Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

kandang babi

Kandang Memenuhi Sifat Biologis dan Iklim Setempat

Kandang harus memenuhi tuntutan biologis ternak babi. Ternak babi tergolong hewan berdarah panas atao homeoterm, yakni mekanisme fisiologisnya selalu berusaha memepertahankan kemantapan keadaan internal tubuh dengan kondisi lingkungan eksternal yang tidak cocok baginya. Babi selalu berusaha mencapai keadaan homeostatis melalaui neraca panas tubuh, termoregulasi, neraca biokemis (air, elektrolit, dan senyawa karbon) dan neraca sirkulasi kardio-faskuler. Ternak yang dalam keadaan stress akan mempengaruhi keseimbangan hormon-hormon dan enzim-enzim tubuh yang selanjutnya mempengaruhi metaboisme ternak. Hal ini mungkin juga akan mengubah tingkah laku ternak, yang selanjutnya berpengaruh terhadap produksi, reproduksi maupun kesehatan ternak.

Pada babi kandang-kandang terlihat tingkah laku yang menyimpang dan hal tersebut mungkin oleh faktor genetik dan oleh faktor lingkungan, misalnya kandang yang kurang memadai dan oleh defisiensi zat-zat makanan. Tingkah laku yang menyimpang ini antara lain, kebiasaan menggigit ekor (tailbiting) dan telinga temannya, kanibalisme, suka menggosok-gosok cungurnya ke lantai atau temannya; suka menggosokkan anusnya ke lantai atau dinding landing, suka mengunyah tanpa isi, suka merusak atau menggigit sekat atau penghalang kandang dan hiperaktif.

Dari sebab-sebab faktor eksternal tersebut sedapat mungkin harus dimanipuler oleh pengusaha ternak babi, antara lain menyediakan kandang yang sesuai bagi ternak dan manajemen sebaik mungkin.

Selain kandang harus menyenangkan bagi ternak babi, tetapi juga mudah dibersihkan, mudah kering dan sedapat mungkin terhindar dari suhu yang terlalu tinggi atau terlalu rendah, humiditas, hembusan angin, terik surya dan memungkinkan sirkulasi udara yang baik sehingga akan sangat dibatasi kepengapan maupun bau yang tak disukai.

Tempat bangunan kandang harus dipilih yang drainasenya (buangan air) baik. Tempat yang sulit dikeringkan, terutama tanah permukaan, sangat berperan dalam pemeliharaan kesehatan lingkungan peternakan.

Luas Kandang

Luas bangunan kandang babi tergantung dari banyak babi yang dipelihara dan tipe usaha yang dijalankan. Tipe usaha yang hanya menggemukan babi, kandangnya sederhana dan dapat semacam saja.

Dalam merencanakan kandang babi sudah tentu dipertimbangkan antara lain :

1) sarana jalan

2) ketinggian lokasi (altitute)

3) Ketersediaan air

4) Kemungkinan pengadaan listrik

5) sarana komunikasi

6) Kemungkinan memperoleh bahan ransum

7) Kelandaian lahan

8) Keadaan lingkungan sekitar

9) Kondisi tanah

10) Pengaruh terhadap kesehatan ternak dan lain sebagainya.

Khusus untuk tujuan penghasil bibit ternak, pertimbangan keadaan lingkungan sekitar peternakan harus diperhatikan, antara lain harus aman dari lalulintas ternak atau hewan liar, maupun manusia.

Bangunan kandang babi untuk daerah tropis seperti Indonesia lebih sederhana dibandingkan dengan untuk daerah subtropics atau daerah beriklim dingin. Suhu di Indonesia 27,2° C, namun suhu di berbagai daerah berbeda, tergantung dari letak geografis, ketinggian tempat, kelandaian, sinar, angin, hujan, dan kelembaban.

Suhu atau temperature lingkungan mikro harus dimodifikasi agar sesuai dengan tuntutan hidup ternak babi yang dipelihara dalam kandang. Harus diusahakan agar mikroklimat dalam kandang serasi bagi kehidupan atau kebutuhan fisiologis babi. Bila suhu terlalu tinggi, babi akan kehilangan panas evaporatif (berkeringat atau terengah-engah), konsumsi makanan biasanya menurun, konsumsi air minum meningkat, berusaha mencari kesejukan, dan tingkah laku mungkin berubah, dan faktor- faktor tersebut mengakibatkan gangguan produksi. Suhu lingkungan yang berbeda mengakibatkan pertumbuhan babi berbeda. Temperatur yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan mengganggu kehidupan babi, sebab babi akan bertumbuh baik di lingkungan zone termonetralnya, yakni berkisar antara 20-26° C.

Syarat faktor- faktor fisik bangunan kandang untuk daerah tropis :

1) Bahan bangunan yang tahan lama, relatif murah dan berdaya pantul tinggi terhadap sinar

2) Berkemampuan rendah menyimpan beban panas yang berasal dari tubuh ternak

3) Landaian (slope) atap cukup, biasanya 30-45° sehingga ternak terlindung baik terhadap panas sinar, hujan dan angin

4) Langit-langit bangunan cukup tinggi sesuai kebutuhan

5) Terjamin sirkulasi udara yang baik, sehingga udara tak sehat keluar dan udara segar masuk

6) Luas ruangan bagi ternak cukup memadai

7) Arah memanjang (poros) bangunan kandang adalah Timur-Barat, berbeda dari arah bangunan di daerah beriklim subtropics ataupun beriklim dingin.

Tata Letak dan Bentuk Bangunan Kandang

Tata letak bangunan biasanya disesuaikan dengan keadaan atau topografi lahan, namun harus memenuhi persyaratan teknis kandang ternak babi.

Bagi peternak babi dengan usaha sekeluarga, atau beternak babi di pekarangan rumah yang memelihara sampai 10 ekor induk, dapat mendirikan hanya satu bangunan kandang dengan luas lantai misalnya 50 m² dengan manajemen pemeliharaan yang efisien. Dalam bangunan kandang tersebut sudah terdapat petak kandang pejantan, induk tak bunting dan babi bunting, kandang melahirkan sekaligus untuk induk berlaktasi serta kandang membesarkan anak atau kandang penggemukan.

Kandang betina sebelum dan selama bunting

Bagi betina kering susu, yang belum bunting, dan selama bunting dikandangkan terpisah dari golongan babi lain hingga 3-10 hari sebelum melahirkan anak. Di dalam bagian atau unit kandang ini juga dibuat petak kandang tempat mengawinkan babi bentuk octagonal diperlukan agar pejantan tidak mengalami kesulitan menaiki betina, sebab sering bagian belakang betina terletak di pojok kandang kawin yang biasa. Pejantan perlu ditempatkan berdekatan dengan betina yang akan kawin, agar merangsang betina lebih cepat berahi dan juga untuk mengurangi betina yang mengalami “berahi tersembunyi” (silent heat). Bila memungkinkan antara setiap 20 petak kandang diantarai jalan setapak dalam kandang.

DAFTAR PUSTAKA

Animal Waste Management. 1971. Proceedings of National Symposium on Animal Waste Management, September 28-30, 1971. The Airlie House, Warrenton, Virginia.

Anonymous. 1947. Pig Boom in China. Pig International (Sept., 1974), hlm. 44.

Sihombing, D.T.H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Fakultas Peternakan IPB, Bogor.
KLIK LINK DIBAWAH UNTUK MENDUKUNG AGAR BLOG INI TETAP ADA: TRIMS!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar