Pages

Subscribe:

Ads 468x60px

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG KULIT BUAH PEPAYA (Carica papaya) DALAM RANSUM TERHADAP JUMLAH TELUR DAN LARVA CACING DALAM FESES TERNAK BABI PERIODE FINISHER

Pakan Lele Organik, Dikembangkan
Naiknya pakan ikan lele akibat dampak dari kenaikan Tarif Dasar Listrik / TDL,
cara beternak babi
Pokok-Pokok Beternak 1. Yang perlu diperhatikan terhadap anak babi
ASPEK PRODUKSI, BUDIDAYA IKAN GURAMI
KLASIFIKASI, JENIS DAN CIRI-CIRI Secara umum, pola budidaya perikanan air tawar yang
Desain Kandang Kambing Etawa (Bagian 3)
Terdapat dua model untuk kolong kandang: Kolong disemen miring (turunan) kearah selokan.

ABSTRAK

Penelitian telah dilakukan di Koperasi Peternak Babi Indonesia (KPBI), Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui berapa jumlah telur dalam tiap gram feses yang terdapat pada ternak babi yang diberi pakan tepung kulit buah pepaya dan mengetahui jumlah larva yang menginvestasi ternak babi tersebut. Metode penAelitian yang digunakan adalah metode sensus dengan dua kali pengulangan pengambilan sampel, ternak penelitian yang digunakan adalah 18 ekor ternak babi sehingga diperoleh 36 sampel. Pengambilan feses dilakukan di kandang pemeliharaan diambil dari rektum dari tiap ekor ternak babi. Sampel yang telah diambil dianalisis kemudian dilakukan pemeriksaan untuk mengidentifikasi jumlah telur dan larva cacing yang menginfeksi ternak babi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh pengurangan jumlah telur cacing Strongylus sp, Ascaris sp dan Trichuris suis pada pemberian tepung kulit buah pepaya 5% dan 10% serta tidak ditemukan adanya larva Strongylus sp, Ascaris sp dan Trichuris suis.

Kata kunci : babi, jumlah telur, jumlah larva, tepung kulit buah pepaya



ABSTRACT

The research had done at Koperasi Peternak Babi Indonesia (KPBI), Village of Kertawangi, Subdistrict Cisarua, Lembang, Regency of Bandung. This research aimed to know how many eggs in each gram of feces contain in pig livestock which was given papaya skin fruit flour and to know how many larvae invest that pig livestock. The research method used census method with two times repetition took sample, research livestock used 18 pigs livestock thus gained 36 samples. Feces collecting did in pen of hogs caring took from rectum each pig livestock. The samples took which had analyzed then investigated to know how many eggs and to know how many larvae invest that pig livestock. The results showed that the influence of reducing the amount of Strongylus sp worm eggs, Ascaris sp and Trichuris suis on the skin giving papaya powder 5% and 10% and amount of Strongylus sp, Ascaris sp and Trichuris suis did not find any larvae.

Keywords: pigs, amount of eggs, amount of larvae, papaya skin flour





PENDAHULUAN

Babi merupakan salah satu komoditas ternak penghasil daging yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan karena mempunyai sifat – sifat menguntungkan diantaranya : laju pertumbuhan yang cepat, jumlah anak perkelahiran (litter size) yang tinggi, efisien dalam mengubah pakan menjadi daging dan memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap makanan dan lingkungan.

Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan usaha pengembangan ternak babi dari aspek manajemen adalah faktor kesehatan atau kontrol penyakit. Ternak babi sangat peka terhadap penyakit, salah satunya adalah penyakit endoparasit. Parasit merupakan makhluk hidup yang dalam kehidupannya menggunakan makanan makhluk hidup lain sehingga sifatnya merugikan. Cacing mempunyai salah satu sifat merugikan yaitu menimbulkan gangguan nafsu makan dan pertumbuhan. Gangguan pada pertumbuhan akan berlangsung cukup lama sehingga produktivitas akan turun. Gejala-gejala dari hewan yang terinfeksi cacing antara lain, badan lemah dan bulu rontok. Jika infeksi sudah lanjut diikuti dengan anemia, diare dan badannya menjadi kurus yang akhirnya bisa menyebabkan kematian. Adanya parasit di dalam tubuh ternak tidak harus diikuti oleh perubahan yang sifatnya klinis. Kehadiran parasit cacing bisa diketahui melalui pemeriksaan feses, dimana ditemukan telur cacing, makin banyak cacing makin banyak pula telurnya. Perubahan populasi cacing dalam perut babi dapat diikuti dengan menghitung telur tiap gram feses (TTGF) secara rutin.

Tingkat prevalensi parasit cacing tergantung pada jumlah dan jenis cacing yang menginfeksinya. Guna mengurangi resiko akibat infestasi cacing ini perlu diketahui jenis cacing, siklus hidup dan epidemologi dari cacing tersebut. Mengendalikan parasit diperlukan pemeriksaan rutin terhadap adanya endoparasit, terutama jenis dan derajat infestasi yang dapat dilakukan bersama-sama dengan pemeriksaan fisik secara rutin (Subronto dan Tjahajati, 2001). Masalah penyakit khususnya penyakit cacingan pada babi dapat diatasi dengan cara menggunakan obat cacing. Pemberian obat-obatan tersebut harus diulang-ulang dan disesuaikan dengan daur hidup cacing. Biaya yang dibutuhkan untuk pemberian obat cacing memerlukan biaya yang mahal. Alternatif lainnya untuk pengobatan adalah dengan pemberian obat tradisional yang dapat dilakukan dengan menggunakan salah satu jenis flora yang ada di negara kita yaitu pepaya. Selain mudah didapat buah pepaya pun relatif murah harganya.

Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya (Carica papaya) Dalam Ransum Terhadap Jumlah Telur Dan Larva Cacing Dalam Feses Ternak Babi Periode Finisher”.



Identifikasi Masalah

Jumlah telur dan larva cacing dalam tiap gram feses yang terdapat pada babi finisher yang diberi pakan tepung kulit buah papaya (Carica papaya).

Maksud dan Tujuan Penelitian

Mengetahui jumlah telur dan larva cacing dalam tiap gram feses yang terdapat pada babi yang diberi pakan tepung kulit buah papaya (Carica papaya).

Kerangka Pemikiran

Parasit merupakan makhluk hidup yang dalam kehidupannya mengambil makanan makhluk lain, sehingga sifatnya merugikan. Parasit dibagi menjadi dua macam, yaitu ektoparasit dan endoparasit. Ektoparasit adalah parasit yang hidupnya dipermukaan tubuh hewan, yang keberadaannya mengganggu ketentraman hewan dalam pemeliharaan sehingga akan mengganggu proses fisiologis hewan tersebut, sedangkan endoparasit adalah yang hidup di dalam tubuh hewan.

Endoparasit di dalam tubuh akan merampas zat-zat makanan yang diperlukan bagi induk semangnya, cacing dalam jumlah banyak akan mengakibatkan kerusakan usus atau menyebabkan terjadinya berbagai reaksi tubuh yang antara lain disebakan oleh toksin yang dihasilkan oleh cacing-cacing tersebut. Parasit-parasit tersebut biasanya tidak menyebabkan kematian pada hewan secara langsung, melainkan mengakibatkan terjadinya penurunan berat badan pada hewan dewasa dan pertumbuhan akan terhambat pada hewan-hewan muda. (Tarmudji dkk, 1988). Penyakit endoparsit, terutama cacing, menyerang hewan pada usia muda (kurang dari 1 tahun). Presentase yang sakit oleh endoparasit dapat mencapai 30% dan angka kematian yang bisa ditimbulkan adalah sebanyak 30% (Wiryosuhanto dan Jacoeb, 1994).

Menurut Subronto dan Tjahajati (2001), untuk terjadinya infeksi, parasit harus mampu mengatasi pertahanan tubuh hospes definitive. Hubungan parasit dengan hospes dan keadaan sekitarnya perlu dianalisis untuk tiap keadaan. Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah parasit sehingga mampu berkembang serta mencapai kematangan seksual tergantung pada (a) kesempatan hospes berkenalan dengan parasit, (b) biologi parasit, dan (c) tingkat kerentanan hospes. Tiap parasit memiliki sifat khusus dalam daur hidupnya dan kemampuan dari parasit untuk menghasilkan keturunannya.

Jumlah telur tiap gram feses (TTGF) berbanding lurus dengan jumlah cacing betina dewasa yang terdapat dalam saluran pencernaan (Robert dan Swann 1981 dalam Kusumamihardja 1992). Gejala terserangnya parasit cacing akan terjadi tergantung dari jenis parasit, kondisi induk semang, organ yang dipengaruhinya, jumlah parasit, iklim dan umur hewan. Beberapa faktor yang akan mempengaruhi pertumbuhan cacing diantaranya kepadatan inang antara dan inang definitif, derajat infeksi dari inang definitif, serta penyebaran inang yang terinfeksi oleh cacing tersebut (Lawson dan Gemmel, 1983). Beberapa alternatif zat aditif telah ditawarkan bagi peternak untuk memicu produksi dan reproduksi yang dihasilkan melalui ekstraksi berbagai jenis tanaman yang mempunyai senyawa bioaktif sebagai antioksidan, antibiotik, meningkatkan nafsu makan, meningkatkan sekresi enzim-enzim pencernaan dan meningkatkan kekebalan tubuh, untuk itu negara kita mempunyai peluang cukup besar karena kaya akan keanekaragaman sumber daya alam hayati.

Pepaya (Carica papaya L) merupakan tanaman obat tradisional yang memiliki khasiat sebagai penambah nafsu makan, obat cacing, menurunkan tekanan darah, anemia dan membunuh amuba. Kandungan kimia yang dikandung pepaya antara lain enzim papain, alkaloid karpaina, glikosid, saponin, sakarosa, dextrosa serta mengandung vitamin A yang cukup tinggi yaitu 18.250 IU yang berfungsi sebagai provitamin A. Papain juga dapat memecah makanan yang mengandung protein hingga terbentuk berbagai senyawa asam amino yang bersifat autointoxicating atau otomatis menghilangkan terbentuknya substansi yang tidak diinginkan akibat pencernaan yang tidak sempurna. (Cybermed.cbn.net.id, 2006). Papain mempunyai sifat Vermifuga kemampuan menguraikan protein sehingga protein terurai menjadi polipeptida dan dipeptida. Cacing termasuk protein yang tidak terlindungi oleh selaput sehingga bila papain masuk ke saluran usus yang banyak mengandung cacing, cacing tersebut akan terurai atau menghindar dengan keluar dari lubang anus. Papain bisa memecah protein menjadi arginin, senyawa arginin merupakan salah satu asam amino esensial yang dalam kondisi normal tidak bisa diproduksi tubuh dan biasa diperoleh melalui pakan, namun bila enzim papain terlibat dalam proses pencernaan protein, secara alami sebagian protein dapat diubah menjadi arginin. Proses pembentukan arginin dengan papain ini turut mempengaruhi produksi hormon pertumbuhan. (Wikipedia.com, 2006).

Papain melemaskan cacing dengan cara merusak protein tubuh cacing. Papain merupakan enzim protease sulfhidril dan akan mendegradasi protein-protein jaringan konektif dan myofibril. Proses penguiraian protein pada cacing terjadi melalui mekanisme pemutusan ikatan sebagai berikut : —Phe—AA — Z;—Val—AA— Zi—Leu—AA—Z;—He—AA—Z

(AA merupakan residu asam amino; z merupakan residu asam amino; ester, atau amida) (Asiamaya.com, 2001).

Beberapa penelitian yang mendukung pemanfaatan pepaya sebagai anthelmetika diantaranya yang dilakukan secara in vitro (Atiyah, 2001) dalam penelitiannya digunakan bahan berupa getah yang diperoleh dengan cara menyadap buah muda pepaya tanpa dipetik. Isolasi papain dilakukan dengan membiarkan getah dalam alkohol 80%, sehingga papain akan mengendap. Endapan papain dikeringkan dalam oven bersuhu 50 – 550C selama enam jam, uji terhadap Ascaris sp dilakukan dengan merendam cacing pada larutan papain secara in vitro bekerja sebagai antelmentik pada dosis 600 mg. Perlakuan efek antelmentik papain kasar terhadap cacing lambung (Haemochus contortus), secara in vivo pada domba jantan terinfeksi, dilakukan (Ridayanti, 2001) hasilnya menunjukkan pemberian papain kasar sampai 0,6 g/kg bobot badan meyebabkan penurunan jumlah cacing dan telurnya. (Nuraini, 2001) dari Jurusan Biologi FMIPA Unair, dalam penelitiannya membuktikan, secara in vitro pemberian 50% perasan daun pepaya gantung (Carica papaya) setelah setengah jam, sudah menimbulkan efek kematian pada cacing hati sapi (Fasciola gigantica). Bila lamanya mencapai dua jam, semua cacing yang direndam akan mati (Atiya, dkk. 2001). Berdasarkan kerangka pemikiran diatas diambil hipotesa bahwa pemberian limbah kulit buah pepaya mampu mengurangi jumlah telur dan larva cacing.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 1 Mei sampai tanggal 20 Juni 2009 di Koperasi Peternak Babi Indonesia (KPBI), Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Lembang, Kabupaten Bandung. Analisis dilakukan di Laboratorium Balai Penyidikan Penyakit Hewan dan Kesmavet (BPPHK) Jl. Raya Tangkuban Perahu. KM 22 Cikole Lembang.

TINJAUAN PUSTAKA

Deskripsi Ternak Babi

Babi merupakan ternak monogastrik yang memiliki kesanggupan dalam mengubah bahan makanan secara efisien apabila ditunjang dengan kualitas ransum yang dikonsumsi. Besarnya konversi babi terhadap ransum ialah 3,5 artinya untuk menghasilkan berat babi 1 kg dibutuhkan makanan sebanyak 3,5 kg ransum (Goodwin, D. H. 1974). Babi lebih cepat tumbuh, cepat dewasa dan bersifat prolifik yang ditunjukkan dengan banyaknya anak dalam setiap kelahiran yang berkisar antara 8 -14 ekor dengan rata-rata dua kali kelahiran pertahunnya (Sihombing, 1997).

Beberapa jenis penyakit pada babi khususnya penyakit parasiter oleh cacing masih banyak ditemukan di lapangan, antara lain Nematodiosis. Penyakit ini disebabkan oleh cacing dari klas nematoda atau cacing gilig. Infeksi cacing ini menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup tinggi, karena menyebabkan pertumbuhan ternak menjadi tidak optimal. Akhir-akhir ini telah mulai adanya laporan tentang adanya sifat resistensi cacing terhadap beberapa jenis sediaan antelmintika (obat pembasmi cacing) yang diduga disebabkan oleh penggunaan obat yang tidak rasional (ketidak tepatan pemilihan obat, waktu pengobatan dan dosis yang diberikan). Penelitian ini dilakukan dengan harapan hasilnya dapat digunakan sebagai acuan dalam memberantas cacingan khususnya untuk babi-babi yang kaji.

Pada dasarnya babi mengkonsumsi makanannya untuk memenuhi kebutuhan energinya, yang dipakai untuk mengatur suhu tubuh, fungsi vital, aktivitas, reproduksi dan produksi. Untuk babi jumlah makanan yang dikonsumsi sangat dipengaruhi oleh suhu lingkungan, kandungan energi ransum, dan level pemberian makanan. Untuk babi di daerah tropis, jumlah makanan yang dikonsumsi cenderung lebih sedikit daripada di daerah subtropis. Hal ini akan berdampak negatif terhadap performans ternak babi khususnya di daerah tropis, jika tidak diimbangi dengan pemberian nutrient esensial yang secukupnya, oleh karena itu perlu disusun ransum seimbang yang mengandung nutrien lengkap dan jumlah serta proporsi yang tepat agar ternak babi dapat berkembang dengan baik dan sehat.



Endoparasit Pada Ternak Babi

Parasit merupakan mahluk hidup yang dalam kehidupannya mengambil makanan mahluk hidup lain, sehingga sifatnya merugikan. Parasit dibagi menjadi dua macam, yaitu ektoparasit dan endoparasit. Ektoparasit adalah parasit yang hidupnya dipermukaan tubuh hewan, yang keberadaannya mengganggu ketentraman hewan dalam pemeliharaan sehingga akan mengganggu proses fisiologis hewan tersebut, sedangkan endoparasit adalah yang hidup di dalam tubuh hewan.

Menurut Subronto dan Tjahajati (2001), untuk terjadinya infeksi, parasit harus mampu mengatasi pertahanan tubuh hospes definitif. Dalam tubuh hospes yang bertindak sebagai reservoir, populasi parasit harus mantap dari generasi induk sampai generasi selanjutnya. Parasit dapat lepas dari hospes yang bertindak sebagai reservoir dengan cara parasit dibebaskan oleh hospes dan langsung masuk ke dalam tubuh hospes definitif atau hospes yang bertindak sebagai reservoir dihancurkan terlebih dahulu dan baru masuk setelah parasit bebas masuk ke dalam tubuh hospes definitive. Penularan terhadap hospes yang rentan oleh parasit stadium infektif yang terdapat di luar tubuh hospes definitif dimungkinkan apabila parasit sanggup mengatasi faktor lingkungan, persaingan antar parasit sendiri dan gangguan secara mekanis oleh ternak.

Faktor-faktor yang mempengaruhi jumlah parasit sehingga mampu berkembang serta mencapai kematangan seksual tergantung pada (a) kesempatan hospes berkenalan dengan parasit, (b) biologi parasit, dan (c) tingkat kerentanan hospes. Tiap parasit memiliki sifat khusus dalam daur hidupnya dan kemampuan dari parasit untuk menghasilkan keturunannya. Parasit akan bertahan tergantung pada jumlah telur yang dihasilkan, panjang waktu menghasilkan telur dan jumlah telur yang dihasilkan setiap hari (Subronto dan Tjahajati, 2001).



Helminthiasis Pada Ternak Babi

Kesehatan Ternak Babi dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain kondisi lingkungan pemeliharaan, makanan, pola manajemen, bibit penyakit dan kelainan – kelainan metabolisme. Presentase ternak yang sakit oleh endoparasit dapat mencapai 30% dan angka kematian yang bisa ditimbulkan adalah sebanyak 30% (Wiryosuhanto dan Jakob, 1994).

Nematoda adalah cacing yang hidup bebas atau sebagai parasit. Ciri-ciri tubuhnya tidak bersegmen dan biasanya berbentuk silinder yang memanjang serta meruncing pada kedua ujungnya. Nematoda memiliki siklus hidup langsung, sehingga tidak memerlukan inang antara dalam perkembangan hidupnya. Cacing betina dewasa bertelur dan mengeluarkan telur bersamaan dengan tinja, di luar tubuh telur akan berkembang. Larva infektif dapat masuk ke dalam tubuh babi secara aktif, tertelan atau melalui gigitan vektor berupa rayap. Badannya dibungkus oleh lapisan kutikula yang dilengkapi dengan gelang – gelang yang tidak dapat dilihat oleh mata biasa (Kusumamihardja, 1992).

Strongylus sp

Strongylus sp merupakan cacing parasit pada ternak babi, berdasarkan klasifikasi taksonomi dalam Soulsby (1982) cacing ini termasuk dalam klasifikasi :

Filum : Nemathelminthes

Kelas : Nematoda

Ordo : Strongylyda

Superfamili : Strongyloidea

Famili : Strongylus

Spesies : Strongylus vulgaris, Strongylus equines, Stronglus

Edentates



Morfologi an Siklus Hidup

Cacing Strongylus sp mulutnya dilapisi oleh kapsul yang bentuknya hampir bulat. Suatu cincin yang tersusun dari tonjolan – tonjolan seperti pagar dikenal sebagai korona radiata mengelilingi mulut. Cacing ini tidak mempunyai gigi ataupun lempeng – lempeng pemotong, cacing jantan mempunyai suatu pelebaran di ujung posteriornya dan cacing betina mempunyai ujung ekor yang lancip.

Strongylus sp memliki siklus hidup langsung. Cacing betian dewasa bertelur dan keluar tubuh inang bersama dengan feses. Di luar tubuh inangnya telur akan berkembang. Perkembangan sel telur setelah terjadinya pembelahan membagi diri menjadi dua, lalu empat dan seterusnya. Kemudian embrio berkembang menajdi masa morula kemudian masa kecebong yaitu ujung anteriornya lebar dan embrionya melingkar dua kali. Pada kondisi tropis di Indonesia yang suhunya 280C – 300C merupakan suhu yang relatif baik untuk menetasnya telur strongylus sp. Telur akan berkembang menjadi L3 dalam waktu 3 – 4 hari.

Telur strongylus sp menetas di luar tubuh induk semang menghasilkan larva 1 (L1) dalam suhu 80C – 380C kemudian melewati dua kali ekdisis (ganti kulit) menjadi L2 dan selanjutnya L3 disebut stadium infektif. Larva pertama biasanya keluar dari telur yang berumur dua hari bila keadaan baik. Larva makan bakteri yang terdapat dalam feses kemudian melakukan ekdisis dua kali dalam waktu 5 – 6 hari sehingga mencapai larva ketiga (larva infektif). Larva infektif memiliki selubung kutikula ganda sehingga relatif lebih tahan teehadap berbagai kondisi buruk.

Gejala Klinis dan Patogenesis

Patogenesis infestasi cacing adalah proses perubahan patologis yang terjadi akibat interaksi antara cacing dan inangnya. Jenis dan perluasan dari kontak parasit dan jaringan inang ditentukan oleh mekanisme biologis yang tak terpisahkan antara parasit dan proses fisiologik induk semang yang merespon masuknya cacing.

Larva strongylus sp mulai menimbulkan kerusakan pada saat menyusup dalam dinding usus kecil dan usus besar. Selanjutnya larva keempat dan kelima menimbulkan kerusakan pada sistem arteri dan mulai katup aorta sampai arteri mesenterica cranialis dan cabang-cabangnya. Peradangan terjadi pada lapisan media dan menimbulkan thrombus (darah beku). Larva biasanya terbungkus dalam thrombus, bila thrombus ini lepas biasanya berakibat fatal terutama bila thrombus ini terjadi pada daerah pangkal sistem arteri yang bisa mengakibatkan penyumbatan arteri coronaria (Kusumamihardja, 1992).

Ascaris sp

Berdasarkan kalsifikasi taksonomi dalam soulsby (1986) cacing ini termasuk dalam klasifikasi :

Filum : Nematoda

Kelas : Secernentea

Ordo : Ascaridida

Famili : Ascarididae

Genus : Ascaris

Spesies : Ascaris sp, Ascaris lumbricoides



Morfologi dan Siklus Hidup

Cacing Ascaris sp merupakan jenis cacing gilig penyebab ascariasis pada ternak babi, teutama babi muda di seluruh dunia (Soulsby, 1982). Kejadian ascariasis sangat tinggi pada babi-babi di daerah tropis dan sub tropis (Chan, 1997 dalam Tsuji, et al (2003). Cacing ini berparasit pada usus halus (Soulsby, 1982). Infeksi dapat terjadi melalui pakan, air minum, puting susu yang tercemar, melalui kolostrum dan uterus (Levine, 1990).

Siklus hidup ascaris terdiri dari 2 fase perkembangan, yaitu eksternal dan internal. Fase eksternal dimulai dari sejak telur dikeluarkan dari tubuh penderita bersama tinja. Pada kondisi lingkungan yang menunjang larva stadium 1 di alam akan menyilih menjadi larva stadium 2 yang bersifat infektif ( siap menulari ternak babi jika tertelan). Di dalam usus, kulit telur infektif yang tertelan akan rusak sehingga larva terbebas (larva stadium II). Larva stadium II tersebut selanjutnya menembus mukosa usus dan bersama sirkulasi darah vena porta menuju ke hati. Dari telur tertelan sampai larva mencapai organ hati, butuh waktu sekitar 24 jam (Smith, 1968). Dari hati, larva stadium II akan terus mengikuti sirkulasi darah sampai ke organ jantung dan paru-paru. Setelah 4 – 5 hari infeksi, larva stadium II akan mengalami perkembangan menjadi larva stadium III, selanjutnya menuju ke alveoli, bronkus dan trakhea (Soulsby, 1982). Dari trakea, larva menuju ke saluran pencernaan. Larva stadium III mencapai usus halus dalam waktu 7 – 8 hari dari infeksi, selanjutnya menjadi larva stadium IV, pada hari ke 21-29 larva stadium IV menjadi larva stadium V di dalam usus halus (Lapage, 1956) dan selanjutnya pada hari ke 50 – 55 telah menjadi cacing dewasa (Seddon, 1967). Satu ekor cacing betina dewasa rata-rata bertelur 200.000 butir per hari dan selama hidupnya diduga dapat bertelur 23 milyar butir (Dunn, 1978).



Gejala Penyakit dan Patogenesis

Ascaris sp merupakan cacing yang sangat berbahaya karena telurnya dapat masuk ke saluran pencernaan dan telur akan menjadi larva pada usus. Larva akan menembus usus dan masuk ke pembuluh darah. Ia akan beredar mengikuti sistem peredaran, yakni hati, jantung dan kemudian di paru-paru. Pada paru-paru, cacing akan merusak alveolus, masuk ke bronkiolus, bronkus, trakea, kemudian di laring. Ia akan tertelan kembali masuk ke saluran cerna. Setibanya di usus, larva akan menjadi cacing dewasa.

Pada stadium larva, Ascaris dapat menyebabkan gejala ringan di hati dan di paru-paru akan menyebabkan sindrom Loeffler. Sindrom Loeffler merupakan kumpulan tanda seperti demam, sesak nafas, eosinofilia, dan pada foto Roentgen thoraks terlihat infiltrat yang akan hilang selama 3 minggu. Pada stadium dewasa, di usus cacing akan menyebabkan gejala khas saluran cerna seperti tidak nafsu makan, muntah-muntah, diare, konstipasi, dan mual. Bila cacing masuk ke saluran empedu makan dapat menyebabkan kolik atau ikterus. Bila cacing dewasa kemudian masuk menembus peritoneum badan atau abdomen maka dapat menyebabkan akut abdomen.

Trichuris suis

Berdasarkan klasifikasi taksonomi dalam Soulsby (1986) cacing ini termasuk dalam klasifikasi :

Filum : Nematoda

Kelas : Adenophorea

Ordo : Trichurida

Famili : Trichuridae

Genus : Trichuris

Spesies : Trichuris suis



Morfologi dan Siklus Hidup

Cacing Trichuris sp berparasit pada mukosa kolon babi (Anonimous, 2004a). Selain menginfeksi babi-babi peliharaan, juga dilaporkan menginfeksi babi liar dan babi hutan. Cacing ini sering disebut Whipworm. Morfologinya hampir sama dengan Trichuris trichura yang menginfeksi manusia dan primata lain, namun belum ada bukti kongkret yang menyatakan bahwa kedua parasit tersebut dapat saling bertukar induk semang seperti halnya cacing Ascaris sp pada babi dan manusia (Soulsby, 1982).

Siklus hidup cacing Trichuris sp, di mulai dari keluarnya telur dari tubuh bersama tinja dan berkembang menjadi telur infektif dalam waktu beberapa minggu. Telur yang sudah berembrio dapat tahan beberapa bulan apabila berada di tempat yang lembab. Infeksi biasanya terjadi secara peroral (tertelan lewat pakan dan atau air minum). Apabila tertelan, telur-telur tersebut pada sekum akan menetas dan dalam waktu sekitar empat minggu telah menjadi cacing dewasa (Soulsby, 1982).

Epidemiologi Cacing pada Ternak Babi

Studi tentang epidemiologi cacing pada ternak babi bertujuan untuk menyelidiki fluktuasi jumlah telur dalam feses. Jumlah cacing nematoda selain dipengaruhi oleh iklim juga dipengaruhi oleh cara pemeliharaan. Situasi lingkungan dan pengairan tempat perkandangan perlu diperbaiki dengan baik agar dapat dihindari daerah perkandangan yang lembab dan basah atau banyak kubangan tidak sehat yang memungkinkan sebagai tempat hidupnya induk semang antara lain, khususnya siput. Kesehatan lingkungan perkandangan biasanya dapat dipelihara dengan baik. Kebersihan kandang harus terjaga dan dihindari adanya pakan yang masih tersisa di malam hari. Sejauh mungkin diupayakan agar seluruh pakan yang disediakan habis termakan dan tidak banyak yang jatuh berceceran di lantai atau menumpuk di sekitar kandang.

Faktor suhu dan kelembaban sangat besar pengaruhnya terhadap kelangsungan hidu cacing stasium bebas di alam. Suhu optimum baggi kehidupan tiap parasit berbeda-beda tergantung dari spesiesnya. Kisaran suhu yang diperlukan oleh Nematoda stadium bebas di alam adalah antara 180-380C. Selain suhu faktor lain yang berpengaruh adalah kelembaban. Kelembaban yang tinggi sangat membantu dalam menghancurkan feses yang diduga mengandung telur cacing yang dapat meningkatkan stadium infektif dari cacing.

Kerugian Akibat Infestasi Parasit Cacing

Adanya infestasi parasit cacing yang patogen di dalam tubuh ternak tidak selalu mengakibatkan parasitisme yang sifatnya klinis. Parasitisme cacing baru akan memperlihatkan gejala klinis bila keseimbangan hubungan terganggu, yang mungkin disebabkan oleh kepekaan hospes yang menurun dan atau oleh peningkatan jumlah cacing yang patogen di dalam tubuh ternak. Kerusakan jaringan oleh parasit yang virulen dapat bersifat langsung maupun tidak langsung. Perubahan yang ditimbulkan oleh parasit cacing dapat berupa (1) kerusakan sel dan jaringan, (2) perubahan fungsi faal dari hospes, (3) penurunan daya tahan terhadap agen penyakit lain, (4) masuknya agen penyakit sekunder setelah terjadinya kerusakan mekanik lain dan (5) parasit mampu menyebarkan mikroorganisme patogen.

Jumlah TTGF dapat dipakai sebagai penduga barat atau ringannya derajat infestasi. Infestasi ringan memiliki jumlah TTGF 50-500, infestasi sedang memiliki TTGF 500-2000 dan infestasi berat memiliki jumlah TTGF lebih dari 2000 (Taazona dalam Kusumamihardja, 1992), derajat keparahan infestasi tergantung jumlah cacing yang menginfestasi. Penurunan berat badan akan terjadi pada infestasi 300 ekor dewasa atau setara dengan 1800 TFGF (Kusumamihardja, 1992).

Infestasi parasit cacing dapat menyebabkan penurunan bobot badan dan gastritis. Penurunan berat badan dapat terjadi akibat anoreksia, peningkatan asam lambung, gastrin dan kolesistokinin yang menyebabkan pengosongan lambung secara cepat sehingga penyerapan makanan kurang efektif. Cacing merampas sari-sari makanan yang diperlukan bagi hospes, menghisap darah atau cairan tubuh dan makan jaringan tubuh. Gejala-gejala yang timbul pada hewan yang terinfestasi cacing antara lain badan lemah, nafsu makan kurang, bulu rontok, kulit pucat dan penurunan produksi susu. Jika infestasi sudah lanjut diikuti anemia, diare dan badannya menjadi kurus yang akhirnya bisa menyebabkan kematian (Subronto dan Ida Tjahajati, 2001).

Pengendalian Penyakit Cacingan pada Babi

Pengendalian penyakit cacing memerlukan penanganan yang terncana secara baik dengan memperlihatkan faktor pengobatan dan tatalaksana pemeliharaan ternak yang memadai. Peternak seringkali mengabaikan managemen peternakan yang baik, apabila dikaji secara seksama akan terlihat betapa besar kerugian yang dapat ditimbulkan oleh infrksi cacing.

Obat yang diberikan dan cara pemberiannya harus sesuai dengan petunjuk dokter hewan agar lebih efektif dan efisien. Pemberantasan penyakit cacing pada babi tidak cukup hanya mengandalkan ilmu pengobatan saja, tetapi harus memperhitungkan pula faktor ekonomi, penataan lingkungan, kebersihan kandang, daur hidup cacing serta tidak bisa hanya diberikan satu kali saja. Pemberian obat medik harus diulang – ulang dan disesuaikan dengan daur hidup cacing.

Potensi Limbah Buah Pepaya

Penyakit cacing pada ternak babi selain dapat diobati menggunakan obat – obatan medik, dapat juga diobati dengan menggunakan obat alternatif yaitu dengan pemberian tepung kulit buah pepaya. Tepung kulit buah pepaya mengandung zat atau enzim papain yang dapat berfungsi sebagai obat cacing atau anthelmentik. Enzim papain termasuk enzim protease, yaitu enzim yang menghidrolisis ikatan peptida pada protein, untuk melakukan aktivitasnya protease membutuhkan air sehingga dikelompokkan ke dalam kelas hidrolase. Protease berperan dalam sejumlah reaksi biokimia seluler, selain diperlukan untuk degradasi senyawa protein nutrien, protease terlibat dalam sejumlah mekanisme patogenisitas, sejumlah pasca translasi protein, dan mekanisme akspresi protein ekstraseluler. Pelepasan protease oleh cacing nematoda parasitik mempunyai peranan penting pada proses reaksi biologik seperti metabolisme protein. aktivitas protease mempunyai korelasi signifikan pada saat cacing parasitik menjalani penetrasi ke jaringan.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN

Bahan dan Alat Penelitian

Ternak yang digunakan adalah 18 ekor ternak babi hasil persilangan Landrace dengan Yorkshire. Kisaran bobot badan rata-rata ternak babi adalah 60,56 kg dengan koefisien variasi 1,42%. Babi ditempatkan secara acak dalam kondisi kandang individu dengan kondisi lingkungan yang sama dan jenis kelamin babi yaitu jantan kastrasi. Ransum yang diberikan pada ternak percobaan dalam penelitian berupa tepung. Bahan ransum didapat dari PT. Karya Mulya, Leles Kabupaten Garut. Bahan tersebut dikeringkan kemudian digiling hingga menjadi tepung.

Alat-alat yang digunakan untuk mengindentifikasi jumlah telur dan larva cacing adalah : Mikroskop, alat untuk mengidentifikasi dan menghitung telur cacing (McMaster), cover glass, rak tabung, Erlenmeyer, gelas ukur, batang pengaduk, pipet pasteur, corong glass, timbangan, kain kassa, kapas, tabung reaksi, tabung sentrifugasi, sentrifugasi, cawan petri.

Kandang yang digunakan untuk penelitian adalah kandang individu yang berukuran 2 x 0,6 x 1,2 m dengan lantai semen dan beratap seng. Setiap unit kandang dilengkapi dengan tempat makan yang terbuat dari semen dan tempat minum otomatis berupa pentil yang terbuat dari besi tahan karat yang dihubungkan dengan tempat penampung air. Jumlah kandang yang diperlukan sebanyak 18 unit.

Ransum Penelitian

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah ransum basal yang terdiri dari tepung jagung, tepung ikan, bungkil kelapa, tepung tulang, dedak padi dan tepung kulit pepaya. Kandungan nutrisi ransum basal dan tepung limbah kulit pepaya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 1. Kandungan nutrisi ransum basal dan tepung kulit buah pepaya.
Kandungan Gizi Ransum Penelitian

(*)
Tepung Kulit Buah Pepaya (**)
EM (kkal) 3244,8 2419
PK (%) 14 25,85
SK (%) 7,5 2,39
Ca (%) 0,32 18,52
P (%) 0,66 0,88

Sumber : (*) NRC, 1998

(**) Permana, 2007

Tabel 2. Kandungan nutrisi ransum penelitian
Kandungan Nutrisi Ransum Penelitian
R0 R1 R2
EM (kkal) 3244,8 3203,51 3162,22
PK (%) 14 14,5925 15,185
SK (%) 7,5 8,051 8,062
Ca (%) 0,32 0,4235 0,527
P (%) 0,66 0,671 0,682

Keterangan :

R0 = 100% ransum basal

R1 = 95% ransum basal + 5% tepung kulit buah pepaya

R2 = 90% ransum basal + 10% tepung kulit buah pepaya

Metode Penelitian

Tahap Penelitian

1. Persiapan kandang, pengadaan ternak, pengadaan ransum, dan peralatan. Setiap ekor babi dimasukkan ke kandang individu.
2. Adaptasi babi terhadap ransum, kandang, perlakuan, dan lingkungan dilakukan selama satu minggu.
3. Kandang dibersihkan dua kali sehari yaitu pada pukul 06.00 dan 12.00 WIB. Kandang dibersihkan dari semua kotoran yang dibuang ke saluran pembuangan, setelah itu babi dimandikan agar bersih dan merasa nyaman.
4. Pemberian ransum sebanyak 1 kg/ekor dan dilakukan tiga kali sehari, yaitu pukul 06.00, 12.00 dan 16.00 WIB sehingga jumlah ransum per hari adalah 3 kg/ekor.
5. Pemberian tepung kulit buah pepaya dilakukan dengan cara mencampurnya dalam 1 kg ransum pertama dalam 3 kali pemberian (total 3 kg/hari), diberikan pada babi sampai habis dikonsumsi.
1. Pengambilan sampel feses yang akan diteliti dilakukan pada pagi hari setelah pembersihan kandang. Pengambilan dilakukan setelah ternak babi diberi perlakuan RVM, R1, R2 dan R3, selama 2 minggu.



Pengambilan Sampel Feses di Lapangan

Pengambilan sampel dilakukan terhadap 18 sampel feses yang diambil sebanyak 1 kali, dari 18 ekor babi. Feses dimasukkan ke dalam kantong plastik dan diberi label kemudian dimasukkan ke dalam termos es yang berisi icebrite dan dibawa menuju laboratorium BPPHK Cikole – Lembang, kemudian dilakukan pemeriksaan baik secara kualitatif maupun kuantitatif.

Pemeriksaan kualitatif dimaksudkan untuk mengidentifikasi jenis cacing yang menginfeksi babi berdasarkan bentuk dan ukuran telur dari larvanya, sedangkan pemeriksaan kuantitatif dimaksudkan mengetahui banyaknya telur cacing setiap gram feses (TTGF) yang menggambarkan berat ringannya derajat infeksi. Hasil pengamatan dijelaskan secara deskriptif yaitu menjelaskan tentang jumlah telur dan jenis cacing yang menginfestasi babi. Metode kuantitatif yang digunakan adalah metode McMaster, sedangkan metode kualitatif dilakukan dengan melihat bentuk dan ukurannya, kemudian dibandingkan dengan bentuk dari standar yang sudah dikenal (Soulsby, 1982).

Penghitungan Telur Cacing (Metode Mc Master)

Penyiapan larutan pengapung : Larutan pengapung dibuat dari campuran garam (NaCl) 400 gr dan gula (C6H12O6) 500 gr yang ditambahkan air dua liter kemudian diaduk sampai larut. Penghitungan telur cacing : dilakukan dengan metode McMaster. Sebanyak dua gram feses dilarutkan dalam 60 ml larutan pengapung yang kemudian dihomogenkan tiga kali dengan cara menuang dari satu gelas ke gelas lain lalu dimasukan dalam kamar hitung McMaster dengan Pipet Pasteur. Dilakukan pemeriksaan mikroskopis dengan pembesaran 10 x 10. Untuk mengetahui jumlah Total Telur tiap Gram Feses (TTGF) dihitung dengan menggunakan metode Mcmaster dengan rumus sebagai berikut:

TTGF = (n/bf) X (Vtot/Vhit)

Vtot = Volume dari 2 gr feses ditambah larutan pengapung

Vhit = Volume Kamar Hitung ( 2 x 0,5)

Bf = Berat feses (2 gr)

N = Jumlah Telur yang ditemukan

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Pada pelaksanaan penelitian terdapat 3 macam perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak 6 kali.

Identifikasi Jenis Cacing Berdasarkan Larva

Untuk memeriksa Larva dilakukan dengan 3 tahap yaitu :

1. 1. Pembuatan Kultur Feses

Feses yang sudah diperiksa dan positif mengandung telur dicampur dengan kompos steril (Vermikulate) dengan perbandingan yang sama. Kondisinya dibuat menjadi lembab dengan menambah sedikit air. Campuran feses dengan kompos steril diletakan dalam inkubator selama 6-7 hari dengan kisaran suhu 25-27 0C atau pada suhu ruangan sehingga semua larva mencapai taraf infektif.

1. 2. Pengumpulan Larva dari Kultur

Setelah diinkubasi, tutup petridish kultur dibuka dan masukan air dari petridish kedalam tabung dengan pipet. Sentrifuse selama lima menit dengan kecepatan 5.000 rpm.

1. 3. Identifikasi Larva

Larutan larva yang telah terkumpul dalam tabung reaksi diambil dengan pipet pasteur, satu tetes larutan larva dipindahkan pada gelas objek lalu tutup dengan cover glass kemudian diperiksa di bawah mikroskop dengan pembesaran 10 x 10.



HASIL DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya Terhadap Jumlah Telur Cacing.

Berdasarkan hasil penelitian pada ternak babi yang dipelihara di Koperasi Peternak Babi Indonesia (KPBI), Desa Kertawangi, Kecamatan Cisarua, Lembang yang di analisis di BPPHK Cikole, Lembang telah dilakukan pada tanggal 1 mei sampai dengan tanggal 20 juni 2009. Penelitian ini menghasilkan jumlah telur dari tiap gram feses yang terdapat pada ternak babi yang diberi pakan tepung kulit buah pepaya dengan hasil yang bervariasi.

Jumlah Telur Cacing Strongylus sp.

Data hasil penelitian pengaruh pemberian tepung kulit papaya terhadap jumlah telur cacing Strongylus sp, Ascaris sp dan Trichuris suis tercantum pada Tabel 3.

Tabel 3. Perhitungan Jumlah Telur Cacing Strongylus sp, Ascaris sp dan Trichuris suis
Jenis Cacing Perlakuan
R0 R1 R2
1. Strongylus sp 243,33 a 0 b 0 b
2. Ascaris sp 5.786,16 a 4.628,83 b 1.719,33 b
3. Trichuris suis 569,5 a 464,16 a 285,83 b

Ket.Huruf yang berbeda dalam kolom menunjukkan pengaruh perlakuan berbeda nyata.

Berdasarkan data pada Tabel 3, dapat diketahui bahwa rata-rata telur cacing Strongylus sp terendah (0) dihasilkan pada perlakuan pemberian tepung kulit pepaya 5% dan 10% dibandingkan dengan rata-rata telur yang dihasilkan pada perlakuan tanpa adanya pemberian tepung kulit pepaya (243,33). Penggunaan limbah kulit buah pepaya ternyata dapat mengurangi jumlah telur cacing Strongylus sp pada babi (p<0,05). Limbah kulit buah pepaya yang mengandung papain bekerja secara vermifuga melemaskan cacing dengan cara merusak protein tubuh cacing. Papain merupakan enzim protease sulfhidril dan akan mendegradasi protein-protein jaringan konektif dan myofibril. Cacing termasuk parasit yang tubuhnya terdiri dari molekul – molekul protein yang tidak terlindungi oleh selaput sehingga bila papain masuk ke saluran usus yang banyak mengandung cacing, cacing tersebut akan terurai atau menghindar dengan keluar dari lubang anus. Berdasarkan data pada Tabel 3, dapat diketahui bahwa rata-rata telur cacing Ascaris sp terendah (1.719,33) dihasilkan pada perlakuan pemberian tepung kulit buah pepaya 10%. Pada perlakuan dengan pemberian tepung kulit pepaya 5% (4.628,83) dan jumlah terbesar telur cacing Ascaris sp pada perlakuan tanpa pemberian tepung kulit buah pepaya (5.786,16). Penggunaan limbah kulit buah pepaya ternyata dapat mengurangi jumlah telur cacing Ascaris. sp pada babi. Cacing Ascaris sp merupakan jenis cacing gilig penyebab ascariasis pada ternak babi, teutama babi muda di seluruh dunia (Soulsby, 1982). Kejadian ascariasis sangat tinggi pada babi-babi di daerah tropis dan sub tropis (Chan, 1997 dalam Tsuji, et al (2004). Cacing ini berparasit pada usus halus (Soulsby, 1982). Infeksi dapat terjadi melalui pakan, air minum, puting susu yang tercemar, melalui kolostrum dan uterus (Levine, 1990). Satu ekor cacing betina dewasa rata-rata bertelur 200.000 butir per hari ; dan selama hidupnya diduga dapat bertelur 23 milyar butir (Dunn, 1978). Berdasarkan data pada Tabel 3, dapat diketahui bahwa rata-rata telur cacing Trichuris suis terendah (285,83) dihasilkan pada perlakuan pemberian tepung kulit pepaya 10%, 5% (464,16) dan rata – rata terbesar terdapat pada perlakuan tanpa adanya penambahan tepung kulit pepaya (569,5). Pengaruh tepung kulit buah papaya perlakuan memberikan pengaruh yang berbeda nyata (p<0,05), papain pada tepung kulit buah pepaya dapat menurun akibat banyaknya kematian telur cacing karena pengaruh papain dari tepung kulit pepaya. Pengaruh Pemberian Tepung Kulit Buah Pepaya Terhadap Jumlah Larva Cacing. Berdasarkan data penelitian jumlah larva dari tiap gram feses yang terdapat pada ternak babi yang diberi pakan tepung kulit buah pepaya tidak ditemukan adanya jumlah larva cacing Strongylus sp, Ascaris sp, dan Trichuris suis dalam penelitian disebabkan adanya sanitasi ruangan dan alat – alat laboratorium dengan menggunakan alkohol yang dapat membunuh telur cacing dalam waktu 3 jam. Pemberian tepung kulit buah pepaya juga dapat menurunkan fertilitas telur cacing karena tepung kulit buah pepaya mengandung enzim papain yang secara vemifuga dapat merusak protein tubuh cacing sehingga cacing yang telah menetas tidak dapat bertahan hidup. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa pemberian tepung kulit buah pepaya pada dosis 10% dapat menurunkan jumlah telur Strongylus sp, Ascaris sp dan Trichuris suis, sedangkan tidak ditemukan larva cacing Strongylus sp, Ascaris sp, dan Trichuris suis disebabkan oleh penurunan fertilitas telur cacing yang dipengaruhi oleh papain serta prosedur sanitasi alat – alat dan ruangan laboratorium. Saran Pemberian tepung kulit buah pepaya pada dosis 10% sudah mendapatkan hasil yang baik dan diharapkan tepung kulit buah pepaya dijadikan bahan pelengkap ransum karena dapat mengurangi penyakit cacingan pada ternak babi. DAFTAR PUSTAKA Anonimous. 2004a. Trichuris spp. http://evm.mscs.edu /courses/mic569 /docs/parasite/TRICH.HTML Atiya, Ridayanti, dan Nuraini. 2001. Pemeriksaan Efek Anthelmentik Papain Kasar Terhadap Infeksi Buatan Cacing Haemonchus contortus. Rudolphi Pada Domba. JFF. MIPA. Unair. Benbrook, E. A., and M. V. Sloss. 1961. Clinical Parasitology. 3 ed, Iowa State Univ. Press. Ames, Iowa, 3-17. Dunn, A.M. 1978. Veterinary Helminthology. 2nd Ed. Williams Heinemann Medical Books LTD, London. Goodwin, D. H. 1974. Beef Management and Production. London: Hutchinson. Kusumamihardja, S. 1992. Parasit dan Parasitosis pada Hewan Ternak dan Hewan Piara. Pusat Antar Universitas Bioteknologi. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Lapage, G. 1956. Veterinary Helminthology and Enthomology. 4th Ed. Bailliere Tindall, London. Lawson, J. L. dan M. A. Gemmel. 1983. Transmission in Hydatidosis and cysticercosis. Advance’s in Parasitology 2a:279. Levine, ND. 1982. Textbook Of Veterinary Parasitology. Burgess Publishing Company. USA. Levine, ND. 1990. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Diterjemahkan oleh Prof. Dr. Gatut Ashadi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. NRC. 1998. Nutrient Requirments of Swine. Nutrient Requirments of Domestic Animal, Ninth Revised Edition National Academy Press. Washingthon DC. Seddon, H.R. 1967. Helminth Infestation 2nd Ed. Commonwealth of Australia Department of Health, Sidney. Siagian H. Pollung. 1999. Manajemen Ternak Babi, Diktat Kuliah Jurusan Ilmu Produksi Ternak. Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor. Sihombing. 1997. Ilmu Ternak Babi. Cetakan Pertama. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Smith, J.D. 1968. Introduction to Animal Parasitology. The English Books University Press, LH. London. Subronto, dan I. Tjahajati. 2001. Ilmu Penyakit Ternak II. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. Soulsby, E.J.L. 1982. Helminths, Antropods and Protozoa of Domesticated Animals. Inglish Laguage Book Service Bailiere Tindall. 7th Ed. Pp.231-257. Tarmudji, Deddy Djauhari Siswansyah dan Gatot Adiwinata. 1988. Parasit-parasit Cacing Gastrointestinal pada sapi-sapi di Kabupaten Tapin dan Tabalong Kalimantan Selatan, di dalam Penyakit Hewan. Balai Penelitian Veteriner, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, Jakarta. Tsuji, N., K. Suzuki., H.K. Aoki., T. Isobe., T. Arakawa dan Y. Matsumoto. 2003. Mice Intranasal Immunized with a recombinant 16 kilodalton Antigen from Roundworm Ascaris Parasites are Protected Againts Larva Migration of Ascaris suum. Infection and Immunity Vol. 71, pp : 5314. Wiryosuhanto, S. D. dan Jacoeb, T. N. 1994. Prospek Budidaya Ternak Sapi. Kanisius. Yogyakarta Category Categories: Penyakit Babi, Ransum Babi | Comments No Comments Iodin (I) Atau Yodium (Miftahul Falah) Calendar March 27, 2010 | Posted by saulandsinaga Iodin atau yodim, adalah unsur paling berat diantara unsur esensial bagi semua spesies ternak. Kebanyakan bahan iodin dalam tubuh terdapat dalam kelenjar gondok (thyroid) yang merupakan bagian integral dalam hormon thyroid , yakni thyroxin dan triiodothyronine yang keduanya berperan penting dam metabolisme. Salah faktor yang mempengaruhi keluarnya hormon thyroid oleh kelenjar thyroid adalah ketersediaan iodin. Bila iodin tidak cukup tersedia, kelemjar berusaha mengimbangi kekurangan tersebut dengan meningkatkan aktifitas sekresi dan hal ini mengakibatkan kelenjar membesar, kondisi ini dikenal dengan penyakit gondok (goiter, atau goitre) sederhana atau gondok endemik. Penyerapan, Metabolisme dan Ekskresi Penyrapan iodin sangat efisien yakni hampir 100%, penyerapan hampir sepanjang system pencernaan, namun yang tebanyak adalah dalam usus halus. Setelah iodin menempuh dua jalan utama dalam tubuh, sekitar 30% diangkat melalui kelenjar thyroid dan digunakan untuk sintesis hormon thyroid, dan terbanyak dari sisa-sisa selebihnya diekskresikan melalui urine, nsamun sebagian kecil dikeluarkan melalui feses dan keringat. Fungsi Fungsi tunggal iodin adalah pembuat hormon pengandung iodin, yakni thyroxin dan triiodothyronine yang disekresiakan kelenjar thyroid yang mengatur laju oksidasi dalam sel, dan demikian berpengaruh terhadap pertumbuhan, fungsi jaringan otot dan syaraf, aktifitas peredaran darah dan metabolisme zat-zatmakanan. Bila lebih banyak hormon thyroid dalam darah, laju metabolisme yang mengakibatkan produksi susu meningkat, bila iodin tidak sesuai dengan apa yang dibutuhkan, persediaan tubuh dimobilisasi sehingga bobot tubuh turun. Bila defisiensi iodin berkepanjangan, emasiasi dan problem kesehatan lainnya malahan bisa terjadi. Kadang-kadang iodin juga digunakan sebagai bahan antibakterial untuk infeksi ringan. Tubuh ternak dewasa mengandung kurang dari 0,00004% iodin. Simtom defiensi dan toksisitas Defiensi.- Bila iodin kurang diperoleh, kelnjar thyroid tidak dapatkontini menghasilakn hormon thyoid. Oleh pengaturan hormon TSH dari kelenjar pituitari.kelenjar thyroid akan membesar sebagai respon terhadap peningkatan kebutuhan. Definisi iodin umumnya di dunia ini dan terjadi bila bahan-bahan makanan yang berasal dari lahan yang miskin dari iodin, sehingga tidak memenuhi kecukupan untuk tubuh Pengobatan defisiensi iodin mungkin tidak berhasil jika thyroid dan jaringan lain tidak terlalu parah menderita. Pengobatan jauh lebih mudah dan lebih baik, sebab iodin dalam bentuk anorganik maupun organik dapat disuplentasi dalam ransum. Menggunakan garam beriodin sebai bagian dari ransum akan lebih ekonomis bila bahan ransun beriodin rendah. Level 0,002-0,004 mg iodin per kilogram bobot tubuh sudah cukup untuk mencegah munculnya gioter. Toksisitas.- terlalu banyak iodin diperoleh dan jangka lama dapat mengganggu pemanfaatan iodin oleh thyroid dan mengkibatkan toksisitas. Perbedaan antara simtom mencolok anytara spesies ternak terhadap toleransi keracunan iodin yang tinggi Sumber iodin bagi ternak Sumber pakan kaya, tepung alfalfa, molases gula tebu, ampas bir, hasil penyulingan minuman, tepung ikan dan hasil ikutan marin dan tumbuhan yang kay akan iodin, tepung daging serta tulang, gandum dan hasil ikutannya, tepung hasil ikutan unggas, kedelai, jelai dan wei. Category Categories: Ransum Babi | Comments No Comments Penyakit Vulval discharge tanda, pencegahan dan pengobatan pada babi (Aditya Priyadi) Calendar March 22, 2010 | Posted by saulandsinaga Agalactia Agalactia ialah kegagalan dalam memproduksi air susu. Jenis penyakit ini khusus diderita oleh babi-babi induk yang habis beranak. Penyakit ini Nampak jelas 24 jam sehabis induk itu melahirkan. Babi-babi yang menderita agalactia ini akhirnya tidak mampu mensuplai air susu kepada anak-anaknya, karena produksi air susu tak bisa keluar lagi, sebab sekresi oxytocin tidak mencukupi. Kekurangan oxytocin ini bisa diatasi dengan memberikan injeksi oxytocin dengan dosis 5 – 10 I.U. secara intramuskular. Penyebab Penyebab penyakit ini adalah tidak selalu sama, atau dengan kata lain ada berbagai macam sebab : a. Karena toxic (racun) yang terdapat di dalam usus akibat konstipasi yang diderita induk yang bersangkutan, yang kemudia diikuti hilangnya nafsu makan dan kandang-kadang panas yang terlampau tinggi. Untuk mengatasi konstipasi ini, babi bisa diberikan obat peluncuran atau urus-urus dengan garam inggris. b. Akibat peradangan pada usus. Peristiwa ini mengakibatkan babi induk merasa sakit, sehingga nafsu makan berkurang, temperatur tubuh tinggi 106º F, dan dari vulva keluar cairan berwarna kuning atau kemerahan. Ambing menjadi bengkak, keras, berwarna merah, panas dan sakit. Penderita ini bisa diobati dengan penstrep. Karena adanya peradangan uterus (metritis) dan ambing (mastitis), dan mengakibatkan kegagalan kegagalan keluarnya air susu (agalactia). Maka penyakit ini juga disebut MMA kompleks. Gejala umum : - Gejala pertama biasanya Nampak 3 hari sesudah melakukan, walaupun sering dapat terlihat sebelum anak-anaknya disapih. - Temperatur 103 – 106º F. - Babi tidak mau makan, air susu sedikit atau gagal sama sekali. - Dari vagina keluar nanah berwarna keputihan atau kekuning-kuningan. - Anak babi mencret. - Kadang-kadang tidak diketahui sampai anak babi mati kelaparan. Brucellosis (Keguguran menular) Pada babi, penyakit ini bisa kronis atau subkronis. Yang diserang alat reproduksi (uterus, ambing, testes). Penyebab Gejala Gejala penyakit ini sulit dilihat, di mana tidak semua penderita itu selalu mengalami abortus dan sebaliknya yang bukan brucellosis pun bisa abortus. Akan tetapi secara umum bisa dilihat tanda-tanda. - Keguguran, anak mati di dalam kandungan atau sangat lemah. - Pada jantan atau induk bisa steril yang sifatnya bisa sementara atau permanen, kadang-kadang lumpuh pada kaki belakang, pada babi jantan ada gejala radang testes. Pencegahan dan pengobatan - Sanitasi (pejagaan kesehatan), dan belilah bibit yang bebas dari penyakit brucellosis. - Vaksinasi. - Obat belum ditemukan. Porcine reproductive and respiratory syndrome# (Arteriviridae) Babi stillborn piglets, mummified fetuses, premature farrowings, and weak-born pigs; Anorexia and agalactia are evident in lactating sows; Suckling piglets develop a characteristic thumping respiratory pattern DAFTAR PUSTAKA www.susukolostrum.com/masalah-kesehatan…/alat-kelamin-luar.html – Cached http://budidayaternak.comxa.com/single.php?conten=Halaman-Kategori-Budidaya&idbudidaya=3# http://www.dvssel.gov.my/epis/penyakit_dan_tanda2/tandatanda_klinikal.htm Category Categories: Ransum Babi | Comments No Comments Penyakit Congenital tremor (myoclonia congenita) tanda, pencegahan dan pengobatan pada babi (MAURIDZ FLORENT FERNANDEZ) Calendar March 21, 2010 | Posted by saulandsinaga A. KALSIUM Kalsium terdapat pada tubuh dalam bentuk garam-garam kalsium, senyawa ion maupun ikatan protein-kalsium. Sembilan puluh sembilan persen kalsium terdapat pada tulang dan gigi dalam bentuk kristal yang berfungsi memberikan kekuatan pada struktur tulang dan gigi. Satu persennya terdapat pada sirkulasi darah dan empat puluh persen dari satu persen kalsium tersebut terikat dengan protein terutama albumin.kalsium dalam bentuk senyawa ion berfungsi untuk menjaga integritas membrane sel, elektrofisiologi pada eksitabilitas sel, dan berperan dalam kontraksi otot. Konsentrasi kalsium dalam darah dipengaruhi hormon parathyroid (PTH) dan thyrocalcitonin. PTH disekresikan oleh kelenjar paratiroid dan berfungsi meningkatkan kadar serum kalsium. Thyrocalcitonin meningkatkan deposisi kalsium pada tulang ketika terjadi peningkatan kadar kalsium pada darah. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar tiroid, berfungsi pula untuk mengurangi kadar serum kaslium dan fosfat. Kalsium berfungsi utama untuk membangun tulang dan gigi, fungsi yang lain yaitu : 1. Menstabilkan membran sel dan memblokade transport natrium menuju sel. Maka penurunan kadar kalsium akan meningkatkan eksitabilitas sel dan sebaliknya peningkatan kadar kalsium akan menurunkan eksitabilitas. 2. Pembekuan darah, bila kalsium tidak tersedia, missal terikat dengan sitrat atau oksalat, maka pembekuan darah tidak terjadi. 3. Produksi air susu. 4. Sekresi beberapa hormon dan factor pelepas hormon. Vitamin D diproduksi oleh kulit dengan bantuan sinar ultra violet (UV). Vitamin D diubah oleh hati menjadi 25- dihydroxycholecalciferol dan lebih lanjut akan dimetabolisme oleh ginjal dengan bantuan PTH untuk membentuk 1,25- dihydroxycholecalciferol aktif yang sangat penting pada proses penyerapan kalsium dari saluran pencernaan. (Cunningham, James G, 2002) Kalsium plasma terdapat dalam 3 bentuk : 1. bentuk senyawa kompleks dengan asam organik ex. Sitrat, phosphat 2. bentuk terikat protein ex. Albumin, globulin 3. bentuk terionisasi/ bentuk tak terikat (Ca2+) (Murray, R. K., et all., 2003) Garam kalsium lebih larut dalam kondisi asam sehingga penyerapan berlangsung di bagian awal usus halus. Penyerapan tergantung dari banyaknya yang dimakan, kebutuhan dan tipe makanan. Faktor penentu utama bnyaknya kalsium yang diserap adalah kebutuhan tubuh. Kalsium yang diserap melalui dinding usus halus, yang terbanyak disimpan di tulang terutama di spons tulang (trabekula) dan kelak akan dikeluarkan jika diperlukan. Namun kalsium tidak selalu dapat dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme, misal saat terjadi tetani/kejang. Mobilisasi kalsium termudah adalah dari tulang rahang dan biasanya pada diagnosa defisiensi kalsium tulang rahang ini diabaikan. Deposisi dan mobilisasi kalsium ini dikontrol oleh hormon. Kalsium yang diserap dan tidak diperlukan oleh tubuh, kebanyakan diekskresikan melalui urin, meskipun sebagian melalui tinja dan keringat (Sihombing, 2006). Hubungan Kalsium dengan Fosfat Fosfat merupakan anion yang keberadaannya dalam tubuh juga dipengaruhi oleh PTH. Normalnya total konsentrasi kalsium dan fosfat dalam tubuh selalu konstan. Artinya, jika konsentrasi kalsium meningkat maka fosfat akan turun begitu pula sebaliknya jika konsentrasi kalsium menurun maka fosfat akan naik. Kalsium dan fosfat dapat bergabung membentuk kalsium fosfat (CaHPO4). Jika senyawa ini terbentuk terlalu banyak dapat mengakibatkan hipokalsemia. Hubungan kalsium dengan bahan lain 1. Magnesium yang banyak dimakan akan menurunkan mpenyerapan magnesium, besi, iodine, mangan, zink dan tembaga, terutama jika salah satu unsure yang dimakan di ambang batas kurang. 2. Kalsium yang berlebihan menurunkan penyerapan dan pemanfaatan zink dan menyebabkan parakeratosis akibat defisiensi zink. 3. Magnesium yang berlebih menurunkan penyerapan kalsium, mengusir kalsium dari tulang sehingga mengakibatkan ekskresi kalsium. (Sihombing, 2006). B. HIPOCALCEMIA Definisi Hipokalsemia (kadar kalsium darah yang rendah) adalah suatu keadaan dimana konsentrasi kalsium di dalam darah kurang dari 8,8 mg/dl (Bullock and Philbrock, 1984). Kadar normal kalsium dalam darah pada babi betina adalah 11,1 dan pada jantan 9,65 (Mitruka, Brij M., 1981). Dahulu gangguan ini diduga disebabkan oleh adanya bendungan pada system syaraf, alergi, penyakit neuromuskuler, penyakit keturunan, penyakit ketuaan, penyakit infeksi dan penyakit defisiensi makanan yang menyangkut kalsium, fosfor, vitamin A, vitamin D dan protein (Subronto, 2001) Faktor Predisposisi Konsentrasi kalsium darah bisa menurun sebagai akibat dari berbagai masalah. Hipokalsemia paling sering terjadi pada penyakit yang menyebabkan hilangnya kalsium dalam jangka lama melalui air kemih atau kegagalan untuk memindahkan kalsium dari tulang (Bullock and Philbrock, 1984). Namun dari hasil temuan hypocalcemia disebabkan karena : penurunan kadar kalsium dalam darah di bawah normal, defisiensi hormon paratiroid, efek hormon tirokalsitonin, gangguan absorbsi kalsium, gangguan produksi vitamin D, hormon estrogen dan steroid kelenjar adrenal yang menurunkan absorbsi kalsium (Subronto, 2001) Sebagian besar kalsium dalam darah dibawa oleh protein albumin, karena itu jika terlalu sedikit albumin dalam darah akan menyebabkan rendahnya konsentrasi kalsium dalam darah. Penyebab Keterangan Kadar hormon paratiroid rendah Biasanya terjadi setelah kerusakan kelanjar paratiroid atau karena kelenjar paratiroid secara tidak sengaja terangkat pada pembedahan untuk mengangkat tiroid Kekurangan kelenjar paratiroid bawaan Penyakit keturunan yg jarang atau merupakan bagian dari sindroma DiGeorge Pseudohipoparatiroidisme Penyakit keturunan yg jarang; kadar hormon paratiroid normal tetapi respon tulang & ginjal terhadap hormon menurun Kekurangan vitamin D Biasanya disebabkan oleh asupan yg kurang, kurang terpapar sinar matahari (pengaktivan vitamin D terjadi jika kulit terpapar sinar matahari), penyakit hati, penyakit saluran pencernaan yg menghalangi penyerapan vitamin D, pemakaian barbiturat & fenitoin, yg mengurangi efektivitas vitamin D Kerusakan ginjal Mempengaruhi pengaktivan vitamin D di ginjal Kadar magnesium yg rendah Menyebabkan menurunnya kadar hormon paratiroid Asupan yg kurang atau malabsorbsi Terjadi dengan atau tanpa kekurangan vitamin D Pankreatitis Terjadi jika kelebihan asam lemak dalam darah karena cedera pada pankreas, bergabung dengan kalsium Kadar albumin yg rendah Mengurangi jumlah kalsium yg terikat dengan albumin tetapi biasanya tidak menyebabkan gejala, karena jumlah kalsium bebas tetap normal Ketika konsentrasi kalsium menurun, blocking effect kalsium terhadap natrium (sodium) juga akan menurun. Maka dari itu ketika kadar kalsium rendah akan meningkatkan eksitabilitas sel saraf dan menyebabkan spasmus otot. Bahkan akhirnya dapat menimbulkan konvulsi dan tetani. Hipokaslemia dapat dilihat seiring dengan penurunan aktivasi vitamin D, kadang-kadang berhubungan pula dengan penyakit gnjal maupun hati. Pancreatitis dapat menyebabkan penurunan serum kalsium akibat dari sekresi enzim pankreatik lipase yang akan mengikat asam lemak dan kalsium. Transfusi darah dapat pula menyebabkan hipokalsemia karena kalsium dapat terikan nitrat yang digunakan saat preparasi, halmtersebut menghilangkan kalsium terionisasi dalam darah. Hiperpospatemia, hipoalbuminia, penyakit pada kelenjar paratiroid, terapi obat seperti ACTH atau glucagon, pembedahan atau pengambilan kelenjar paratiroid, penyakit saluran pencernaan, neoplasia semuanya dapat dikaitkan dengan hipokalsemia. Sebagai akibat dari hipokalsemia antara lain ; osteoporosis, spasmus, tetani, peningkatan motilitas saluran gastro-intestinal, serta masalah jantung dan sirkulasi. Tetani otot merupakan hal yang paling umum terjadi dan berbahaya terutama jika mengakibatkan spasmus laryngeal (Bullock and Philbrock, 1984). Hipokalsemia pada Babi Milk fever (Parturient Hypocalcemia, Parturient Paresis) termasuk salah satu dari tiga metabolic disease yang sering terjadi (Wooldridge, W. R., 1960). Menurut George milk fever (tanpa susu dan tanpa demam) yang sering terjadi secara tiba-tiba setelah proses kelahiran dan menyebabkan hipokalsemia akut. Berikut ini urutan hewan yang sering mengalami hipokalsemia adalah : sapi, domba, kambing, babi dan anjing (Smith, M. A., 1967). Milk fever kadang terjadi pada babi dan dapat menyerang babi sehat. Kondisi yang terjadi pada babi sama dengan yang terjadi pada sapi, spesies yang lebih mendapat perhatian tentang penyakit ini (Hungerford, T. G., 1967). Penelitian pada masa awal penyakit ini mulai diteliti yang dilakukan oleh Dr. Dryerre dan Greig menunjukkan bahwa disfungsi kelenjar paratiroid merupakan factor utama. Akibatnya adalah penurunan kadar kalsium darah yang kadang berkorelasi dengan turunnya kadar fosfor. Para ahli percaya bahwa kadar magnesium juga turun tapi tana penurunannya biasa dikaitkan dengan hyperaestesia atau bahkan tetani yang merupkan pengaruh yang sangant komplikatif/ rumit. Maka dari itu dibedakan dengan pingsan yang disebabkan oleh hipokalsemia baik dengan atau tanpa hypophospatemia, sangat sedikit literature yang membahas hal ini terutama pada babi. Hipokalsemia atau milk fever pada babi berbeda dengan kejadian pada sapi dan domba. Namun penyebab dan pengobatan yang dilakukan biasanya sama (Hungerford, T. G., et all., 1967). Gejala Klinis Umumnya terjadi penurunan temperatur tubuh di bawah normal, beberapa kasus menunjukkan excitement yang normal atau meningkat. Jika tidak menunjukkan adanya excitement, temperatur tubuh tinggi maka indikasinya bukan hipokalsemia. Gejala lain adalah babi tidak mau makan, air susu yang dikeluarkan menurun atau tertunda (Hungerford, T. G., et all., 1967). Babi terserang ditandai dengan gejala farrowing selama beberapa jam. Akan tetapi pada beberapa kasus hewan telah farrowing 7 – 10 hari sebelumnya. Nafsu makan dan sekresi susu menurun drastis. Hewan tampak aktif pada awalnya tapi nantinya akan ditemukan terkulai lemas dikandang. Jika hewan dibangunkan dapat terjadi gerakan-gerakan inkoordinatif pada kaki-kakinya. Kaki-kaki kadang tidak bisa digerakkan atau diangkat sama sekali (Anthony and Lewis, 1961). Gejala hipokalsemia dapat terlihat mulai beberapa jam sampai pada puncak laktasi induk (Anthony,1961). Terengah- engah dan lesu adalah salah satu gejala awal. Tremor ringan, kejang, keram otot, ataxia diakibatkan peningkatan eksibilitas neuromuscular. Kemungkinan juga terjadi perubahan tingkah laku seperi agresif, mendengking, salviasi, hipersensitif terhadap stimuli dan disorentasi. Tremor hebat, tetani, dan koma dapat juga diikuti dengan kematian. Hipertermia juga ditemukan pada beberapa kasus. Cerebral odema terjadi pada beberapa kasus serangan. Tachicardi, hipertermia, polyuria, polidipsia, dan muntah sering terjadi. Dari kebanyakan kasus, induk dapat sehat kembali dan anak dapat tumbuh dengan baik (Mercks manual,2008). Walaupun Hipokalsemia seringkali terlihat setelah kelahiran, tapi gejala klinis juga mungkin terlihat sebelum kelahiran atau pada saat kelahiran. Hipokalsemia dengan konsentrasi kalsium serum diatas 7mg/dl tetapi dibawah batas normal dapat menyebabkan kontraksi myometrial yang tidak efektif dan proses kelahiran yang lambat. Nafas terengah-engah dapat menyebabkan alkalosis pernafasan. Konsentrasi ion kalsium berhubungan dengan konsentrasi protein, keadaan asam basa, dan ketidak seimbangan elektrolit lainya. Karena itu keparahan dari gejala klinis tidak selalu berhubungan dengan konsentrasi kalsium total (Mercks manual,2008). Sistem imunitas bertugas mengadakan perlawanan terhadap bermacam-macam kuman dan menelan berbagai benda asing yang berada dalam tubuh. Dalam proses membasmi musuh dari luar ini, pertama-tama mengeluarkan tanda bahaya adalah ion kalsium. Kemudian ion kalsium pula yang memberi aba-aba kepada sistem imunitas untuk menangkap musuh. Berbagai macam sel-sel imunitas baru dapat bergerak secara serentak menelan dan membasmi musuh. Dari sisni terlihat pentingnya kalsium dalam sistem imunitas. Begita terjadi kekurangan calcium, kemampuan sistem imunitas akan menurun dan menjadi kacau, sehingga timbul bermacam-macam penyakit seperti LE atau Lupus Eritematopus, rematik, seleroderma, dermatitis, jerawat dan penyakit kulit lainnya. Suplemen kalsium dapat meningkatkan sistem imunitas dan mempunyai efek yang lebih baik dalam pengobatan penyakit ini. Osteoporosis adalah perubahan patologis berupa pengerasan pembuluh nadi, dinding pembuluh menebal dan mengeras, sehingga kehilangan sifat lenturnya dan terjadi penyempitan. Ciri khasnya adalah menimbunnya zat lemak, terbentuknya asam darah dan bertambahnya jaringan serta. Bertambahnya benda sing pada dinding pembuluh ini akan menimbulkan penyumbatan pada pembuluh darah. Dalam proses ini, ion calcium menjadi unsur utama dalam pengerasan pembuluh nadi. Ketika organisme sangat kekurangan calcium, calcium darah akan menurun dan kemudian tubuh akan mengerahkan calcium tulang untuk masuk ke dalam darah. Calcium yang dileburkan dari tulang, mengendap di dalam pembuluh darah dan menarik kolesterol. Zat-zat pada dinding pembuluh darah perlahan-lahan menebal, bertambah keras dan hilanglah kelenturannya. Pengerasan nadi adalah salah satu penyebab hipertensi, penyakit jantung koroner dan penyakit pembuluh darah otak yang sangat mengancam kesehatan manusia. Beberapa tahun belakangan ini, penelitian menunjukkan pada saat penjabaran osteroporosis harus pula ditambah dengan mengkonsumsi unsur calcium. Suplemen calcium bukan saja dapat mencegah dan mengobati osteoporosis dan hipertensi tapi juga mempunyai efek yang nyata dalam menurunkan lemak dalam darah. Hipokalsemia bisa tidak menimbulkan gejala. Seiring dengan berjalannya waktu, hipokalsemia dapat mempengaruhi otak dan menyebabkan gejala-gejala neurologis seperti : - Kebingungan - Kehilangan ingatan ( memori ) - Delirium ( penurunan kesadaran ) - Depresi - Halusinasi - Episodeapneu ( henti bernafas ) - Kejang Gejala tersebut akan menghilang jika kadar kalsium kembali normal. Kadar kalsium yang sangat rendah (kurang dari 7 mgr/dL) dapat menyebabkan nyeri otot dan kesemutan, yang seringkali dirasakan di bibir, lidah, jari-jari tangan dan kaki. Pada kebanyakan hewan yang kadar kalsium dalam darahnya 6 mg/dl maka hewan akan berbaring dan tak sanggup berdiri. Dan akan berakibat fatal jika kadar nya hanya 4 mg/dl (Smith, B. P., 2002). Pada kasus yang berat bisa terjadi kejang otot tenggorokan (menyebabkan sulit bernafas) dan tetani (kejang otot keseluruhan). Bisa terjadi perubahan pada sistem konduksi listrik jantung, yang dapat dilihat pada pemeriksaan EKG. Hipokalsemia juga bisa terjadi akibat hiperfosfatemia (kadar fosfat yang tinggi dalam darah). Hal ini bisa terjadi pada bayi yang lebih besar yang diberikan susu, karena kandungan fosfat dalam susu sangat tinggi. Patogenesis Perubahan-perubahan yang terjadi pada hypocalcemia antara lain ; 1. Pada sistem neuromuskuler Perubahan kadar ion dalam sel dan cairan sekitarnya akan mempengaruhi geraklan maupun tonus otot. Impuls syaraf maupun kontraksi otot dipengaruhi oleh ion Na, Ca, K, dan Mg. Ion-ion Na dan K digunakan untuk memelihara kemampuan membran sel. Ion Ca dan Mg digunakan untuk memelihara permiabilitas sel. Keduanya berperan secara resiprokal pada transisi hantaran syaraf yang akan mempengaruhi pembebasan asetilkholin. Kadar kalsium yang meningkat dan Mg turun, maka asetilkholin akan dibebaskan secara berlebihan. Jika kalsim turun dan Mg meningkat maka akan menghambat pembebasan asetilkholin. Ion Ca dan Mg berpengaruh terhadap kontraksi otot. Terbebasnya ion kalsium ke dalam sarkoplasma akan memacu protein otot, aktin dan miosin sehingga akan menyebabkan kontraksinya serabut otot atau neurofibrin. 1. Ion kalsium akan menghambat pembebasan hormon insulin dari pankreas sehingga terjadi peningkatan glukosa darah yang mengakibatkan gangguan fungsi kardiovaskuler. (Subronto, 2001) 1. Pada jantung Jantung mengemban tugas untuk mempertahankan nyawa. Meski hanya sebesar kepalan tangan, jantung mampu mengantarkan darah setiap saat ke setiap sel dalam tubuh manusia. Kemampuan ini berasal dari kontraksi otot jantung secara terus menerus. Padahal kontraksi dan ekspansi jantung serta penyimpanan dan penggunaan energinya tidak lepas dari pengaruh calcium. Ketika jantung berkontraksi karena perasaan tegang, ion calcium mengendalikan detak jantung, Untuk mengamatinya akan kita temukan bahwa, pada saat calcium memasuki sel, ia akan mengaktifkan protein kontraktif dan menimbulkan rangsangan pada otot jantung. Dengan berulangnya aktifitas seperti ini, maka akan timbul berkali-kali kontraksi pada otot jantung. Saat kadar calcium rendah, daya kontraksi otot jantung akan berkurang. Hal inilah yang menimbulkan berbagai macam penyakit jantung. Pada kondisi seperti ini, apabila kita mencoba memasukkan ion calcium kedalam otot jantung, maka kekuatan otot jantung akan berangsur pulih. Jelas sekali peranan penting calcium dalam denyut jantung. Diagnosa Konsentrasi kalsium abnormal biasanya pertama kali ditemukan pada saat pemeriksaan darah rutin. Karena itu hipokalsemia sering terdiagnosis sebelum gejala-gejalanya muncul. Untuk menentukan penyebabnya, perlu diketahui riwayat lengkap dari keadaan kesehatan penderita, pemeriksaan fisik yang lengkap dan pemeriksaan darah dan air kemih lainnya. Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala, hasil pemeriksaan fisik dan hasil pemeriksaan kadar kalsium dalam darah Pangobatan 300 ml kalsium boroglukonat 10% atau 1,25 bagian obat pada kasus milk fever pada sapi dapat diberikan pada babi yang besar. Babi yang ukurannya kecil, dosisnya dikurangi. Untuk lebih mudahnya kebanyakan diberikan secara intra peritoneal (IP) atan subcutan (SC). Memungkinkan juga diberikan secara intravena (IV) jika sangat diperlukan. Karena berefek pada denyut jantung. Babi akan lebih senang jika diberikan melalui jalur intarmuskuler (IM) dan SC (Hungerford, T. G., 1967). Pemberian kalsium boroglukonat yang ditambahkan senyawa phospat terlarut dengan cara injeksi sub kutan. Garam kalsium mungkin diberikan dengan campuran air dan disterilkan terlebih dahulu sbelum disuntikkan sub kutan di belakang telinga. Untuk pemecahan permasalahan tersebut paling utama harus tersedia senyawa kalsium, phospat dan garam magnesium senagai tambahan (Anthony, 1961). Pengobatan hipokalsemia bervariasi tergantung penyebabnya. Kalsium dapat diberikan baik secara intravena maupun per-oral. Hipokalsemia menahun diperbaiki dengan mengkonsumsi tambahan kalsium per-oral. Mengkonsumsi tambahan vitamin D dapat membantu meningkatkan penyerapan kalsium dari saluran pencernaan ( Anonimus a ). Pada penyakit rakhitis karena kekurangan fitamin D yang menyebabkan gangguan metabolism kalsium, perlu perawatan berlanjut vitamin D dengan dosis tinggi ( Engstrom, C. W et all, 1984 ). Dosis pemberian vitamin D dan kalsium secara oral v Dihydrotachysterol (Hytakerol®) * 0.02- 0.04 mg/kg x 3 hari, kemudian dosis dikurangi 0.01- 0.025 mg/kg untuk 1 minggu * 1,25-Dihydroxyvitamin D3 (calcitrol). (Rocaltrol®) * 0.025 – 0.06 mg/kg/hari v Vitamin D2 (ergocalciferol) (Calciferol®, Drisdol®) * ,000- 6,000 U/Kg/hari, untuk 1-2 minggu kemudian 1,000-2,000 U/Kg/minggu v Oral calcium (digunakan untuk hypocalcemia ringan yang dikombinasi dengan vitamin D) * 24-44 mg calcium/kg/hari yang diberikan 2 – 4 dosis Terapi untuk Hypocalcemia v Eclampsia * kalsium gluconate IV ( 100% Ca gluconate IV dengan dosis 0.5- 1.5 ml/kg (5- 15 mg/kg). Mungkin dosis harus diulang ( catatan- Khloridkalsium digunakan pada 1/3 dosis tanpa extravasasi; Cacl adalah 3 kali lebih kuat, sangat mengiritasi dan akan menyebabkan kerusakan pada jaringan jika diberikan secara ekstravskuler. Ca gluconate diencerkan dalam suatu larutan bersifat garam dengan volume yang sama, diberi SC tiap 6- 8 jam jika tanda klinis persisten. v Chronic Renal Failure (gagal ginjal kronis) * diuresis ( 90- 120 ml/kg/hari,) * diet protein/garam * binder fosfat v Acute Renal Failure (gagal ginjal akut) * diuresis ( 120- 180 ml/kg/hari) * dopamine drip (2 mg/kg/min) * mannitol (jika anuric atau oliguric) * pertukaran elektrolit dan gangguan asam/basa * dialysis v Ethylene Glycol * diuresis * dopamine drip (2 mg/kg/min) * mannitol (if anuric or oliguric) * pertukaran elektrolit dan gangguan asam/basa * dialysis v Acute Pancreatitis * NPO 48 – 96 atau lebih dari 1 jam * IV fluids (60 – 90 ml/kg/hari) v Primary Hypoparathyroidism * Ca Gluconate IV jika diperlukan ( lihat eclampsia untuk dosis dan rute pemberian) * oral vitamin D terapi oral calcium v Nutritional Secondary Hyperparathyroidism * initially, oral calcium supplementation * diet yang benar * membatasi aktivitas untuk mencegah fraktur v Phosphate-Containing Enemas * kalsium gluconate IV ( lihat eclampsia untuk dose/route) (Anonimus b, app.vetconnect.com) Pada hewan monogastric, pemberian calsitriol dapat merangsang penyerapan Ca aktif dari saluran pencernaan terutama usus halus bagian atas. Ca pada pemamah biak dan babi sangat diperlukan pada saat proses laktasi (Anonimus a ). Calsitonin secara injeksi sub kutan dosis 100-200 MRC U sangat manjur, yang berkelanjutan lebih dari 6 bulan tidak menyebabkan reaksi alergi, efek samping, danh hilangnya efek therapeutic ( Shai, et all., 1971 ). Pemberian mineral-10 dosis pengobatan dicampur pada makanan dan air minumnya diberi PIGFET (Nugroho, 1990). Pencegahan Pemberian pakan kering yang dibersihkan pada usia sebelum 1 minggu, hewan di tempatkan pada lingkungan yang mendapat sinar matahari pagi yang mengandung vitamin D ( Miller, E. L, et all, 1964 ). Peningkatan senyawa kalsium ( Ca) pada saat laktasi untuk keseimbangan komponen mineral tubuh (Bristol, R. H, 2004 ). Program pemberantasan cacing 1-2 bulan sekali dengan vermicide (Nugroho, 1990). Anak babi sering diumbar pada tanah terbuka atau dikeluarkan dari kandang sehingga cukup memperoleh sinar matahari dan udara segar serta cukup bergerak (Nugroho, 1990) Pemberian Sumber kalsium bagi ternak : Sumber kaya kalsium yaitu alfafa dan hijauan leguminosa, tetes atau molasses, ampas jeruk, tepung ikan dan hasil ikutan ikan, tepung daging dan tepung tulang, tepung susu dan hasil ikutan susu dan bungkil biji lobak. Bahan suplementasi yaitu tepung tulang, kalsium glukonat, kalsium laktat, dikalsium foafat, dolomite, kapur, rumput laut dan kulit kerang (Sihombing, 2006) Hal lain yang tidak boleh diabaikan adalah komposisi suplemen calcium yang baik harus memiliki sifat-sifat sbb : 1. Kandungan calciumnya tinggi, mudah diserap, efektifitasnya tinggi. 2. Sifat asam basa yang seimbang, tidak ada efek samping dan praktis untuk dibawa dan digunakan. 3. Selain calcium harus pula mengandung asam amino dan nutrisi lain,vitamin dan bebrapa unsur lainnya. Differensial Diagnosa - Asidosis - Defisiensi Magnesium Hasil Penelitian Secara klinis efek metabolik kalsitonin pada babi dapat menimbulkan paget’s disease dan osteoporosis jika metabolismenya tidak seimbang (Shai, F., Richard K. B., et all., 1971). Hiperkeratonemic pada anak babi selama 2 sampai 3 bulan menyebabkan metabolisme glukosa dan D-beta-hydroxybutyrate (D-BHB) dipelajari. Hiperketonemia dan hipokalsemia terjadi jika ada peningkatan D-BHB sebanyak 6-40% (Schlumbohm, C. and J. Harmeyer, 1999). Babi dengan diet defisiensi vitamin D 5-10 kali lipat akan meningkatkan aktivitas 1 alfa hidrosilase dan menyebabkan hipokalsemia berat, plasma 1,25 dihidroksikolikalsiferol turun, plasma 24,25dihidroksikolikalsiferol sangat menurun, dan aktivitas 24 hidroksilae tidak terdeksi (Engstrom, G. W., et all., 1983). DAFTAR PUSTAKA Anonimus a, Hipokalsemia. Medicastore.com Anonimus b, app.vetconnect.com Anonimus c, members.lycos.co.uk/bisnisplan Anthony David J & Lewis E Fordham. 1961. Disease of The Pig 5th edition. Balliere, Tindall & Cox : London Bullock Barbara L & Rosendahl Pearl Philbrock. 1984. Pathophysiology Adaptations & Alterations Function. Little, Brown & Company : United States of America Bristol, R. M. 2004. Hypocalcemia ( Milk Fever )-Is it all about calcium?. ILC Resources, Iowa Cunningham, James G., 2002, Textbook of Veterinary Physiology 3rd, W. B. Saunders : Philadhelpia Engstrom, C. W, Horst, R. L, Reinhardt, T. A and Littledike, E. T. 1984. 25-Hydroxyvitamin D 1α- and 24-Hydroxylase Activities in Pig Kidney Homogenates: Effect of Vitamin D Deficiency. The Journal of Nutrition, 114: 119-126 Hungerford, T. G., 1967, Disease of Livestock,Angus and Robertson : Sydney Merck manual, 2008, Miller, E. R, Ullrey, D. E, Zutaut, C. L, baltzer, B. V, Schmidt, D. A, Vincent, B. H and Luecke, R. W. 1964. Vitamin D2 Requirement of Baby Pig 1,2. The Journal of Nutrition, 83. Mitruka, Brij M., 1981, Clinical Biochemical and Hematological reference Values in Normal experimental animals and Normal Humans 2nd, Year Book Medical Publisher. INC.: Chicago Murray, Robert K., Daryl K. Granner, et all., 2003, Biokimia Harper Edisi 25, EGC : Jakarta Nugroho, E. 1990. Beternak Babi. Eka Offset : Semarang Shai, F, Baker, R. K and Wallach, S. 1971. The Clinical and Metabolic Effect of Porcine Calcitonin on Paget’s Disease of Bone. From the Department of Medicine and the U. S Public Health Service Clinical Research Center, State University of New York, Downstate Medical Center: Brooklyn, New York: 1928-1940 Schlumbohm, C. and J. Harmeyer, 1999, Effect of hypocalcemia on glucose metabolism in hiperketonemic piglets, Departemen of Physiology, School of Veterinary Medicine, Bioschofer Damm 15, 30173 Hannover : Germany Sihombing, M.Sc., Ph.D. 2006. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta Smith, Bradford P., 2002, Large Animal Internal Medicine 3rd, Mosby : London Smith, Milton Atmore, Homas Carlyle Jones, et all., 1967, Veterinary Pathology 4th, Lea & Febiger : Philadelphia Subronto dan Ida Tjahajati, 2001, Ilmu Penyakit Ternak II, Gadjah Mada University Press : Yogyakarta Wooldridge, W. R., 1960, Farm Animals in Health and Disease, Crosby Loockwood & Son, Ltd. : London Category Categories: Penyakit Babi, Ransum Babi | Comments No Comments Kebutuhan dan kegunaan mineral Cr pada babi (Budi Prasetyo) Calendar March 19, 2010 | Posted by saulandsinaga Babi adalah ternak monogastric dan bersifat prolific (banyak anak tiap kelahiran), pertumbuhannya cepat dan dalam umur enam bulan sudah dapat dipasarkan. Selain itu ternak babi efisien dalam mengkonversi berbagai sisa pertanian dan restoran menjadi daging oleh sebab itu memerlukan pakan yang mempunyai protein, energi, mineral dan vitamin yang tinggi (Ensminger, 1991). Contoh bahan pakan yang biasa dipakai di Papua dan NTT : daun dan ubi jalar/kayu, daun2 legum, batang dan buah pisang, cacing tanah, katak/kodok, daun dan buah labu, buah merah, batang talas dan pepaya dimasak dulu, jambu biji, tebu,kangkung, batu kapur, abu tungku, tulang hewan/ikan. (sauland) Pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan, jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah cukup. Awal dari sejarah teknologi pakan mulai berkembang pada saat manusia melakukan penggilingan terhadap padi dan gandum sebagai bahan pokok makanan untuk manusia, yang kemudian hasil ikutanya yang berupa kulit padi atau kulit gandum yang dibuang secara cuma-cuma karena dianggap tidak mempunyai kegunaan yang berarti untuk manusia. (sauland) Yang dimaksud dengan MINERAL sebetulnya adaJah garam-garam anorganik,yang dalam istilah Kimianya dikenal dengan nama Kalion dan Anion. Mineral seperti juga Vitamin sangat dibutuhkan untuk tubuh kita supaya dapatberiungsi normal. (apotek online) Babi secara alami memerlukan unsur-unsur mineral yang diperoleh dari bahan makanan yang berasal dari hijauan dan akar-akar dari dalam tanah. Namun babi yang terkurung akan kekurangan mineral, bila pemberian makanan kurang terjamin. Mineral yang diperlukan babi 1-1,5%. Hal ini bisa diberikan dalam bentuk tepung tulang, tepung ikan, kapur dll. (sauland) Unsur mikro, disebut pula unsur hara, mikro-mineral atau “trace mineral,” adalah mineral-mineral yang dibutuhkan dalam jumlah yang sangat lah sedikit. Sembilan unsur yang sampai kini dianggap esensial, yaitu: Cr, Co, Cu, J, Fe, Mn, Mo, Se dan Zn. (anak peternakan) Contoh dari mineral yang dibutuhkan oleh babi adalah : Kromium (Cr) Kromium untuk pertama kali diketahui sebagai unsur yang esensial, pada tahun 1959, yang diketahui sebagai unsur yang diperlukan dalam metabolisme gula pada tikus dan laboratorium. Dengan demikian, Cr lebih banyak dibicarakan dalam hubungannya dengan “Glukose Toleranse Faktor (G T F), karena sejarah Cr dimulai dari observasi dengan pemberian ransum Torula¬Yeast pada tikus, yang menghasilkan kelainan G T F-nya. Dalam percobaan ini tikus yang kekurangan Cr tidak dapat menggunakan glukose yang diinjeksikan dalam dosis yarig tinggi secepat tikus, yang diberi suplementasi Cr dalam ransumnya. Perhatian terhadap Cr dan GTF bertambah besar pada pertengahan tahun empatpuluhan ketika didemonstrasikan pertambahan toleratlsi, glukose pada manusia dan orang-orang tua, setelah pemberian 150-250 mg Cr¬khloride per hari. Kemudian juga ditunjukkan adanya perbaikan terhadap anak-anak yang menderita malnutrisi dengan suplementasi Cr. Sekarang dapat diduga bahwa Cr adalah esensial bagi semua hewan. Fungsi Fisiologi dan gejala-gejala defisiensi. Terdapat kekurangan pengetahuan kita terhadap metabolisme Cr. Mungkin lebih baik untuk menggolongkan bentuk-bentuk aktip dari GTF menurut kategori yang dapat diterima. GTF adalah mikronutrient yang penting yang mengandung Cr valensi tiga, tetapi ini tidak sesuai dengan diskripsi tentang mineral ataupun vitamin. Ini berbeda dari unsur mikro yang biasanya, dalam hal aktivitas Cr, tergantung dari struktur kimianya. Misalnya GTF bekerja sebagai suatu vitamin dalam tikus yang bunting yaitu untuk transport plasental, dan untuk manusia dewasa yang tidA dapat menggunakan Cr anorganik. Tetapi pada anak-anak yang kekurangan makan, Cr anorganik sangat efektif. Cr dalam bentuknya sebagai GTF menyerupai hormon dalam kerjanya, ini dilepaskan dalam darah sebagai respons terhadap rangsangan insulin. GTF cepat ditransport ke periferi di mana menstimulasi reaksi yang mempercepat penggunaan glukose dalam darah yang apabila tidak ada GTF ini reaksi tersebut berlangsung lebib lambat. Terlihat bahwa ada perbedaan dapatnya disintesa GTF dari Cr, niasin, dan asam amino sehingga akibatnya pengaruh GTF tergantung pada tingkatan pembentukan¬nya. Tidak diketahui di mana GTF disintese, mungkin dalam hati. Apabila ter¬jadi penambahan insulin dalam darah dengan cepat, GTF dilepaskan dan menambah potensi insulin. Gejala-gejala defisiensi terutama berhubungan fungsi GTF. Pada ternak terutama babi yang diberi makan ransum kekurangan Cr menunjukkan pertumbuhan terhambat, degenerasi nekrotik dari hati dan penggunaan glukose yang kurang efisien. Sumber unsur ini tersebar luas di alam dan ragi bir banyak mengandung bentuk aktif Cr secara biologis yaitu GTF. Apakah elemen ini perlu diberikan pada ransum hewan belum diketahui. (anak peternakan) CHROMIUM (Cr) juga dapat membantu pertumbuhan,menurunkan tekanan darah,bekerja sama dengan insulin dalam metabolisme gula.
( Jika anda bersedia untuk mempertahankan blog ini silahkan lihat iklan dari sponsor kami, sebagai donasinya. terima kasih.)

Daftar Pustaka Farmasiku. 2009. Makanan Yang Kita Butuhkan. Artikel ( Sumber : www.faramasiku.com, edisi 2009. Novalina. 2009. Mineral Makro. Artikel Anak Peternakan Blog’s (Sumber : www.blog’s.com, edisi Oktober 2007). Sauland, Sinaga. 2009. Pakan dan Ransum Babi Tambahan. Artikel Produksi Babi ( Sumber : www.wordPress.com, edisi 2009).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar