baru
ayam aduan yang sanggup menyaingi kedigdayaan ayam bangkok. Namun
setelah terjadi kawin silang yang terus-menerus maka nyaris tak
diketahui lagi perbedaan antara ayam aduan dari Laos dengan ayam
bangkok dari Thailand.

Di Thailand dan Laos, ada beberapa nama penyabung patut dicatat,
seperti Vaj Kub, Xiong Cha Is dan kolonel Ly Xab. Pada 1975, ayam
bangkok milik Vaj Kub sempat merajai Nampang, arena adu ayam yang
cukup bergengsi di negeri PM Thaksin Sinawatra itu. Ayam yang
bernama Bay itu merupakan salah satu hasil tangan dingin Vaj Kub
dalam melatih dan mencari bibit ayam aduan yang handal.

Kedigdayaan ayam-ayam hasil ternakan Vaj Kub berhasil disaingi
rekan sejawatnya dari kota Socra, Malaysia. Mereka dari negeri
jiran itu mampu menelurkan parent stock atau indukan unggul. Hanya
saja, pada generasi berikutn ya, Mr. Thao Chai dari Thailand
berhasil menumbangkan dominasi peternak dari Malaysia. Mr. Thao
memberi nama jagoan baru itu, Diamond atau Van Phet.

Menurut Iwan, Thailand memang tak perlu diragukan lagi sebagai
negara penghasil ayam bangkok unggul. Malahan sektor ini sudah
diakui sebagai penambah devisa negeri gajah putih tersebut. Dari
Thailand bisnis ayam aduan ini tak hanya merambah kawasan Asia
Tenggara saja, namun meluas ke Meksiko, Inggris dan Amerika
Serikat.

Ada kebiasaan yang berbeda antara sabung ayam di Thailand dan
negara kita. Di Thailand, ayam yang bertarung tak diperbolehkan
memakai taji atau jalu. Alhasil, ayam yang diadu itu jarang ada
yang sampai mati. Kebalikannya di Indonesia, ayam aduan itu justru
dibekali taji yang tajam. Taji justru menjadi senjata pembunuh
lawan di arena.


Di Indonesia, hobi mengadu ayam sudah lama dikenal, kira-kira
sejak dari zaman Kerajaan Majapahit. Kita juga mengenal beberapa
cerita rakyat yang melegenda soal adu ayam ini, seperti cerita
Ciung Wanara, Kamandaka dan Cindelaras. Cerita rakyat itu
berkaitan erat dengan kisah sejarah dan petuah yang disampaikan
secara turun-temurun.

Kota Tuban, Jawa Timur diyakini sebagai kota yang berperan dalam
perkembangan ayam aduan. Di sini, ayam bangkok pertama kali
diperkenalkan di negara kita. Tak ada keterangan yang bisa
menyebutkan perihal siapa yang pertama kali mengintroduksi ayam
bangkok dari Thailand.

Sebetulnya, jenis ayam aduan dari dalam negeri (lokal) tak kalah
beragam, seperti ayam wareng (Madura) dan ayam kinantan (Sumatra).
Namun ayam-ayam itu belum mampu untuk menyaingi kedigdayaan ayam
bangkok.

(SH/bayu dwi mardana)

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar