Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

Cara Efisiensi Reproduksi Sapi Perah




efisiensi reproduksi sapi perah

Ukuran efisiensi reproduksi dalam usaha peternakansapi perah sangatlah penting, karena untuk mendapatkan produksi susudan keuntungan yang optimal sangat bergantung kepada pengaturan reproduksi sapiperah tersebut.


Ada beberapa ukuran efisensi reproduksi untuk sapi perahberdasarkan performans reproduksi selama satu periode laktasi yaitu :



  • Periode kosong (days open) yaitu periode atauselang waktu sejak sapi beranak sampai dikawinkan kembali dan terjadikebuntingan. Apabila kawin pertama setelah beranak terjadi kebuntingan, makaperiode kosong sama dengan selang waktu kawin pertama setelah beranak (firstservice postpartus).



  • Kawin pertama setelah beranak (first servicepostpartus) yaitu selang waktu sejak sapi beranak sampai dikawinkankembali. Kawin pertama setelah beranak yang baik berkisar 45-60hari (pada berahi kedua atau berahi ketiga).


  • Periode kawin (service period) yaitu selangwaktu sejak sapi kawin pertama setelah beranak sampai kawin terakhir terjadikebuntingan. Lamanya periode kawin dipengaruhi oleh jumlah kawin pada setiapkebuntingan (service per conseption).


  • Jumlah kawin pada setiap kebuntingan (service perconseption) yaitu berapa kali sapi dikawinkan sampai terjadikebuntingan.  S/C yang ideal berkisar 1-3 kali.


  • Jarak beranak (calving interval) yaitu selangwaktu antara beranak sampai beranak berikutnya. Jarak beranak yang idealberkisar 12-14 bulan.


  • Indeks beranak (calving index) yaituperbandingan antara annual calving dengan calving interval yangdidapat dari seekor sapi perah. Annual calving yang ideal di Indonesia 12bulan (365 hari).


Performans reproduksi lainnya yang harus mendapatperhatian adalah :

  1. Siklus berahi (heat period) yaitu selang waktudari berahi sampai berahi berikutnya. Siklus berahi pada sapi dewasa berkisar 18-24hari atau rata-rata 21 hari, sedangkan pada sapi dara biasanya lebihpendek yaitu 15-17 hari.
  2. Lama berahi (heat of duration) yaitu selangwaktu sejak sapi mulai berahi sampai sapi normal kembali. Lamanya berahi padasapi perah berkisar 6-36 jam atau rata-rata 18 jam. Padasapi dara lebih cepat yaitu rata-rata 15 jam. Awal berahi danlamanya berahi sangat penting untuk menentukan waktu perkawinan yang tepat.
  3. Lama bunting (gestation period) yaitu selangwaktu sejak sapi dikawinkan dan terjadi kebuntingan sampai beranak. Lamabunting pada sapi perah 283±5 hari atau sembilan bulan.


Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi reproduksiantara lain :




  • Pakan; Telah dijelaskan bahwa ransum yang diberikankepada sapi perah harus benar-benar diperhatikan dan dihitung sesuai kondisidan kebutuhan ternak tersebut. Nutrisi yang terkandung di dalam ransum harusdalam keadaan seimbang dan sesuai dengan kebutuhan. Apabila ada kekurangansalah satu nutrisi, maka keseimbangan nutrisi di dalam ransum turun, sehinggamengakibatkan mundurnya fungsi organ-organ reproduksi dan fungsikelenjar-kelenjar yang memproduksi hormon.


  • Suhu udara dan musim; suhu udara sangat berpengaruhterhadap sifat reproduksi misalnya pada sapi yang dikandangkan dengan suhuudara 24-35 0C, lama berahi kurang lebih 11 jam,sedangkan pada suhu udara 17-18 0C lama berahi rata-rata 20jam. Dari hasil penelitian membuktikan bahwa sapi perah yang mempunyai siklusberahi kurang dari 18 hari sebanyak 5%, 18-24 hari sebanyak 85%dan yang lebih dari 24 hari sebanyak 10%.


  • Manajemen; Secara keseluruhan manajemen atautatalaksana sangat berpengaruh, karena sapi perah sangat sensitif terhadapperubahan-perubahan manajemen terutama yang berhubungan langsung denganternaknya. Dalam tatalaksana reproduksi yang penting adalah adanya catatan yangmenginformasikan segala sesuatu yang berkaitan dengan reproduksi. Catatan iniharus lengkap dan jelas.


  • Penyakit; Apabila ternak terserang penyakit, makabiaya yang dikeluarkan cukup besar. Oleh karena itu sebaiknya dilakukanpencegahan baik melalui seleksi maupun vaksinasi secara rutin.





Artikel diambil dari :

  • Deskripsi Sapi Perah Fries Holland, Didin S Tasripin,Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran

  • Tidak ada komentar:

    Poskan Komentar