Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Bulan-bulan Buruk Harga Telur Puyuh

Mulai minggu ini pembelian dengan sistem range oleh PT Peksi Gunaraharja untuk sementara dihentikan sampai batas waktu yang belum ditentukan. Minggu ini juga PT Peksi memberlakukan kebijaksanaan baru. Cara menentukan harga pembelian telur mulai menggunakan sistem umur. Telur yang dihasilkan burung puyuh muda dihargai lebih mahal daripada telur yang dihasilkan burung puyuh tua. Sistem pembelian dengan ukuran umur baru pertama kali ini diterapkan, setelah bertahun-tahun mengalami langganan harga buruk terutama bulan oktober, november, dan desember.
Langganan harga buruk pada bulan-bulan tersebut sudah menjadi tradisi bertahun-tahun. Bagi peternak-peternak lama menghadapi keadaan yang demikian sudah biasa. Mereka sudah hapal adanya bulan-bulan suram bagi peternak burung puyuh petelur. Sehingga saat bulan-bulan buruk biasanya dipakai sebagai start atau awal mereka meremajakan unggas ternak kesayangannya. Diperkirakan apabila bulan dengan harga telur sedang buruk dipakai untuk awal mulai ternak atau meremajakan, maka pada saat bulan-bulan dengan harga paling bagus, burung puyuh kesayangan sedang dalam kondisi puncak-puncaknya produksi.
Bulan-bulan buruk ini terjadi disebabkan karena faktor kemampuan pemasaran. Kemampuan PT Peksi memasarkan telurnya untuk saat ini berkisar 5-6 juta butir telur per-minggunya. Pada bulan antara oktober dan desember kemampuan pemasaran itu menurun menjadi sekitar 4-5 juta butir telur per-minggu. Padahal produksi telur tidak menurun. Sehingga hukum pasar yang dialami PT Peksi berada dalam keadaan over produksi yang tidak imbang dengan kemampuan penjualan. Tidak ada jalan lain selain menurunkan harga pembelian sampai batas harga telur dapat diserap pasar. Keadaan itu menyebabkan adanya bulan-bulan buruk. Demikian kira-kira gambaran menurut keterangan dari pihak PT.
Untuk peternak, tentu saja penghasilan juga menurun karena harga pakan tetap, bahkan pernah terjadi harga pakan naik saat harga telur turun.
Penurunan kemampuan pasar yang digambarkan pihak PT salah satunya disebabkan karena wilayah-wilayah pemasaran mendapat pasokan telur dari wilayah timur, yang memang dikenal sebagai sentra telur nasional. Kemampuan pasokan dari timur yang didukung hasil produksi dan kemampuan pasar diakui melebihi kemampuan PT Peksi, sehingga PT Peksi tidak mampu mengendalikan harga. Keadaan yang memaksa untuk men-stabil-kan kondisi perusahaan menjadikan penurunan harga telur sebagai satu-satunya alternatif solusi.
Hanya saja penurunan kemampuan pemasaran tidak semata-mata adanya serbuan telur dari timur, tetapi faktor cuaca juga termasuk menjadi penyebabnya. Mengingat lahan pasar sementara ini terbesar berada di jakarta, otomatis susahnya pengangkutan dan apalagi jika sedang terjadi banjir akan mengurangi konsumsi telur puyuh.
Keadaan tersebut terjadi bertahun-tahun. Menjadi tradisi masalah yang belum teratasi dalam men-stabil-kan harga telur dengan tetap menjaga profit perusahaan tanpa mengurangi keuntungan peternak/plasma.
Untuk mengantisipasi dan sebagai solusi menghadapi tradisi keadaan yang demikian, mulai minggu ini PT memberlakukan pembelian dengan patokan umur. Sistem ini baru pertama kali diterapkan. Bertujuan men-stabil-kan harga dengan cara memaksa halus pemangkasan produksi agar seimbang dengan kemampuan pemasaran. Pemangkasan produksi dengan cara agar mau tidak mau peternak harus meng-apkir ternaknya untuk yang sudah berumur lebih dari 1 tahun, walaupun kondisi produksinya masih bagus. Pemaksaan halus untuk mengapkir burung puyuh yang berumur lebih dari satu tahun ini dengan cara mematok harga beli yang lebih murah. Untuk itu PT bertanggung jawab memberi kompensasi dengan penukaran 1 ekor apkiran mendapatkan 2 ekor bibit/ DOQ.
Setiap kebijaksanaan sebagus apapun tujuannya akan selalu mengandung kelemahan. Demikian juga penulis sebagai peternak/plasma juga menyorot beberapa kelemahan kebijakan itu:
Kelemahan pertama, sama-sama telur tapi berbeda harganya. Ini bisa diakali peternak dengan menitipkan telur dari puyuhnya yang sudah tua ke peternak lain yang mempunyai puyuh masih muda. Sehingga peternak sedikit banyak masih bisa merasakan bagian harga yang tinggi.
Kelemahan kedua, keterangan-keterangan terdahulu mengenai perbaikan pakan agar umur burung puyuh bisa panjang produksinya hingga 2 tahun menjadi tidak berguna. Berhadapan dengan kebijakan baru ini pakan yang bagus hingga dapat memperpanjang peoduksi telur menjadi sia-sia.
Kelemahan ketiga, mengacau rangkaian pencapaian BEP bagi peternak. Burung puyuh yang bertahan lebih dari satu tahun otomatis menyumbang pengembalian modal yang cukup besar. Berawal dari modal dasar yang sudah berjalan lancar, kebijakan tersebut mengharuskan back to start. Awal pemeliharaan lagi yang jelas minimal 2 bulan tidak ada penghasilan. Ini terutama berlaku untuk peternak yang mempunyai puyuh dengan umur setara dan bagus kondisinya. Padahal andaikata tidak ada sistem pemangkasan paksa, burung puyuhnya masih akan terus memberi profit sampai batas benar-benar tidak lagi berproduksi. tidak harus kembali ke awal peremajaan yang berarti menghentikan pemasukan pendapatannya.
Kelemahan keempat, pemasaran memang sulit dan penulis pun belum tentu mampu. Kebijakan itu menunjukkan bahwa PT Peksi belum bisa menembus kesulitan pasar pada bulan-bulan tertentu. Sehingga harus mengorbankan ke dalam terutama plasma untuk tetap menjaga keseimbangan kemampuan pemasaran.
Tapi bagaimanapun juga, kelemahan-kelemahan itu masih kalah dibanding dengan manfaatnya yaitu men-stabil-kan harga telur.
Nilai positifnya;
1. Kebijakan penentuan harga ini hanya untuk sementara
2. Mengkondisikan tidak total semua peternak merasakan bulan buruk dampak serbuan telur dari timur.
Ditunggu saja bagaimana perkembangannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar