Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

KANDANG DAN LIMBAH BABI

Alasan utama untukmengandangkanternak babi adalah untuk memodifikasi iklim alami dan menghasilkan suatu lingkungan yang lebih baik, hal ini akan memberi  :

-          laju pertumbuhanyang lebih cepat

-          Effisiensi/ konversi ransum yang baik

Untuk itu perlu kita ketahui tentang lingkungan TERBAIK untuk ternak babi dan bagaimana untuk mencapainya serta mengatasi penyebab  masalah lingkungan.


Kalau kita berbicara tentang lingkungan, pertama kali kita ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan LINGKUNGAN PANAS.

1. Lingkungan Panas dari seekor ternak babi adalah kombinasi dari :

-          Temperatur udara ( C, F )         -   Kelembapan ( Rh %)

-          Kecepatan udara diatas/ pada ternak babi ( m/menit)


-          Tipe lantai                                  -  Perubahan pancaran panas

Semua ini mengontrol keseimbangan energi dari ternak babi atau turut menentukan berapa energi dari ransum digunakan untuk pertumbuhan dan berapa untuk supaya tetap hangat.

2. Lingkungan Fisik

Antara lain :

-          bentuk dan ukuran kandang           -     bau


-          gas dan konsentrasi debu               -     cahaya

-          kebisingan

Semua ini mempengaruhi tingkah laku ternak babi dimana akan berpengaruh terhadap :  Konsumsi ransum dan laju pertumbuhan.  Babi pada dasarnya seperti manusia adalah mahluk homeothermik yang berarti mempertahankan suhu tubuh secara konstan (39 oC)dengan lingkunganyang berubah-ubah.


Untuk lingkungan panas kita mengenal :

  1. Perpindahan panas dari ternak babi , yang dapat terjadi melalui :

-          Konduksi ( perpindahan panas antara permukaan yang bersentuhan)

-          Konveksi ( Perpindahan panas dengan pergerakan udara atau gas)

-          Radiasi (Perpindahanpanas dengan pancaran panas)


-          Evaporasi/ Pengupan (kehilangan panas dari paru-paru yang dapat meningkat dengan napas pendek/cepat atau kehilangan panas dari permukaan kulit dengan membasahi dirinya sendiri.

  1. Temperatur kritis terendah, tertinggi dan daerah netral yaitu :

-          Temperatur kritis terendah (TKR) adalah temperatur udara dibawah dimana ternak babi membakar tambahan energi ransum untuk tetap hangat.

-          Temperatur Kritis Tertinggi (TKT) adalah  temperatur udara diatas dimana ternak babi harus mengurangi konsumsi ransumnya untuk mengurangi produksi panas/ energi dengan demikian temperatur tubuhnya tidak naik/tetap.


-          Temperatur Daerah Netral (TDN) adalah temperatur antara TKR dan TKT dimana ternakbabi mempertahankan pada temperatur yang menyenangkan dalam arti secara fisik . Secara tidak sadar dengan vasodilation dan vasocontriction (pembesaran/ penyempitan saluran darah /blood vessel) yang berguna untuk merubah aliran darah ke kulit. Secara tidak sadar dengan perubahan tubuh seperti membungkuk atau terlentang.

Ternak babi apakah berada pada TKR atau TKT tergantung kepada :

-          Berat                                 -      Ketahanan

-          Panas lantai                      -      Kecepatan udara


-          Perolehan energi              -      Ukuran kelompok

-          Pancaran panas

Hal ini oleh Bruce (1981) mengkombinasikan faktor-faktor ini dalam suatu mode matematika untuk memperkirakan TKR dan TKT untuk ternak babi , model ini sudah barang tentu sangat berguna karena memungkinkan kita untuk membandingkan lingkungan yang berbeda atau membuat keputusan dan sekaligus untuk memperbaikinya.

  1. Lingkungan Fisik mencakup :

I     Kebisingan dan cahaya, kedua faktor lingkungan ini kelihatannya mempunyai  pengaruh kecil terhadap penampilan ternak.

II    Bau dan Gas : gas amoniak (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S) dilepaskan selama penguraian dari air kencing dan kotoran. Kedua gas ini adalah beracun dan pada konsentrasi yang rendah dapatmenyebabkan infeksi pada alat penapasan .

  1. NH3

Dapat dideteksi dengan bau pada konsentrasi 5 ppm, Hasil percobaan di A.S. memperlihatkan bahwa kisaran pada 50-70 ppm hanya berpengaruh kecil terhadap laju pertumbuhan , tetapi perlu diingat bahwa selalu terjadi interaksi

lingkungan dengan demikian perlu dijaga agar konsentrasi amoniak di bawah 10 ppm.

b. H2S

Dapat dideteksi dengan bau pada konsentrasi kurang dari 1 ppm . batas yang aman untuk tempat kerja adalah 10 ppm dan batas/ ukuran ini merupakan maksimum yang diperbolehkan untuk peternakan babi.

c. CO2

Adalah hasil dari pernapasan dan harus tidak lebih dari 3000 ppm. Konsentrasi normal CO2 dari dalam udara adalah 340 ppm. Ketiga gas ini dapat dideteksi dengan Disposal Gas –Detecting Tubes.


III Ruangan ; ternak babi menggunakan ruangan dalam suatu kandang tergantung pada : Temperatur , bentuk kandang, ukuran, type lantai, lokasi/ penempatan tempat ransum dan minuman serta tingkat sosial dalam kelompok.

Ketentuan ruangan yang telah ditentukan oleh Victorian Welfare Code adalah

Berat badan babi (kg) Luas (m2)
11 – 20

21 – 40


41 – 60

61 – 80

81 – 100

0.18

0.32

0.44

0.56

0.65

Bagaimana Mencapai Lingkungan yang Baik :

  1. Insulasi ; harus digunakan pada semua daerah peternakan babi dan mengurangibiaya pengeluaran suatu usaha peternakan babi dengan 3 cara :

-          Memperbaiki EPM ( ternak merasa hangat dengan cara merobah lebih   banyak energi  menjadi panas).


-          Mengurangi kondensasi/ pengembunan (dengan menjaga atap tetap hangat, pengembunan dapat dikurangi atau dihilangkan dan atap akan tidak berkarat).

-          Memperbaiki laju pertumbuhan; (mengisolasi atap dan menjaganya lebih dingin dan mengurangi pancaran panas, dengan demikian keadaan babi menyenangkan dan memungkinkan ternak babi untuk makan lebih banyak sehinggga pertumbuhan meningkat).

  1. Aliran udara/ ventilasi ; pengertiannya adalah pergantian udara di dalam dengan udara diluar. Ventilasi diperlukan untuk :

-     Pengeluaran CO2 dan diganti dengan O2 (oksigen)


-          Memindahkan gas dari kotoran, amoniak dan H2S.

-          Memindahkan air yang dihasilkan dari musim 9iklim) dingin

-          Mengeluarkan kelebihan panas tubuh dan penyinaran pada musim panas (hangat)

-          Mengeluarkan air yang diuapkan (evaporasi) dari air siraman yang digunakan pada musim panas.


BENTUK BANGUNAN UNTUK BABI SAPIHAN

DAN SEDANG BERTUMBUH

Dalam merancang suatu kompleks peternakan babi, sasaran atau tujuan dapat dinyatakan pada salah satu atau beberapa dari pada hal sebagai berikut :

  1. Untuk mengandangkan ternak babi baik menggunakan ventilasi dengan tenaga maupun ventilasi secara alami.
  2. Memberikan fasilitas untuk babi yang dipelihara dan
  3. Untukmenghasilkan daging

Rancangan perkandangan dapat berubah dari waktu lalu ke sekarang berdasarkan pengalaman sebelumnya baik kegagalan maupun keberhasilan.  Dalam merancang suatu perkandangan selalu dipertimbangkan agar biaya sekecil mungkin, dengan penampilan dan kualitas yang dapat diterima.


Tetapi pada kandang ternak sebenarnya tekananutama (paling besar) ditujukan pada penampilan dimana hal itu mempengaruhi terhadap biaya dari sistem produksi.

Dalam merancang bangunan utnuk ternak terdapat enam data dasar yang diperlukan, dimana satu dengan yang lain tidak terpisah tetapi harus dipertimbangkan segala interaksi dan pengaruhnya ;

  1. 1. Lingkungan Bangunan

Tersedianya informasi yang cukup tentang lingkungan ternak sehingga memung-kinkan kita untuk menduga modifikasi iklim yang diperlukan untuk mencapai penampilan optimum secara ekonomis. Modifikasi lingkungan memungkinkan merubah makanan menjadi daging secara effisien (merupakan alasan yang prinsipal untuk kandang ternak babi).  Untuk mencapai dan mempertahankan produksi yang optimum diperlukan faktor antara lain untuk mempertahankan kondisi iklim optimum/ lingkungan optimum sejalan dengan kebutuhan ternak.

Apa yang dimaksud dengan lingkungan optimum ?, faktor apa yang mempengaru-hinya ? Effisiensi produksi ternak babi tergantung kepada keberadaan dimana zat makanan dalam ransum yang digunakan untuk kebutuhan pokok dan untuk produksi jaringan ternak, dengan sistem perkandangan yang intensif sehingga ternak tidak bebas untuk memiliki kondisi tempat tinggal dimana adalah terbatas, oleh karena itu adalah penting untuk mengetahui atau mengerti pengaruh lingkungan terhadap kesehatan ternak, kesejahtraan dan produktivitas.


Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa daerah temperatur netral (DTN/ Thermo Netral Zone) dikenal sebagai :

-          kisaran temperatur udara dimana laju metabolisme ternak babi adalah dalam suatu keadaan minimum, tetap dan bebas dari temperatur udara.

-          Kisaran suhu udara dimana metabolisme secara normal diperoleh atau secara mencukupi

-          Produksinya panas danhilangnya panas dari tubuh adalah kira-kira sama atau seimbang.

Keseimbangan  energi dari seekor ternak beberapa sangat dipengaruhi oleh temperatur dan sering digunakan sebagi kriteria tunggal, dalam merinci atau speci-fikasi lingkungan.


  1. 2. Zoometry dan tingkah laku ternak

Zoometrik adalah ukuran dari ternak dan hubungannya dengan lingkungan kandang, ini sangat penting karena ukuran ternak babi pada umur yang berbeda perlu dijamin agar bangunan dan peralatan berfungsi untuk ukuran kandang ternak babi. Zoometrik perlujuga diketahui untuk pemanfaatan peralatan dapat difungsikan dihubungkan dengan ukuran kandang.

Ukuran ternak babi harus digunakan untuk rancangan peralatan dengan baik seperti

-          tempat makanan ransum

-          tinggi alat minum (kalau menggunakan water nipple )


-          ukuran dan jarak slat dll

Data zoometrik (seperti berat, panjang, umur dan ukuran langkah ternak babi) digunakan untuk rancangan perkandangan.

  1. 3. Bahan dan struktur bangunan

Bahanyang banyak digunakan terutama diluar negeri adalah ;

-          Stainless steel untuk gerobak makanan , kandang babi di daerah yang sangat berkarat, lantai berkisi dan alat minum.


-          Pipa Polivinilchlorida (PVC) untuk air dan membawa makanan.

-          Kayu Blok (timber) untuk menjaga panas apalagi diberi perlakuan untuk memberi daya tahan terhadap kelembaban.

-          Bahan kawat untuk cenderung lebih bersih

-          Bahan plastik lebih disenangi oleh ternak karena bahan tersebut hangat.

  1. 4. Hasil, Hasil Sampingan dan Kotoran

Pada suatu usaha peternakanbabi yang dijalankan, kotoran ternak adalah suatu hal yang tidak dapat dihindari sebagai mana halnya ternak babi itu sendiri dan keduanya harus ditempatkan pada rancangan,  pertimbangan seksama harus diberikan trhadap penyimpanan, pemindahan dan penggunaannya, jadi pada tahapawal perencanaan sudah harus dipikirkan atau dipertimbangkan.

Berapa ransum yang tidak pernah dimakan oleh ternak babi (terbuang) ? Beberapa peneliti berpendapat makana/ransum yang terbuang berkisar antara 6-9 % bahkan ada yang sampai 30 %. Tempat makanan memegang peranan dalam mengurangi ransum yang terbuang dan juga type lantai misalnya slat dimana ransum terbuang langsung kebawah!.

Aspek lain yang sering dilupakan adalah AIR , dalam hubungan ternak dengan air kita harus mengetahui. :

-          Berapa konsumsi air  tiapekorternak babi


-          Berapa konsumsi air tiaphari pada suatu usaha peternakan babi

-          Berapa laju pengaturan (kemampuan penyediaan air) litter/menit yang harus dilakukan untuk memenuhi ha ltersebut.

Kebutuhan air yang tidak memadai akan mendahului kesulitan produksi

-          penampilan dan daya nafsu makan berkurang


-          perkelahian dan cekaman meningkat

-          kerugian untuk periode waktu panjang yang akhirnya berakibat fatal.

Jumlah air yang digunakan untuk unit peternakan babi yang besar dan intensif dapat berbeda dari 11 litter/ekor/hari (atau lebih rendah) hingga  pada suatu puncaknya 24 litter/ekor/hari pada musim panas, hal ini tergantung pada :

-          apakah air digunakan untuk membersihkan

-          air terbuang dari alat minum


-          air digunakan untuk mendinginkan/ menyiram trnak dlsb.

  1. 5. Pekerjaan Rutin dan Kebutuhan Tenaga Kerja

Mekanisasi pertanian kelihatannya secara berangsur menggantikan tenaga kerja dengan sistem mesin secara intensif, tidak terkecuali dengan industri peternakan babi misalnya :

-          alat makanan secara mekanik

-          alat pendorong yang dijalankan secara otomatis


-          kontrol lingkungan kandang secara otomatis dengan cara termostatik

-          kontrol kipas dan keran

-          pengambilan kotoran dengan sistem pendorong

  1. 6. Modal dan Biaya Operasi.

Sebagaimana kondisi temperatur bergerak naik turun dari kisaran optimum, energi selalu dipertahankan untuk pertambahan berat badan. Fuller (1970) menyarankan bahwa penambahan 0,026 kg ransum diperlukan oleh seekor babi sedang bertumbuh untuk tiap oC dibawah kebutuhan temperatur kandang .

Total rancangan peternakanbabi, perlu dipertimbangkan kelayakan ekonomi secara keseluruhan dan biaya bangunan dari produksi ternak babi. Sering terjadi kenaikan biaya bahanbangunan jauh lebih besar dari kenaikan harga daging babi. Misalnya di Australia kenaikan biaya bangunan (1970-80) hingga April 1986  adalah 60 %, sedangkan kenaikan harga daging babi pada waktu yang sama hanya 15% .

MANAGEMEN LIMBAH BABI

Bau disebabkan  oleh 80 macam Gas diantaranya Amonia,

Hidrogen sulfida, skatol,indol dsb. Berasal dari urin

Dan feses ternak mayarakt tidak nyaman.


Tingkat Pembentukan bau ditentukan :

1.  Rancangan   Pelindung,

  1. Sistempembungan dan
  2. Pengumpulan Limbah dan
  3. Manajemen peternakan,

yg dipengaruhi iklimdan topografi.


Bau merupakan hasil penguraian (Dekomposisi) manure.

Penyebaran Bau Oleh Udara dan Angin, Sinar Matahari,

Awan, Suhu.

Dekomposisi melalui proses Aerobil dan Anaerobik.

Aerobik ada O2 Dekomposisi lengkap menghasilkan


karbohidrat, air, bahan terlarut,nitrogen

anorganik,senyawa belerang,  menghasilkan bau

SEDIKIT.

Anaerobik, tanpa O2 Dekomposisi kurang lengkaP, hasil

lebih kompleks seperti amonia, hidrogen sulfida,

metan menghasilkan bau lebih BANYAK.


Mengurangi Pembentukan Bau

KANDANG

  • Pembersihan kandang harus teratur
  • Penggunaan Bakterisida danDesinfektan dikurangi.
  • Penggunaan air Recycle dapat mengurangi bau.
  • Genangan air dikandang dihindari.

SALURAN

a. Dibuat dari bahan yang halus, beton,


b. Harus mempunyai kemiringan 1 %.

c. Pipa tertutup harus mempunyai kemiringan 1 %.

d. Pemisahan saluran limbah dan air hujan.

KOLAM

  1. Kolam anerobik yang paling efektif mengurangi bau.
  2. Pemuatan limbah tidak lebih kapasitas kolam.
  3. Ph Kolam harus dijaga senetral mungkin.
  4. Sampah asing, sisa kelahiran,ternak mati tdk masuk kolam.
  5. Bangunan bisa ditutup menghasilkan energi sehingga bau dikurangi.

TERNAK MATI

  1. Dapat menggunakan Buaya, Lele, Dog Food,dll.
  2. Penguburan harus ditutup tanah
  3. Bila dilakukan pengomposan ternak mati ditutup serbuk gergaji 3 m.

PENANAMAN PEPOHONAN

  1. Bunga atau tanaman yang menyerap bau
  2. Penanaman pohon tinggi untukmenahan angin
  3. Pemanfaatan Limbah Untuk Pepohonan/tanaman

seperti kompos.

MANIPULASI PAKAN

  1. Hindari penggunaan pakan yang menghasilkan bau.
  2. Buat pakan yang seimbang sesuai dengan kebutuhan.
  3. Penambahan enzim,probiotik meningkatkan kecernaan bahan pakan.
  4. Penggunaan zeolit untuk mengurangi bau manaure.
  5. Pemberian jumlah pakan yang secukupnya tdk sisa
  1. Pemberishan tempat pakan yang rutin.

Pembautan Kompos Untuk Pupuk Organik

Bertani merupakan mata pencaharian sebagian besar rakyat kita sampai sekarang ini masih  memegang peranan penting dalam perekonomian, khusunya di daerah cisarua lembang yang merupakan daerah pertanian tanaman kering yang cocok untuk tanaman sayur-sayuran dan bunga.  Keberhasilan bercocok tanam sangat bergantung pada cara pengolahan lahan yang menjamin tersedianya unsur hara yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi dengan baik, karena itu pengolahan lahan dan pemupukan perlu dilakukan. Hal ini telah disadari oleh petani/peternak setempat, tetapi, masalahnya ketergantungan yang besar pada penggunaan pupuk buatan memerlukan biaya yang mahal, apalagi disaat krisis ekonomi yang berkepanjangan berakibat melambungnya harga pupuk, sehingga tidak terjangkau oleh petani/peternak kecil. Oleh karena itu perlu dicari alternatif pemecahan dengan memanfaatkan potensi setempat, penggunaan kompos merupakan alternatif terbaik untuk  menanggulangi masalah tersebu.


Pemanfaatan Kotoran ternak untuk menyuburkan lahan pertanian telah lama dilakukuan oleh petani/peternak, tetapi diperlukan proses yang cukup lama, sehingga diperlukan penerapan teknologi sederhana yang mudah diserap yaitu melalui pengomposan dengan menambahkan probiotik. Cara ini lebih cepat dibandingkan dengan cara konvensional, karena mikroorganisme yang ada di dalam probiotik lebih cepat mendegradasi senyawa yang ada di dalam feses.

Feses merupakan limbah organik yang bersifat biodegradable, yaitu senyawa yang mudah diuraikan oleh mikroorganisme.  Menurut Suriawiria (1981) bahwa feses masih  mengandung senyawa yang dibutuhkan oleh tanaman, yaitu nitorgen 5 – 7 %, pospor 3 – 6 % dan kalium 1 – 6 %.  Seekor ternak setiap tahunnya menghasilkan feses sebanyak 20,2 m3 (Djadjadiningrat dan Harry Harsono 1983 ) menurut Kiziorowski dan Kucharski (1972) bahwa seekor babi dapat menghasilkan total nitrogen sebanyak 80,3 kg pertahun. Ken Casey dan Eugene menyatakan produksi limbah ternak perunit ternak sebanyak 3,7 kg/hari, volume 1m3 mengandung 3 kg Nitrogen 2,5 kg phosfor dan 0,75 kg Kalium. Tetapi penggunaan feses cecara langsung dapat menyebabkan kematian tanaman, sehingga diperlukan suatu proses pengomposan.  Pengomposan termasuk kedalam pengolahan secara biologis, yaitu proses yang mengikut sertakan aktivitas dari enzim dan kemampuan mikroorganisme yang tujuannya untuk menghilangkan beberapa senyawa yang tidak diharapkan kehadirannya, baik senyawa berbahaya untuk kehidupan maupun kehadirannya akan menimbulkan kerugian ( Soewedo Hadiwiyoto, 1983).

Penggunaan probiotik akan mempercepat proses pengomposan, sebagaimana pernyataan Suharsono (1997) bahwa probiotik mengandung mikroorganisme yang dapat merangsang pertumbuhan. Beberapa mikroba yang terdapat dalam probiotik yaitu bakteri proteilitik, lignolitik, selulolitik, lipolitik, dan nitrogen non fiksasi. Kandungan mekroorganisme yang beragam mengakibatkan  rangkaian proses antara satu jenis biakan dengan lainnya, serta kemungkinan besar hasil sampingan yang membahayakan akan termanfaatkan, sehingga pada pembuatan kompos penggunaan polikultur dianggap paling memadai dan menguntungkan (Suriawiria, 1981).


Alat dan bahan : Limbah organik rumah tangga, pertanian  dan kotoran ternak, probiotik (EM4, Biomikro dll). Singkup, tempat penimbangan, Termometer.

Prosedur Kerja :

  1. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan.
  2. Seleksi bahan tersebut dari bahan-bahan yang sukar terdegradasi (kaca, plastik, kain, batu dll) bahan yang besar harus dikecilkan dulu supaya mudah dicampur dan homogen .
  3. Timbang tiap bahan kompos yang sudah dibersihkan sesuai dengan kebutuhan sehingga dicapai C/N rasio 20 – 30 dengan kadar air 50 – 60 %. Pada saat penambahan kadar air atau pencampuran  anda dapat menam-bahakan probiotik atau pupuk kimia agar mempercepat proses pengomposan dan memperkayakompos yang dihasilkan.
  4. Sesudah ditimbang bahan tersebut dicampur sampai dengan homogen atau dibuat berlapis-lapis selang seling didalam tempat pengomposan.
  5. Lakukan pembalikan pada harike 3 dan 6 dan hari ke 10 dan hari ke 17 serta setiap hari cek kadar airnya (tambahkan) supaya kelembapan tetap terjada 50-60%.
  6. Lakukan pengukuran suhu harus tercapai 70 oC pada hari ke 6.
  7. Pada hari ke 21 kompos sudah dapat digunakan untuk tanaman atau di packing  setelah dingin terlebih dahulu

Beberapa formula kompos yang biasa dipakai di jawa adalah sebagai berikut :

Kotoran ternak 80%, Abu sekam 10%, kalsit atau kapur 5%, Serbuk gergaji maksimum 5 %, dan penambahan probiotik 0,25% stardec dengan kadar air 60%, tempat pembuatan kompos harus dibuat naungan atau gundukan kompos ditutup dengan plastik supaya cahaya matahari dan hujan tidak langsung mengenai  kompos.


Tabel 7. kadar C/N rasio bebrapa jenis bahan organik  berdasarkan bahan kering

Bahan % Nitrogen C/N Rasio
Urin

Darah


Buangan Pajagalan

Tinja

Lumpur Aktif

Rumput Segar

Sayuran

Pupuk Hijau

Ganggang laut

Kulit Kentang

Sampah kota


Jerami jelai

Jerami gandum

Tahi gergaji

Pupuk Kandang

Kotoran Kerbau

Kotoran kuda

Kotoran Sapi

Kotoran Ayam

Kotoran Babi


Kotoran kambing/domba

15-18

10-14

7-10

5.5-6.5

5.0-6.0

4

3.6

2.15


1.9

1.5

1.05

1.05

0.3

0.11

2.5

0.8

3


2

6-10

6

12

12

14

19

25

24


68

125

150

20

18

25

18

15

25


30

Cara menghitung agar diperoleh C/N rasio yang diinginkan 30 yang baik untuk pupuk kompos ialah dengan memilih bahan-bahan yang lebih rendah dari 30 dan lebih tinggi dari 30, kemudian hitung dengan metode bujur sangkar.


KLIK LINK DIBAWAH UNTUK MENDUKUNG AGAR BLOG INI TETAP ADA: TRIMS!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar