Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

PENYAKIT CLOSTRIDIAL PADA BABI

Clostridial disease pada babi dapat disebabkan oleh infeksi berbagai spesies dari bakteri Clostridium, yaitu Clostridium botulinum sebagai penyebab penyakit botulisme, CL. Chauvoei penyebab penyakit radang paha dan Cl. tetani penyebab penyakit tetanus.

Clostridial infeksi disebabkan oleh bakteri gram positif yang biasanya terisolasi dari babi, termasuk Clostridium perfringens (jenis A dan C), C. novyi , and C. novyi, dan C. difficile . difficile.

a. Botulisme

Botulisme atau Lamziekti adalah penyakit yang disebabkan oleh toksin yang dihasilkan oleh bakteri Clostridium botulinum yang memperbanyak diri dalam jaringan yang membusuk. Bakteri ini membentuk spora dan tahan hidup bertahun-tahun dalam tanah dan bersifat anaerobik. Hewan yang terinfeksi mengalami kelumpuhan total otot gerak. Cl. Botulinum terdapat dimana-mana di Indonesia dan terjadinya infeksi tergantung oleh faktor predisposisi seperti tidak sengaja termakan atau terminum.

Penularan penyakit terjadi melalui toksin dalam pakan atau air yang tercemar oleh bakteri. Kejadian botulisme sering terjadi pada babi yang kekurangan fosfor karena hewan yang kekrangan fosfor cenderung mengunyah tulang yang dijumpai di pengembalaan. Apabila tulang tersebut berasal dari hewan pembawa kuman maka akan terjadi intoksikasi. Gejala klinis yang mencolok dari penyakit botulisme adalah terjadinya kelumpuhan total secara perlahan. Toksin menyerang sistem syaraf dan menyebabkan hewan sempoyongan, kesulitan menelan, ngiler dan mata terbelalak. Kelumpuhan terjadi pada lidah, bibir, tenggorokan, kaki dan disusul kelemahan umum.

Diagnosis penyakit dapat dilakukan dengan uji laboratoris dari spesimen pakan, isi usus atau bangkai dan diteguhkan dengan pengukuran konsentrasi toksin. Pengendalian penyakit ini dengan pengobatan tidak efektif, pencegahan dilakukan dengan pemusnahan karkas dan vaksinasi dengan toksoid tipe C dan D. Hewan yang mati karena botulisme dilarang dipotong untuk dikonsumsi dagingnya. Bangkai dimusnahkan, kandang serta peralatan disucihamakan dengan desinfektan.

b. Radang Paha

Radang paha atau Black Leg adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh infeksi bakteri Cl. Chauvoei pada babi yang berakibat kepincangan dan radang yang hebat pada bagian paha.

Penularan penyakit terjadi melalui spora yang termakan oleh hewan dan biasanya menyerang babi muda umur 8-18 bulan. Gejala klinis yang mencolok adalah pada pangkal kaki belakang yang terserang dengan gejala awal pincang diikuti terbentuknya peradangan di bagian atas kaki yang meluas secara cepat. Jaringan yang terserang jika diraba berkrepitasi yang disebabkan penumpukan gas di bawah kulit. Timbul demam yang tinggi dan pernafasan meningkat, hewan terdengar mendengkur dengan gigi gemertak. Kematian terjadi mendadak antara 1-2 hari setelah timbul gejala serta dapat terjadi pendarahan pada hidung dan dubur.

Diagnosis dapat dilakukan dengan pengujian FAT. Pemeriksaan sediaan ulas darah secara cepat dapat membedakan dengan penyakit antraks. Pengendalian dan pencegahan dapat dilakukan dengan vaksinasi masal di daerah tertular setiap tahun untuk umur 6 bulan sampai 3 tahun. Pengobatan hewan sakit dapat dilakukan dengan suntikan penisilin dosis besar. Hewan yang mati karena radang paha dilarang dipotong untuk dikonsumsi dagingnya. Bangkai dimusnahkan, kandang serta peralatan disucihamakan dengan desinfektan.

c. Tetanus

Tetanus adalah penyakit akut yang mengakibatkan kekakuan dan kekejangan otot tubuh yang disebabkan infeksi bakteri Cl. Tetani. Bakteri ini terdapat di dalam tanah dan alat pencernaan hewan. Tetanus ditemukan dimana-mana di Indonesia terutama kuda, babi, domba, kambing dan kera, sedangkan pada babi jarang terjadi. Kejadian penyakit ini biasanya bersifat insidental mengikuti infeksi pada luka yang dalam atau pada lokasi yang banyak menggunakan pupuk kandang.

Penularan terjadi karena adanya luka kecil dan dalam, yang memungkinkan adanya kondisi anaerobik yang memudahkan pertumbuhan bakteri. Gejala klinis yang teramati pertama kali adalah kekakuan otot lokal diikuti oleh kekejangan umum, suhu tubuh sangat tinggi menjelang kematian. Kematian akibat tetanus sangat tinggi yaitu mencapai 80% .

Diagnosis dapat diperkirakan berdasarkan gejala klinis adanya kekejangan yang tetanik. Peneguhan diagnosis dapat dilakukan dengan pengiriman spesimen ulas atau biopsi jaringan luka ke laboratorium. Pengobatan dapat dilakukan dengan penyuntikan antitoksin diikuti pembersihan dan desinfeksi luka. Antibiotika dapat mematikan kuman penyebab bila luka telah dibersihkan namun tidak mampu menghilangkan toksin dari jaringan. Ternak yang terserang tetanus dilarang keras dipotong. Karkas harus dimusnahkan dengan dibakar.

PENYAKIT BAKTERI

1. 1. Literiosis

Blenden dari University of Missouri (1975) melaporkan, dari 731 yang meninggal karena Listeriosis, 73% menderita radang otak, 17% menderita keracunan darah, 5% keguguran dan 5% dengan gejala-gejala yang lain.

1. 2. Brucellosis

Brucellosis suis yang menginfeksi babi merupakan sumber utama penyakit Brucellosis pada manusia. Steele (1968) memperlihatkan bahwa Brucellosis suis yang sangat ganas menyerang manusia adalah tipe 1, 3 dan 4.

1. Leptospirosis
Menurut Van der Hoeden (1956), Leptospirosis canicola yang hidup dalam tubuh babi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang lebih serius disbanding Leptospirosis dari binatang-binatang lainnya. Stanley L. Diesch dan H.H. Ellinghausen menjelaskan gejala-gejala dari Leptospirosis antara lain demam, pembesaran hati dan penyakit kuning.
2. Tetanus
Penyakit ini ditandai dengan tegang-tegang otot, kesulitan menelan, kondisi badan memburuk dan encephalitis. Bergeland (1975) membuktikan bahwa daging babi mengandung Clostridium tetani yang dapat menular pada manusia.
3. Melioidosis
Penyakit ini pertama kali ditemukan di Myanmar tahun 1911. Redfearn dan Palleroni (1975) menjelaskan, gejala-gejala yang nampak dari penyakit ini antara lain, pembesaran kelenjar seperti yang diderita para gelandangan dan morfinis.
4. Pasteurellosis
Kasus pertama penyakit ini pada manusia ditemukan oleh Brugbateli pada tahun 1913. Gejala-gejala penyakit ini antara lain, demam panas dan keracunan darah.
5. Yersiniosis
Mair (1975) menjelaskan gejala-gejala dari penyakit ini antara lain, usus buntu akut, radang usus erytema dan keracunan darah.
6. Vibriosis
Bryner (1975) menyebutkan gejala-gejala penyakit ini antara lain, demam, menggigil, kondisi tubuh menurun, sakit kepala, tegang rahim dan mencret.
7. Staphylococcosis
Menurut Dean M. Fluharty (1975), Staphylococcosis merupakan penyakit yang sangat bervariasi, mulai dari keracunan makanan, penyakit infeksi yang mengeluarkan nanah atau sebagai carrier untuk orang lain.

10. Streptococcosis
Penyakit ini disebabkan oleh kuman Streptococcus. Menurut Fluharty (1975) gejala-gejala penyakit ini antara lain, keracunan darah, penyakit jengkering, rheumatic dan infeksi kulit.

11. Tuberculosis
Babi yang menderita penyakit TBC dapat menularkan penyakit tersebut baik langsung kepada manusia. Hal ini dijelaskan oleh H.H. Kleeburg (1975).

12. Anthrax
L.C. Ferguson dan E.H. Bohl dari Ohio Agricultural Research and Development Center (1975), menjelaskan bahwa babi menularkan anthrax pada manusia. Penyakit ini antara lain menyerang kulit, pernapasan dan usus.

Daftar Pustaka:

1. Ismail P. dan Rachmat P. 1993. Peraturan dan Undang-Undang Peternakan. Jakarta.
2. Subronto, 1995. Ilmu penyakit ternak. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Budi Tri Akoso, 1996. Kesehatan Babi. Penerbit Kanisius, Yogyakarta
KLIK LINK DIBAWAH UNTUK MENDUKUNG AGAR BLOG INI TETAP ADA: TRIMS!



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar